Jalan Dakwah Sunan Gresik: Jauhkan Pertentangan Islam-Budaya

CNN Indonesia | Kamis, 15/04/2021 09:00 WIB
Sunan Gresik berdakwah dengan menjauhi pertentangan. Ia tak secara tajam menolak kepercayaan masyarakat yang kala itu masih didominasi Hindu-Budha. Ilustrasi Sunan Gresik. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sunan Gresik dalam beberapa literatur tak masuk dalam sembilan wali yang lazim dikenal wali songo. Namun ia dikenal sebagai wali pertama yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Dalam Atlas Walisongo (2017), Agus Sunyoto tak memasukkan Sunan Gresik. Ini lantaran ia masuk Jawa dan hidup sebelum era wali songo dimulai pada abad ke-15 Masehi.

Sunan Gresik adalah ayah dari Raden Rahmat (Sunan Ampel). Nama aslinya Maulana Malik Ibrahim. Dikenal pula dengan Maulana Maghribi. Ada yang bilang ia dari Afrika Utara. Literatur lain menyamakan Sunan Gresik dengan Syaikh Ibrahim Asmarakandi, sehingga diyakini berasal dari Samarkan (Asia Tengah).


Belakangan, sejarawan asal Prancis J.P. Moquette menyebut Sunan Gresik berasal dari Kashan, sebuah daerah di Persia (Iran). Kesimpulan Moquette didapat setelah ia membaca prasasti pada makam Sunan Gresik. Di situ tertulis bahwa Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim meninggal pada Senin, 12 Rabbiul Awwal 822 H (8 April 1419 M), berasal dari Kashan (bi kashan), sebuah tempat di Persia (Iran).

Sri Sumaryoto dalam 9 Sunan (2015), menyebut Maulana Malik adalah saudara dari Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudera Pasai (sekarang Aceh), yang merupakan Kerajaan Islam pertama di Nusantara. Maulana Ishak juga ayah dari Sunan Giri. Maulana Ibrahim dan Maulana Ishak, kata Sumaryoto, adalah anak dari seorang ulama di Persia bernama Maulana Jumadil Kubro, yang diyakini sebagai generasi ke-10 dari Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad Saw.

Jalan Dakwah

Babad Ing Gresik menyebut Maulana Malik Ibrahim kali pertama datang ke Gresik pada 1371 M. Ia datang bersama kerabatnya Maulana Mahpur. Menyebarkan Islam sembari berdagang.

Maulana Malik kemudian langsung dipertemukan dengan Raja Majapahit. Dia diperbolehkan menyebarkan Islam ke masyarakat sambil berdagang. Sunan Gresik kali pertama datang ke sebuah desa bernama Sembalo, Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik. Di sana, sambil berdagang ia kemudian mendirikan masjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.

Sumaryoto dalam versi lainnya menyebut Sunan Gresik datang ke Pulau Jawa pada paruh abad ke-14 atau pada 1392 M. Sebelumnya, ia sempat menetap selama 13 tahun di Cempa (sekarang Kamboja) mulai 1379-1392 M. Di sana, ia menikah dengan putri Raja Cempa dan dikaruniai dua orang anak, Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Selama 13 tahun menetap di Campa, ia kemudian pergi ke Jawa dan meninggalkan keluarganya. 

Sebagai wali generasi awal, Sunan Gresik memberi tonggak penting dalam metode penyebaran Islam di Jawa. Cara itulah yang kemudian diikuti oleh ulama atau wali setelahnya, termasuk anaknya Sunan Ampel.

"Saya kira [Sunan] Gresik yang paling dihormati. Termasuk oleh Demak, karena beberapa konflik di kalangan istana kerajaan di pantai Utara Jawa itu termasuk konflik Demak dengan Pajang, itu diselesaikan dengan tokoh dari Gresik. Selalu begitu," kata Guru Besar sejarah Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Jajat Burhanuddin kepada CNNIndonesia.com.

Rahimsyah dalam Biografi & Legenda Wali Sanga (1997), menyebut Sunan Gresik berdakwah dengan menjauhi pertentangan. Ia tak secara tajam menolak kepercayaan masyarakat yang kala itu masih didominasi Hindu-Budha. Maulana Malik juga dekat dengan masyarakat kelas bawah dan tidak membeda-bedakan golongan.

Namun, selain sebagai ulama, kesuksesan dakwah Sunan Gresik juga didukung oleh perannya sebagai tabib atau dokter. Dia membuka praktik pengobatan gratis untuk masyarakat. Sebagai tabib itulah, kabarnya ia sempat diundang ke Kerajaan Majapahit untuk mengobati istri raja yang diketahui juga beras dari Campa, tempat ia dulu menetap.

(thr/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK