Kemenkes Serukan Jurus 3S untuk Tangkal Hoaks Covid-19

KPCPEN, CNN Indonesia | Kamis, 08/04/2021 11:52 WIB
Kemenkes mengajak masyarakat menerapkan saring sebelum sebar (3S) informasi untuk menghindari penyebaran hoaks terkait Covid-19. Ilustrasi. Kemenkes mengajak masyarakat menerapkan saring sebelum sebar (3S) informasi untuk menghindari penyebaran hoaks terkait Covid-19. (Foto: kaboompics)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penyebaran kabar tak benar atau hoaks terkait vaksin Covid-19 yang sangat merugikan masih terjadi. Hingga Selasa (6/4), ada 154 informasi hoaks yang beredar, mulai dari penularan Covid-19, obat, hingga chip dalam vaksin.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Widyawati mengatakan, pihaknya menyadari isu kesehatan adalah isu spesifik yang membutuhkan keahlian khusus untuk identifikasi hoaks atau bukan.

"Maka dari itu, kami selalu mengimbau masyarakat untuk melakukan saring sebelum sebar (3S)," kata Widyawati dalam Dialog Produktif bertema Melawan
Hoaks dan Misinformasi Vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan pada FMB9ID_IKP, Rabu (7/4).


"Hoaks belakangan memang banyak terkait dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), atau yang terkait dengan vaksinasi Covid-19. Hoaks itu nantinya akan kita telusuri dan olah bersama, karena isu kesehatan perlu ahli untuk klarifikasi. Apabila informasi tersebut salah maka kami luruskan dengan mengadakan konferensi pers dan menyebarkannya di kanal-kanal kami," lanjutnya.

Communication for Development Specialist UNICEF Rizky Ika Syafitri mengungkapkan, WHO menempatkan hoaks sebagai salah satu ancaman global terhadap kesehatan masyarakat. KPCPEN, Satgas Penanganan Covid-19 beserta Kemenkes disebut sampai merasa perlu membuat task force guna menangani hoaks.

"Sedikitnya ada 5 hoaks baru yang tersebar setiap hari, sementara untuk mengklarifikasinya perlu proses. Kalau dilihat secara umum, hoaks vaksinasi sebenarnya berulang. Misalnya tentang KIPI, di tahun 2017-2018 saat Kemenkes melakukan kampanye besar vaksinasi campak rubella dengan target vaksinasi kepada 77 juta anak Indonesia. Salah satu kenapa cakupannya tidak mencapai 95 persen karena hoaks yang beredar," tutur Rizky.

Menurut Rizky, hoaks memiliki dampak yang signifikan terhadap kampanye imunisasi. Sehingga, masyarakat perlu dibekali dengan kemampuan literasi digital agar paham bahwa tidak semua informasi yang bersumber dari internet adalah benar.

Strategi lain yang bisa dilakukan dalam pencegahan penyebaran hoaks terkait Covid-19 adalah mempersiapkan dan memberitahu masyarakat terlebih dahulu bahwa ada pihak-pihak yang tak ingin pandemi tuntas di Indonesia.

"Sehingga saat masyarakat menerima hoaks, mereka sudah tahu jenis-jenis dan tidak terpengaruh dengan hoaks tersebut," katanya.

Bekerja sama dengan UNICEF dan KPCPEN, Kemenkes telah melatih 92 ribu vaksinator untuk berhadapan langsung dengan masyarakat. Para vaksinator juga dibekali kemampuan komunikasi interpersonal yang efektif, sesuai survei UNICEF yang menunjukkan bahwa masyarakat yang tidak mengakses media sosial juga mengetahui hoaks terkait Covid-19.

Untuk itu, dinilai perlu ada pendekatan khusus kepada masyarakat, terutama dari dokter dan tenaga kesehatan. Guna mendapat informasi terbaru yang valid, masyarakat diimbau menjadikan berbagai kanal resmi Kemenkes sebagai rujukan utama, seperti situs sehatnegeriku.kemkes.go.id, YouTube resmi @Kementerian Kesehatan RI, Facebook Kementerian Kesehatan RI, Twitter @KemenkesRI, dan Instagram @kemenkes_ri.

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK