Kiprah Dakwah Sunan Muria, Wali Songo Termuda

CNN Indonesia | Selasa, 04/05/2021 09:15 WIB
Jika sang ayah, Kalijaga terkenal bertapa di tepi sungai hingga ditumbuhi semak belukar, Sunan Muria melakukan Tapa Keli, bertapa menghanyutkan diri di sungai. Ilustrasi Sunan Muria. CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
Jakarta, CNN Indonesia --

Sunan Muria memiliki nama kecil Raden Prawoto. Nama aslinya Raden Umar Said. Ia bertugas menyebarkan Islam di kawasan lereng Gunung Muria, sekitar 18 kilometer utara Kota Kudus, Jawa Tengah.

Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo (2017) mengatakan asal usul Sunan Muria lebih banyak mengacu pada penuturan lisan masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Muria. Sejarah lisan ini cenderung bersifat legendaris.

Beberapa sumber yang ada menyebut Sunan Muria merupakan putra dari Sunan Kalijaga. Namun, sumber-sumber tersebut memiliki perbedaan mendasar dalam merunut silsilah Sunan Muriadari garis ibu.


Meski demikian, sejumlah literatur sama-sama menyebut Sunan Muria sebagai keturunan Arab. Pustoko Darah Agungy ang disusun R. Darmowasito dan diringkas oleh R. Mohammad Yahya Mertowinoto (1969) misalnya, menyebut Sunan Muria masih keturunan Sayyidina Abbas, paman Nabi Muhammad SAW dan putra Abdul Mutholib.

Sebagaimana asal usul Sunan Muria, kisah hidup wali termuda ini pun minim sumber tertulis. Dalam cerita-cerita yang dituturkan masyarakat Gunung Muria, masa belajar Raden Umar Said ini mirip dengan riwayat belajar Sunan Kalijaga. Jika ayahnya terkenal bertapa di tepi sungai selama bertahun-tahun hingga ditumbuhi semak belukar, Sunan Muria melakukan Tapa Keli, bertapa dengan menghanyutkan diri di sungai.

Kiprah Dakwah Sunan Muria

Sebagai putra Sunan Kalijaga, Raden Umar Said banyak melakukan strategi dakwah yang mirip dengan ayahnya. Ia menggunakan pendekatan-pendekatan halus.

Sunan Muria, semisal, kerap berdakwah dengan memainkan carangan atau wayang yang sangat digemari oleh masyarakat penganut Hindu-Budha. Carangan tersebut kemudian diberi sentuhan nuansa Islam.

Strategi ini juga dilakukan dalam memodifikasi tradisi lama masyarakat Hindu-Budha. Tradisi sesajen atau mempersembahkan makanan kepada leluhur, diubah.

Makanan tidak lagi dipersembahkan kepada roh-roh leluhur, melainkan untuk tetangga. Orang yang memiliki suatu hajat mengumpulkan tetangganya, mendoakan leluhur bersama-sama, lalu membagikan makanan untuk tetangganya. Tradisi ini dikenal dengan Kenduri.

Sebagaimana generasi wali songo sebelumnya yang mengembangkan dakwah dengan menciptakan sajak-sajak yang mengikuti jenis tembang (lagu) tertentu untuk berdakwah, Sunan Muria juga melakukan hal yang sama. Ia mengubah sajak dalam dua jenis tembang, yakni Sinom dan Kinanthi.

Guru Besar Pasca Sarjana UIN Walisongo, Semarang, Abdul Djamil mengatakan sebagaimana para wali sebelumnya, dalam dakwah Sunan Muria menghadapi masyarakat Jawa yang masih memegang kepercayaan dan tradisi lama.

Saat itu, masyarakat Jawa masih menganut kepercayaan yang menyembah alam dan banyak dewa (paganisme), paduan berbagai aliran (sinkretisme), kepercayaan terhdap roh pada suatu benda (animisme), dan kepercayaan bahwa segala sesuatu memiliki kekuatan yang menentukan gagal atau berhasilnya usaha manusia (dinamisme).

"Islam datang itu tidak serta merta dakwah dengan cara hitam putih. Jadi mereka lalu melakukan interaksi yang menghasilkan apa yang disebut akulturasi," kata Djamil saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (29/4).

Menurut Djamil, cara dakwah Sunan Muria berbeda dengan cara dakwah beberapa da'i hari ini yang cenderung frontal. Padahal, orang yang menjadi sasaran dakwah memiliki gengsi dan harga diri. Sementara,Sunan Muria dalam dakwahnya bisa berhasil tanpa membuat masyarakat tersinggung.

"Jadi beda dengan cara dakwah sekarang yang acapkali kita melihat dengan cara-cara frontal yang belum tentu berhasil," ujar Djamil.

(iam/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK