Komnas KIPI: Belum Cukup Bukti Pria Tewas Akibat AstraZeneca
CNN Indonesia
Senin, 10 Mei 2021 13:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi jenazah. (Istockphoto/Nito100)
Jakarta, CNN Indonesia --
Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) masih melanjutkan investigasi terhadap kasus kematian Trio Fauqi Virdaus, pria berusia 22 tahun yang meninggal sehari usai menerima suntikan dosis pertama vaksin AstraZenecadi Istora Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (5/5) lalu.
Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Satari menyebut pihaknya telah melakukan investigasi bersama Komisi Daerah (Komda) KIPI DKI Jakarta sejak Jumat (7/5) lalu. Hingga kini, ia menilai belum ada bukti kuat kuat yang membuktikan keterkaitan antara kematian Trio dengan KIPI vaksin AstraZeneca.
"Kesimpulannya ini belum bisa dikaitkan kematian dengan efek vaksinasi AstraZeneca. Jadi kami bersama Komda DKI menelusuri ke dokter yang pernah merawat atau tempat dia [Trio] berobat. Juga dokter yang memeriksa waktu jenazah, apakah ada tanda-tanda lain yang bisa dikaitkan dengan kematian," kata Hindra saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (10/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hindra mengaku telah menerima kronologi dari keluarga korban yang menyebutkan bahwa Trio mengalami KIPI berupa demam, sakit kepala, hingga pegal di tungkai kaki, lima jam lebih setelah vaksinasi. Dengan temuan tersebut, Hindra mencatat KIPI yang dimaksud seperti efek pascavaksinasi yang dialami Trio, namun bukan untuk kesimpulan kematian.
Sebab, menurutnya kasus kematian yang diduga akibat pemberian AstraZeneca yang dilaporkan di negara lain kebanyakan adalah kasus pembekuan darah.
Hindra mengatakan efek pascavaksinasi yang dialami Trio itu bisa saja hanya pegal-pegal di tungkai yang merupakan pembekuan darah, tapi menurutnya tak menimbulkan efek hingga kematian.
"Kalau pembekuan darah di tungkai gejala pegal, tapi tidak menyebabkan kematian. Kalau di perut sakit perut, kalau di paru ada gejala sesak. Data-data ditemukan dari autopsi, karena memang seharusnya diautopsi agar kelihatan kalau ada pembekuan darah," jelasnya.
Hindra mengaku pihaknya sangsi pihak keluarga bersedia jasad Trio untuk diautopsi, karena sudah disemayamkan.
Selain itu, Hindra juga menyayangkan keluarga yang tidak langsung menghubungi narahubung Komda KIPI DKI yang tertera dalam kartu vaksinasi terkait kejadian yang dialami Trio. Dalam hal ini, Trio diketahui merasakan efek sakit pada Rabu (5/5) sore, namun ia baru dibawa ke RSIA Asta Nugraha Jakarta Timur, Kamis (6/5) siang.
Hindra menyebut Trio meninggal sesaat setelah tiba di Rumah Sakit.
"Datang di UGD dokternya mendapatkan beliau sudah tidak ada, pukul 12.15 WIB kalau tidak salah. Dinyatakan death on arrival, karena nafas sudah tidak ada, mata tidak bereaksi terhadap cahaya, pemeriksaan jantung tidak ada denyutnya," katanya.
Hindra mengatakan terkait hal tersebut pun, pihaknya bertanya kepada pihak keluarga Trio apakah mendiang memiliki riwayat penyakit. Pasalnya, RSIA Asta Nugraha itu diketahui sebagai fasilitas kesehatan langganan Trio.
Dan, sambung Hindra, pihak keluarga menjawab, "Bahwa di keluarga kami, sering berobat ke sana dalam hal apapun, bukan hanya serius. Dan, itu [yang kerap didatangi Trio] bukan dokter langganan pribadi, tapi dokter umum."
Kronologi KIPI yang dialami Trio sebelum wafat ada di halaman selanjutnya...
Dihubungi terpisah, Kakak tertua dari Trio, Viki, mengaku adiknya merupakan salah satu pegawai alih daya di salah satu perusahaan BUMN. Alhasil, sambungnya, Trio juga mendapat jatah vaksinasi tahapan kedua pada kategori petugas pelayanan publik.
Ia menceritakan sepulang mendapatkan suntikan vaksinasi, Trio mengeluh sakit kepala yang luar biasa, hingga tengah malam Trio mengalami demam hingga suhu tubuhnya menjadi 39 derajat celcius. Trio, kata Viki, saat itu masih menolak dibawa ke Rumah Sakit dan juga menolak diberikan obat bebas yang tidak sesuai resep dokter.
"Sampai di rumah si Trio bercerita, dia habis vaksin, dan yang dirasakan tidak enak badannya, pusing luar biasa yang dia sampai berteriak," kata Viki kepada CNNIndonesia.com, Senin (10/5).
Selanjutnya pagi Kamis (7/5) pagi hingga siang, kondisi Trio dilaporkan belum membaik. Viki menuturkan bahwa adiknya tersebut malah sempat kejang-kejang dan seperti kehabisan nafas.
Melihat kondisi Trio tersebut, akhirnya pihak keluarga melarikannya ke rumah sakit terdekat. Namun, kata dia, dokter sempat menolak usai keluarga menyebut Trio sakit pascavaksinasi.
Oleh karena itu, Trio kemudian langsung dibawa ke RSIA Asta Nugraha yang juga tak jauh dari rumahnya. Namun saat sampai di UGD, dokter menyatakan Trio telah meninggal dunia saat tiba di Rumah Sakit.
"Rumah sakit yang awal, mereka takut mungkin," duga Viki.
Lebih lanjut, Viki juga mengaku pihaknya masih awam saat itu, ia tak menghubungi kontak tertera di surat vaksinasi melainkan langsung secara mandiri pergi ke rumah sakit langganan keluarganya. Viki juga mengaku sejauh ini tidak ada laporan penyakit penyerta atau komorbid yang diderita adiknya.
Saat itu, Viki juga mengatakan keluarganya langsung mengurusi kematian Trio secara mandiri, tanpa menghubungi pihak Pemprov DKI Jakarta. Ia menyebut orang tuanya khawatir apabila kabar tersebar, jenazah Trio akan diautopsi.
"Kalau masalah autopsi, setelah kejadian kami khawatir rumor beredar di lingkungan, 'nanti jenazah akan diautopsi', sehingga kami tidak lapor ini itu begitu. Harfiahnya seorang bapak dan ibu, mikirnya pasti 'jangan deh, kasihan kalau diautopsi'. Jadi keluarga takut karena kita awam," ungkapnya.
Viki mengatakan, saat ini pihak keluarganya hanya ingin keterangan lebih lanjut dan detail dari pihak penyelenggara vaksinasi, dan juga tenaga kesehatan yang menyuntik vaksin ke Trio kala itu. Viki menyebut ia ingin mengetahui sebenar-benarnya apakah prosedural vaksinasi yang dilakukan terhadap adiknya sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP) atau belum.
Sebab menurutnya sejauh ini, Pemprov DKI Jakarta belum menemui keluarganya secara resmi, sejauh ini baru pihak perusahaan yang memberikan dukungan moril kepada keluarganya. Ia juga menyebut, kemungkinan komunikasi dengan Komda maupun Komnas KIPI dilakukan via telepon melalui adik perempuannya.
"Kami hanya minta dipuaskan, jadi apakah proseduralnya dijalankan dengan baik? kita ingin mendengarkan penjelasan dari pihak yang menyuntik. Karena sudah tiga terakhir tidak ada komunikasi resmi dari pemerintah DKI," pungkas Viki.
Jakarta, CNN Indonesia --
Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) masih melanjutkan investigasi terhadap kasus kematian Trio Fauqi Virdaus, pria berusia 22 tahun yang meninggal sehari usai menerima suntikan dosis pertama vaksin AstraZenecadi Istora Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (5/5) lalu.
Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Satari menyebut pihaknya telah melakukan investigasi bersama Komisi Daerah (Komda) KIPI DKI Jakarta sejak Jumat (7/5) lalu. Hingga kini, ia menilai belum ada bukti kuat kuat yang membuktikan keterkaitan antara kematian Trio dengan KIPI vaksin AstraZeneca.
"Kesimpulannya ini belum bisa dikaitkan kematian dengan efek vaksinasi AstraZeneca. Jadi kami bersama Komda DKI menelusuri ke dokter yang pernah merawat atau tempat dia [Trio] berobat. Juga dokter yang memeriksa waktu jenazah, apakah ada tanda-tanda lain yang bisa dikaitkan dengan kematian," kata Hindra saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (10/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hindra mengaku telah menerima kronologi dari keluarga korban yang menyebutkan bahwa Trio mengalami KIPI berupa demam, sakit kepala, hingga pegal di tungkai kaki, lima jam lebih setelah vaksinasi. Dengan temuan tersebut, Hindra mencatat KIPI yang dimaksud seperti efek pascavaksinasi yang dialami Trio, namun bukan untuk kesimpulan kematian.
Sebab, menurutnya kasus kematian yang diduga akibat pemberian AstraZeneca yang dilaporkan di negara lain kebanyakan adalah kasus pembekuan darah.
Hindra mengatakan efek pascavaksinasi yang dialami Trio itu bisa saja hanya pegal-pegal di tungkai yang merupakan pembekuan darah, tapi menurutnya tak menimbulkan efek hingga kematian.
"Kalau pembekuan darah di tungkai gejala pegal, tapi tidak menyebabkan kematian. Kalau di perut sakit perut, kalau di paru ada gejala sesak. Data-data ditemukan dari autopsi, karena memang seharusnya diautopsi agar kelihatan kalau ada pembekuan darah," jelasnya.
Hindra mengaku pihaknya sangsi pihak keluarga bersedia jasad Trio untuk diautopsi, karena sudah disemayamkan.
Selain itu, Hindra juga menyayangkan keluarga yang tidak langsung menghubungi narahubung Komda KIPI DKI yang tertera dalam kartu vaksinasi terkait kejadian yang dialami Trio. Dalam hal ini, Trio diketahui merasakan efek sakit pada Rabu (5/5) sore, namun ia baru dibawa ke RSIA Asta Nugraha Jakarta Timur, Kamis (6/5) siang.
Hindra menyebut Trio meninggal sesaat setelah tiba di Rumah Sakit.
"Datang di UGD dokternya mendapatkan beliau sudah tidak ada, pukul 12.15 WIB kalau tidak salah. Dinyatakan death on arrival, karena nafas sudah tidak ada, mata tidak bereaksi terhadap cahaya, pemeriksaan jantung tidak ada denyutnya," katanya.
Hindra mengatakan terkait hal tersebut pun, pihaknya bertanya kepada pihak keluarga Trio apakah mendiang memiliki riwayat penyakit. Pasalnya, RSIA Asta Nugraha itu diketahui sebagai fasilitas kesehatan langganan Trio.
Dan, sambung Hindra, pihak keluarga menjawab, "Bahwa di keluarga kami, sering berobat ke sana dalam hal apapun, bukan hanya serius. Dan, itu [yang kerap didatangi Trio] bukan dokter langganan pribadi, tapi dokter umum."
Kronologi KIPI yang dialami Trio sebelum wafat ada di halaman selanjutnya...
Kronologi Kematian Trio versi Keluarga
Vaksin AstraZeneca salah satu yang dipakai untuk penanggulangan Covid-19 di Indonesia. (REUTERS/DADO RUVIC)
Dihubungi terpisah, Kakak tertua dari Trio, Viki, mengaku adiknya merupakan salah satu pegawai alih daya di salah satu perusahaan BUMN. Alhasil, sambungnya, Trio juga mendapat jatah vaksinasi tahapan kedua pada kategori petugas pelayanan publik.
Ia menceritakan sepulang mendapatkan suntikan vaksinasi, Trio mengeluh sakit kepala yang luar biasa, hingga tengah malam Trio mengalami demam hingga suhu tubuhnya menjadi 39 derajat celcius. Trio, kata Viki, saat itu masih menolak dibawa ke Rumah Sakit dan juga menolak diberikan obat bebas yang tidak sesuai resep dokter.
"Sampai di rumah si Trio bercerita, dia habis vaksin, dan yang dirasakan tidak enak badannya, pusing luar biasa yang dia sampai berteriak," kata Viki kepada CNNIndonesia.com, Senin (10/5).
Selanjutnya pagi Kamis (7/5) pagi hingga siang, kondisi Trio dilaporkan belum membaik. Viki menuturkan bahwa adiknya tersebut malah sempat kejang-kejang dan seperti kehabisan nafas.
Melihat kondisi Trio tersebut, akhirnya pihak keluarga melarikannya ke rumah sakit terdekat. Namun, kata dia, dokter sempat menolak usai keluarga menyebut Trio sakit pascavaksinasi.
Oleh karena itu, Trio kemudian langsung dibawa ke RSIA Asta Nugraha yang juga tak jauh dari rumahnya. Namun saat sampai di UGD, dokter menyatakan Trio telah meninggal dunia saat tiba di Rumah Sakit.
"Rumah sakit yang awal, mereka takut mungkin," duga Viki.
Lebih lanjut, Viki juga mengaku pihaknya masih awam saat itu, ia tak menghubungi kontak tertera di surat vaksinasi melainkan langsung secara mandiri pergi ke rumah sakit langganan keluarganya. Viki juga mengaku sejauh ini tidak ada laporan penyakit penyerta atau komorbid yang diderita adiknya.
Saat itu, Viki juga mengatakan keluarganya langsung mengurusi kematian Trio secara mandiri, tanpa menghubungi pihak Pemprov DKI Jakarta. Ia menyebut orang tuanya khawatir apabila kabar tersebar, jenazah Trio akan diautopsi.
"Kalau masalah autopsi, setelah kejadian kami khawatir rumor beredar di lingkungan, 'nanti jenazah akan diautopsi', sehingga kami tidak lapor ini itu begitu. Harfiahnya seorang bapak dan ibu, mikirnya pasti 'jangan deh, kasihan kalau diautopsi'. Jadi keluarga takut karena kita awam," ungkapnya.
Viki mengatakan, saat ini pihak keluarganya hanya ingin keterangan lebih lanjut dan detail dari pihak penyelenggara vaksinasi, dan juga tenaga kesehatan yang menyuntik vaksin ke Trio kala itu. Viki menyebut ia ingin mengetahui sebenar-benarnya apakah prosedural vaksinasi yang dilakukan terhadap adiknya sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP) atau belum.
Sebab menurutnya sejauh ini, Pemprov DKI Jakarta belum menemui keluarganya secara resmi, sejauh ini baru pihak perusahaan yang memberikan dukungan moril kepada keluarganya. Ia juga menyebut, kemungkinan komunikasi dengan Komda maupun Komnas KIPI dilakukan via telepon melalui adik perempuannya.
"Kami hanya minta dipuaskan, jadi apakah proseduralnya dijalankan dengan baik? kita ingin mendengarkan penjelasan dari pihak yang menyuntik. Karena sudah tiga terakhir tidak ada komunikasi resmi dari pemerintah DKI," pungkas Viki.