Tamansiswa: Nadiem Terlalu Futuristik untuk Pendidikan RI

CNN Indonesia | Rabu, 14/04/2021 14:33 WIB
Tamansiswa menilai ekosistem dan budaya pendidikan di Indonesia belum bisa memenuhi harapan dari kebijakan yang diambil Nadiem setelah setahun lebih menjabat. Tamansiswa menilai ekosistem dan budaya pendidikan di Indonesia belum bisa memenuhi harapan dari kebijakan yang diambil Nadiem setelah setahun lebih menjabat. Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Umum Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa Cahyono Agus menilai pendekatan kebijakan yang diambil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim terlalu futuristik untuk pendidikan Indonesia.

Menurutnya, ekosistem dan budaya pendidikan di Indonesia belum bisa memenuhi harapan dari kebijakan yang diambil Nadiem setelah setahun lebih dirinya menjabat. Implementasi kebijakannya di lapangan dinilai berbeda jauh dari rencana yang dia petakan.

"Saya menghargai pemikiran mas menteri terkait perubahan drastis yang terstruktur, tersistem, futuristik dan sebagainya. Cuma karena berorientasi lebih banyak ke luar negeri dan futuristik, itu ada yang kosong," tutur Cahyono ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (14/4).


Ia menyebut gagasan 'Merdeka Belajar' sebagai contoh. Semenjak ditunjuk Presiden Joko Widodo pada 2019, Nadiem telah menciptakan serangkaian kebijakan yang dibuat dengan tujuan mencapai konsep Merdeka Belajar.

Melalui Merdeka Belajar, Nadiem ingin pendidik dan peserta didik memiliki kebebasan untuk menciptakan inovasi di lingkup pendidikan. Ragam kebijakan yang dia buat pun memiliki esensi memerdekakan pendidik atau peserta didik dalam menentukan pilihan.

Namun Cahyono menilai konsep ini tak bisa dengan begitu saja diterapkan di Indonesia. Ia mengatakan budaya pendidik dan peserta didik saat ini masih butuh diasah untuk memunculkan ekosistem yang mendukung inovasi.

"Ketika dibebaskan, tidak didapati kompetensi yang futuristik seperti yang diharapkan. Karena kondisinya belum seperti di luar negeri, yang bertanggung jawab, serta atmosfer iklim ekosistemnya sudah establish. Di Indonesia itu belum. Lebih banyak cari jalan tikus," katanya.

Sederhananya, sambung dia, pendidikan di Indonesia masih diwarnai budaya menyontek, semangat minim siswa dalam mengikuti kegiatan belajar, sampai pembelajaran yang berorientasi pada nilai.

Sehingga ketika lingkup pendidikan diberikan kebebasan tanpa pendampingan dan pembenahan terkait budaya itu, Cahyono mendapati hal itu sebagai kelemahan yang bisa diberdayakan oknum-oknum pendidik dan peserta didik untuk mendapat nilai setinggi mungkin tanpa proses belajar yang maksimal.

Ia mengakui Merdeka Belajar yang diinginkan Nadiem sesungguhnya konsep yang bagus. Namun untuk mencapai target itu, ia menilai seharusnya ada perbaikan terhadap karakter dan jati diri bangsa. Hal ini menurutnya belum dipahami Nadiem.

"Saat ini masih ada gap (antara ingin membawa perubahan dan realita). Karena jiwa, kebudayaan, kultur dan jati diri bangsa belum tertangani dengan baik," pungkasnya.

Cahyono menilai saat ini pendidikan Indonesia membutuhkan sosok menteri pendidikan dan kebudayaan yang memahami hal tersebut dan punya strategi untuk mempertemukan kebutuhan perubahan pendidikan di masa depan dan kendala implementasinya di lapangan.

Semenjak keputusan Presiden Joko Widodo menggabungkan Kementerian Riset dan Teknologi dengan Kemendikbud mencuat ke publik, isu reshuffle atau kocok ulang kabinet mulai ramai diperbincangkan.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mengatakan Jokowi bakal melantik menteri baru di posisi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud-Ristek) pada reshuffle nanti.

Nadiem sendiri belum banyak bicara terkait visi dan inovasinya di bidang riset semenjak keputusan peleburan kedua kementerian diketok DPR pekan lalu.

Kepala Biro Humas dan Kerjasama Kemendikbud Hendarman juga enggan menjawab terkait kemungkinan Nadiem tergeser sebagai Mendikbud ketika Jokowi mengumumkan reshuffle pekan ini.

"Ditunggu saja ya," tutur Hendarman kepada CNNIndonesia.com.

Menurutnya, Kemendikbud di bawah Nadiem belum membahas terkait peleburan Kemenristek dan Kemendikbud. Ia mengatakan pembahasan masih menunggu arahan presiden.

Hendarman mengatakan pada intinya Kemendikbud menyambut baik segala perubahan yang diupayakan agar Indonesia lebih maju.

"Mari kita tunggu pengumuman resmi oleh bapak presiden terkait penggabungan Kemenristek dan Kemendikbud ini," tambah dia.

(fey/gil)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK