Menko PMK Ikut Waswas Covid-19 Indonesia Senasib dengan India

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 17:58 WIB
Muhadjir Effendy mengatakan pemerintah tengah waspada agar kasus Covid-19 di India tidak terjadi juga di Indonesia jelang Lebaran. Muhadjir Effendy mengatakan pemerintah tengah waspada agar kasus Covid-19 di India tidak terjadi juga di Indonesia jelang Lebaran. (Rusman-Biro Setpres)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy mengaku waswas atas kondisi lonjakan eksponensial kasus Covid-19 yang melanda India. Dengan kondisi global itu, ia menyebut pemerintah tengah waspada agar kasus serupa tidak terjadi di Indonesia.

Muhadjir lantas menyoroti menurunnya protokol kesehatan 3M di masyarakat yang dikhawatirkan dapat menjadi pemantik kembali meningkatnya penularan kasus virus corona yang tinggi di Indonesia.

"Ini yang sangat mengkhawatirkan kita sekarang, pemerintah sangat waspada jangan sampai apa yang terjadi di India itu terjadi juga di negara kita," kata Muhadjir dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal Youtube Badan Perlindungan Konsumen Nasional, Selasa (20/4).


Muhadjir juga berharap mudik Lebaran mendatang tidak menjadi sumber peningkatan kasus corona di Indonesia. Sebab menurutnya, meski pemerintah telah melarang mudik, namun ia meyakini banyak masyarakat yang masih 'nakal' pulang kampung di tengah pandemi.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu lantas merefleksikan angka pemudik pada Lebaran tahun lalu yang berjumlah 73-83 juta orang. Untuk itu, ia tak bisa membayangkan bila pemerintah tidak melakukan rem mudik. Puluhan juta orang bakal berpotensi menciptakan penularan kasus Covid-19 di kampung halaman.

"Tentu saja kita tidak ingin hari raya Lebaran nanti menjadi pemicu utama dari naiknya kasus. Bahwa kemungkinan akan ada kenaikan itu biasanya tak terhindarkan, karena bagaimanapun tingkat ketidakpatuhan untuk mematuhi larangan mudik itu juga tidak 100 persen," ungkapnya.

Relatives of a patient who died of COVID-19, mourn outside a dedicated COVID-19 government hospital in Ahmedabad, India, Saturday, April 17, 2021. The global death toll from the coronavirus topped a staggering 3 million people Saturday amid repeated setbacks in the worldwide vaccination campaign and a deepening crisis in places such as Brazil, India and France. (AP Photo/Ajit Solanki)India dilanda tsunami Covid-19. (AP/Ajit Solanki)

Dengan potensi kenaikan kasus itu, maka Muhadjir mewanti-wanti kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menahan kemauan diri untuk mudik pada Lebaran mendatang. Ia menyayangkan apabila kasus Covid-19 yang sudah berminggu-minggu relatif turun, kemudian bakal melonjak akibat aktivitas pemudik.

"Ini yang sangat mengkhawatirkan kita. Sekarang angka kematian kita relatif landai. Naik tidak, tapi turun juga belum. Ini harus kita syukuri, tetapi juga terus harus punya waspada tinggi," kata Muhadjir.

Senada dengan Muhadjir, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya berharap Indonesia tidak mengalami lonjakan kasus Covid-19 seperti yang dialami India beberapa waktu terakhir.

Budi mengatakan lonjakan kasus di India terjadi saat tren pertambahan kasus menurun. Meski di saat yang sama, program vaksinasi Covid-19 pemerintah India berjalan lancar.

Untuk itu, mantan Direktur Utama Bank Mandiri berharap masyarakat bisa tetap waspada terhadap penularan Covid-19. Dia meminta setiap orang untuk selalu menaati protokol kesehatan dan menerapkan 3M.

India memang menjadi perhatian global usai disebut mengalami 'tsunami Covid-19' dalam beberapa pekan terakhir. Negara berpenduduk 1,3 miliar itu mencapai rekor tertinggi 261.500 kasus baru pada Minggu (18/4).

Lonjakan kasus Covid-19 itu lantas membuat tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) rumah sakit di India penuh. Beberapa rumah sakit sudah mengumumkan pasokan ventilator dan tabung oksigen habis hingga banyak rusak karena terus digunakan tanpa henti untuk merawat pasien corona yang datang dan pergi.

Petugas krematorium dan pemakaman menuturkan jumlah kremasi dan pemakanan jauh lebih banyak dibandingkan data kematian corona yang selama ini dirilis pemerintah.

(khr/pmg)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK