Gibran Izinkan Wisatawan ke Solo, SIKM Bukan untuk Piknik

CNN Indonesia | Jumat, 07/05/2021 08:16 WIB
Gibran Rakabuming Raka mengizinkan wisatawan datang ke Solo, namun dia menekankan SIKM hanya untuk perjalanan yang sifatnya penting. Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka mengizinkan wisatawan datang ke Solo, namun dia menekankan SIKM hanya untuk perjalanan yang sifatnya penting. (ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka mengizinkan wisatawan datang ke Solo. Namun dia menekankan surat izin keluar masuk (SIKM) bukan untuk wisatawan, melainkan untuk perjalanan yang sifatnya penting.

"Kalau terpaksa harus bepergian, jadi SIKM ini bukan untuk piknik, tetapi untuk bepergian yang sifatnya 'urgent'," kata Gibran di Solo, dikutip Antara, Kamis (6/5).

Ia menjelaskan beberapa perjalanan yang diwajibkan menggunakan SIKM di antaranya perjalanan dinas yang mendesak, menengok keluarga yang sakit, ibu melahirkan, dan keluarga yang meninggal.


"Silakan koordinasi dengan kelurahan masing-masing," katanya.

Melalui surat edaran terbaru, Gibran telah mengizinkan wisatawan datang ke Kota Solo. Aturan itu tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Surakarta Nomor 067/11309 tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro dan Mengoptimalkan Peran Satuan Tugas Tingkat Kelurahan Untuk Penyebaran Covid-19 di Kota Surakarta.

Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Covid-19 sekaligus Sekretaris Daerah Kota Surakarta Ahyani mengatakan pemerintah daerah memperbolehkan pendatang untuk singgah berwisata di Kota Solo.

Meski demikian, para wisatawan ini harus lolos skrining terlebih dahulu.

"Enggak apa-apa, tetapi mereka harus lewat skrining dulu. Mereka juga diwajibkan untuk tinggal di hotel, penginapan, losmen, atau 'guest house'. Jadi wisatawan tidak singgah ke rumah warga atau mudik di rumah kerabat," katanya.

Selama masa larangan mudik, ia mengatakan nantinya Pemerintah Kota Surakarta tetap akan membuka objek wisata dengan kapasitas 50 persen dari kuota. Ia menyatakan operasionalnya akan dilakukan pengawasan secara ketat.

"Kami juga melarang adanya kegiatan di objek wisata yang berpotensi menimbulkan kerumunan. Kalau seperti tradisi syawalan di Taman Satwa Taru Jurug atau kegiatan yang bersifat kerumunan lainnya belum dulu, paling wisata biasa saja," katanya.

(Antara/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK