Epidemiolog: Anggota DPR Lampaui Batas soal Vaksin Nusantara

CNN Indonesia | Rabu, 14/04/2021 14:24 WIB
Epidemiolog FKM UI Pandu Riono menyebut para anggota DPR ini juga tak menggunakan akal sehat terkait vaksin Nusantara besutan eks Menkes Terawan Agus Putranto. Epidemiolog menilai anggota DPR telah melampaui batas dan tak menggunakan akal sehat soal vaksin Nusantara. Ilustrasi (ANTARAFOTO/PUSPA PERWITASARI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono menilai sejumlah anggota DPR yang melakukan pengambilan sampel darah sebagai rangkaian dari proses uji klinis vaksin Nusantara telah melampaui batas.

Diketahui, proses penelitian vaksin besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto itu dihentikan sementara sejak pertengahan Maret 2021.

Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hingga hari ini juga belum mengeluarkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis fase II vaksin Nusantara.


"Kalau menurut saya anggota DPR itu sudah melampaui batas. Saya tidak tahu motivasinya apa atau apa yang dijanjikan oleh Terawan dan kawan-kawan ke anggota DPR, sehingga anggota DPR tidak menggunakan akal sehat," kata Pandu kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/4).

Pandu pun tak yakin anggota DPR yang ikut dalam kegiatan itu memahami sepenuhnya konsep vaksin Nusantara menggunakan metode sel dendritik. Menurutnya, DPR belum bisa meletakkan dasar ilmu pengetahuan dan kesehatan di atas kepentingan lain.

Di sisi lain, kata Pandu, BPOM telah mengeluarkan evaluasi vaksin Nusantara yang menunjukkan bahwa vaksin tersebut belum memenuhi kaidah penelitian. Vaksin Nusantara dilaporkan tak melalui uji praklinik terhadap binatang, dan langsung masuk uji klinis I terhadap manusia.

Selain itu, komponen yang digunakan dalam penelitian tak sesuai pharmaceutical grade, kebanyakan impor, dan antigen virus yang digunakan bukan berasal dari virus corona di Indonesia.

"Jadi ini kan suatu ranah ilmu yang hanya dibicarakan oleh ilmuwan. Konsep vaksin dendritik saja tidak menjadi pilihan kok, kalau jadi pilihan mungkin sudah dilakukan di Amerika, jauh sebelum di Indonesia," ujarnya.

Pandu juga mengkritisi konsep vaksin Nusantara yang dinilai tidak cocok untuk pelaksanaan vaksinasi massal. Menurutnya, metode sel dendritik yang bersifat individual tersebut bakal memperlambat proses vaksinasi.

"Konsep itu saja tidak bisa diterima dengan akal sehat dan ilmu pengetahuan. Ya buat apa? mengatasi pandemi kan sudah ada vaksin yang tinggal disuntikkan supaya tubuh langsung membuat antibodi," katanya.

Lebih lanjut, Pandu menilai peneliti Indonesia belum sepenuhnya memahami dan sanggup menciptakan vaksin berbasis sel dendritik. Ia pun mempertanyakan siapa saja yang menjadi tim peneliti dan memproses vaksin Nusantara

Pandu juga tidak yakin sejumlah anggota DPR itu benar-benar mengikuti pengambilan sampel darah untuk pengujian lanjutan dan proses penerimaan vaksin Nusantara.

"Mungkin cuman ngomong saja tapi tidak dilakukan apa-apa, percaya deh," ujarnya.

Sejumlah pihak dilaporkan telah menjalani pengambilan sampel darah yang menjadi metode pelaksanaan vaksin Nusantara, yakni menggunakan pendekatan sel dendritik.

Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie mengaku dirinya yang pertama kali rampung menjalani pengambilan sampel darah terkait vaksin Nusantara. Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo juga ikut melakukan hal serupa.

Pengambilan sampel darah ini juga diikuti oleh sejumlah anggota DPR lintas fraksi. Di antaranya yakni Wakil Ketua Komisi DPR, Sufmi Dasco Ahmad dan Wakil Ketua Komisi IX DPR, Melki Laka Lena.

(khr/fra)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK