Satgas Duga Kematian Covid RI Masih Tinggi Akibat Varian Baru

CNN Indonesia | Jumat, 07/05/2021 13:57 WIB
Selain lambatnya deteksi dan fasilitas kesehatan yang tak optimal, Satgas menduga kematian Covid-19 masih tinggi karena mulai bermunculannya varian baru corona. Lahan permakaman untuk pasien Covid-19 di TPU Srengseng Sawah 2, Jagakarsa. Jakarta Selatan. Senin (15/3/2021). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menduga angka kematian Covid-19 di Indonesia yang relatif masih tinggi di tengah pelandaian kasus bisa saja terjadi salah satunya lantaran mutasi varian virus corona (SARS-CoV-2) yang mulai merebak di Tanah Air.

Pasalnya kini Indonesia mengidentifikasi tujuh varian corona antara lain varian D614G, B117, N439K, E484K, B1525, B1617, dan B1351. Dua di antaranya yakni B117 dan B1351 tercatat sebagai 'Variant of Concern' yang dikhawatirkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"[Kematian tinggi] kita curigai karena ada varian baru timbul akibat mutasi Covid-19," kata Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan Covid-19, Alexander K Ginting saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (16/2).


Sejumlah hasil studi menyebutkan beberapa varian tersebut memiliki kemampuan penularan yang masif, serta memperburuk gejala yang dialami penyintas Covid-19. Bahkan studi juga menduga varian yang menjadi perhatian saat ini mampu menurunkan efektivitas vaksin Covid-19 yang saat ini beredar.

Untuk itu, Alex meminta masyarakat tetap menahan mobilitas di tengah wabah. Alex mewanti-wanti, protokol kesehatan Covid-19 3M merupakan hal penting yang harus jadi perhatian khusus masyarakat.

"Karena mutasi terjadi karena masih tingginya transmisi virus. Dan yang penting jika klinis ada gejala dan perburukan segera berobat. Jangan tunggu hasil laboratorium PCR atau rapid test antigen baru berobat," saran dia.

Terpisah, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyebut tingginya kematian Covid-19 di Indonesia kebanyakan terjadi akibat rendahnya kesadaran masyarakat akan pengobatan ke fasilitas kesehatan.

Menurut Wiku, mayoritas penyintas Covid-19 baru mendatangi fasilitas kesehatan saat kondisi mereka memburuk dan kemudian berujung pada kematian. Selain itu, pelayanan fasilitas rumah sakit yang belum optimal pun ikut menyumbang angka kematian Covid-19 yang masih tinggi.

"Kenapa tinggi kematian? Pasti karena deteksi dininya lambat sehingga waktu dirawat di Rumah Sakit telat, sudah gejala berat atau kritis yang survivalnya makin rendah. Atau juga karena pelayanan Rumah Sakit yang belum optimal," kata Wiku melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Jumat (7/5).

Jubir Satgas Covid Wiku Adisasmito memberikan keterangan penanganancovid-19, Selasa (29/12) / FOTO: Rusman - Biro SetpresJubir Satgas Covid Wiku Adisasmito memberikan keterangan penanganancovid-19, Selasa (29/12). (Biro Setpres/Rusman)

Namun demikian, Wiku mengajak publik untuk tidak hanya melihat Case Fatality Rate (CFR) alias tingkat kematian nasional sebagai parameter, melainkan juga harus memperhatikan sebaran daerah yang menyumbang angka kematian.

Dalam sepekan terakhir, Wiku menyebut Indonesia mengalami kenaikan kematian Covid-19 sebesar 3,7 persen. Adapun lima provinsi penyumbang angka kematian terbanyak yakni Jawa Tengah yang naik 35 kasus dari pekan lalu. Selanjutnya Riau naik 24 kasus kematian, Nusa Tenggara Barat naik 15 kasus, Kepulauan Bangka Belitung naik 13 kasus, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) naik 9 kasus kematian dibandingkan pekan sebelumnya.

"Harus dilihat provinsi mana yang berkontribusi kematian harian yang masih tinggi. Sekarang harus melihat bukan hanya CFR tetapi jumlah kematian harian atau mingguan dan dari provinsi mana," pungkas Wiku.

Berdasarkan data yang dihimpun CNNIndonesia.com dari laporan harian Satgas Penanganan Covid-19. Tercatat kumulatif kematian Covid-19 di Indonesia menurun setiap bulannya, meski tidak signifikan.

Pada Januari ini kumulatif kematian Covid-19 di Indonesia sebesar 7.860 kasus kematian. Kemudian turun di Februari menjadi 6.168 kasus, dan kembali turun pada Maret dengan 4.692 kasus kematian. Pada April juga terpantau turun sedikit menjadi 4.663 kasus, dan pada pekan pertama Mei sudah ada 975 orang dinyatakan meninggal akibat terinfeksi Covid-19.

Rata-rata kematian Covid-19 di Indonesia masih di rentang 100 kasus dalam sehari. Meski kasus konfirmasi positif Covid-19 terus melandai dan stagnan sejak Maret.

Rinciannya, kasus Covid-19 pada Januari berjumlah 335.116 dalam sebulan. Selanjutnya, Februari 256.320 kasus, Maret turun menjadi 177.078 kasus, dan April kembali turun menjadi 156.656 kasus dalam sebulan. Sementara dalam pekan awal Mei, Indonesia menyumbang 28.937 kasus positif Covid-19.

(khr/NMA)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK