Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Tugas Penanganan Covid-19 memasukkan Kota Tangerang Selatan, Banten sebagai satu-satunya wilayah yang berstatus zona merah penularan virus corona di Pulau Jawa.
Kota Tangsel masuk bersama sembilan kabupaten/kota lain di lima provinsi dengan risiko penyebaran Covid-19 tertinggi. Kota-kota lain itu adalah Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar (Bali); Kota Palangkaraya, Kabupaten Kapuas, dan Kabupaten Barito Timur (Kalimantan Tengah).
Kemudian Kabupaten Tanah Laut (Kalimantan Selatan); Kota Mataram (NTB); dan Kabupaten Belitung (Kep Bangka Belitung).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Alin Hendarlin Mahdaniar mengatakan, status zona merah di Kota Tangsel akibat ada perbedaan data antara daerah dengan pusat. Menurut dia, kasus positif yang tercatat di pusat merupakan kasus lama yang belum disinkronisasikan.
"Hal tersebut yang membuat data di dalam aplikasi NAR (New All Record) dalam minggu ini naik secara signifikan dibandingkan dengan periode sebelumnya," kata Alin dalam keterangannya, Kamis (8/4).
Terkait situasi terkini, CNNIndonesia.com, meminta tanggapan sejumlah warga Tangsel terkait status zona merah di daerah tempat mereka bermukim tersebut. Sebagian besar di antara mereka mengaku tak lagi peduli dan khawatir dengan penyebaran Covid-19.
Salah satu warga yang ditemui di sekitar Pasar Ciputat, Sari (37) menilai status zona merah di Tangsel akibat masyarakat tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan. Menurut dia, kondisi itu karena warga tetap harus melakukan aktivitas.
Ibu tiga anak itu bercerita bahwa masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dulu sempat memukul habis ekonomi keluarganya. Pemasukan suaminya sebagai supir angkot tak mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Akibatnya, ia tak bisa membayar tunggakan sekolah dua anaknya. Sari mengatakan, total tunggakan biaya sekolah anaknya saat ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp5 juta. Biaya sekolah itu belum ia bayar sejak pemerintah mulai membatasi aktivitas masyarakat karena Corona lebih dari setahun lalu.
"Jadi mulai awal corona saya nggak pernah bayar apa-apa di sekolah semua terhitung hutang. Entah kapan bisa kebayar nggak tahu," kata dia, Kamis (8/4).
Meski begitu, Sari mengaku masih merasa beruntung karena beberapa kali masih menerima bantuan sembako untuk makan sehari-hari.
Namun, Sari mengaku mengapresiasi penanganan Covid-19 oleh Pemkot Tangsel. Sebab, dia mengaku masih melihat Satpol PP terjun ke lapangan untuk mengimbau warga terkait penerapan prokes di tempat-tempat umum, seperti pasar maupun sekolah.
 Sari (37), warga Ciputat Tangsel, ibu rumah tangga. (CNN Indonesia/ Thohirin) |
Syahid, satu penjaga kedai kopi di Kecamatan Pamulang, Tangsel mengaku tak khawatir dengan penyebaran Covid-19. Termasuk status zona merah di Tangsel, daerah yang sejak lima bulan terakhir baru ia tinggali.
Pemuda 19 tahun asal Cianjur, Jawa Barat itu berpendapat bahwa corona adalah penyakit yang didatangkan dari Allah. Dan oleh karenanya ia pun memasrahkan
"Kan penyakit datangnya dari Allah, ya kita serahin sama Allah," katanya.
Meski begitu, dia bersama seorang temannya mengaku tetap menerapkan protokol kesehatan di kedai kopi yang ia jaga, seperti menyediakan masker, hand sanitizer, dan ikut aturan pemerintah setempat terkait pembatasan jam buka kedai.
 Situasi di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (8/4/2021). (CNN Indonesia/ Thohirin) |
Warga Tak Acuh Prokes dan Satpol PP Bekerja Keras
Situasi di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (8/4/2021). (CNN Indonesia/ Thohirin)
Pernyataan serupa juga diungkapkan seorang pedagang tahu tempe di Pasar Ciputat, Adi Setiadi. Pemuda 20 tahun itu mengaku tak risau dengan status zona merah di daerahnya.
Adi mengaku juga tak nyaman menerapkan protokol kesehatan dengan masker selama berdagang dan berinteraksi dengan pembeli. Seperti penyakit pada umumnya, Adi berpendapat bahwa virus corona mestinya tak perlu dibuat khawatir. Semakin ditakuti, penyakit kata dia akan mudah menyerang.
"Saya biasa aja. Semakin kita takut semakin penyakit datang. Kita ngapain takut, nggak usah takut biasa di pasar mah," katanya.
Adi juga mengaku tak terlalu memperhatikan terkait penanganan Covid-19 oleh pemerintah setempat. Selain itu, dia menilai warga saat ini juga acuh tak acuh dan tak peduli terkait penerapan protokol kesehatan di tempat publik seperti di pasar.
 Adi Setiadi (20), pedagang tahu tempe di Pasar Ciputat, Tangsel, Banten. (CNN Indonesia/ Thohirin) |
Seorang tukang parkir di minimarket di Kecamatan Pamulang Tangsel, Dodi mengaku tak khawatir dengan status zona merah di daerah tempat tinggalnya. Menurut dia, corona bisa dihindari dengan menerapkan protokol seperti menjaga jarak, menggunakan masker, dan rajin mencuri tangan.
Dodi juga mengapresiasi upaya pemerintah kota Tangsel dalam mengendalikan mobilitas masyarakat. Dia mengaku masih kerap melihat petugas satpol PP yang terjung langsung dan bekerja keras untuk mengimbau warga tetap menerapkan prokes, serta menghindari kerumunan.
Menurut Dodi penularan virus corona tak perlu terlalu dikhawatirkan. Sebab, kekhawatiran justru akan membuat seseorang justru lebih rentan untuk terinfeksi.
"Kita harus diberaniin. Jangan sampai takut. Kalau takut itu bisa dampaknya kena. Bisa ketular, nanti kitanya down," kata dia.