Disnaker DKI Kewalahan Awasi Covid-19 Klaster Kantor Jakarta

CNN Indonesia
Senin, 26 Apr 2021 15:43 WIB
Kadisnaker DKI menilai ada euforia di kalangan warga terkait vaksin, penerpanan WFH yang tak efektif, dan kebosanan terus berdiam diri di rumah selama pandemi. Peringatan penggunaan masker untuk mencegah penularan Covid-19 di kawasan perkantoran Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertrans) DKI , Andri Yansyah angkat suara terkait lonjakan kasus Covid-19 melalui klaster kantor Jakarta dalam sepekan terakhir.

Pemprov DKI sebelumnya mengungkap lonjakan Covid-19 klaster perkantoran dalam periode 12-18 April. Selama periode itu, klaster kantor Jakarta naik hingga 77 dari semula 78 di periode sepekan sebelumnya.

Andri mengaku belum melakukan penelitian lebih detail terkait penyebab lonjakan kasus Covid-19 lewat klaster perkantoran di Ibu Kota. Namun, dia tak menampik sejumlah kemungkinan yang menjadi penyebab lonjakan tersebut mulai dari euforia vaksin, penerapan work from home (WFH) yang tak efektif, hingga kebosanan warga berdiam di rumah.


"Sekali lagi, kita belum melakukan survei secara mendalam terkait hal tersebut. Tapi, mungkin karena vaksin jadi seakan-akan dia sudah kebal. Kedua mungkin karena sudah kelamaan," kata Andri saat dihubungi, Senin (26/4).

Andri menyebut pihaknya akan menambah personel untuk mengawasi penerapan protokol kesehatan di kantor. Dalam beberapa waktu terakhir, ia mengakui fokus pengawasan prokes di kantor melemah seiring sejumlah laporan pegawai selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.

Andri mengaku kewalahan sebab jumlah personel tak cukup untuk melakukan sejumlah hal secara bersamaan. Saat ini, katanya, jajarannya juga tengah fokus menerima pengaduan para pegawai terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) dan THR.

Oleh sebab itu, lanjut Andri, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Satpol-PP, Polri, maupun TNI untuk menambah personel pengawasan prokes di sektor perkantoran.

"Memang di awal-awal bulan suci Ramadhan, banyak sekali pengaduan-pengaduan terkait masalah PHK, apalagi sekarang sudah mulai pengaduan-pengaduan terkait masalah THR," kata dia.

"Jadi memang konsentrasinya kita bagi dua. Satu sebagian kita lakukan pengawasan di lapangan, sebagian lagi kita menindaklanjuti pengaduan para pekerja yang tadi saya sampaikan," imbuhnya.

Sementara itu, Andri mengaku belum membuka kemungkinan untuk kembali menerapkan WFH 100 persen menyusul lonjakan tersebut. Menurut dia, pihaknya perlu berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 dan ahli untuk mengambil keputusan tersebut.

Andri mencatat, selama empat bulan mulai 11 Januari hingga 23 April, total ada 21 perusahaan di Ibu Kota yang dikenai sanksi berupa penutupan karena dinilai melakukan pelanggaran prokes. Selama dalam kurun waktu yang sama, jumlah klaster kantor Jakarta mencapai 2.107 perusahaan.

(dmi/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER