DPR: Guru Diteror Pinjol Potret Buram Pendidikan

CNN Indonesia | Rabu, 19/05/2021 14:32 WIB
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menilai kasus guru terjerat pinjaman online berakar dari minimnya perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru honorer. Ilustrasi guru mengajar di sekolah (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda menyoroti aksi penagih utang alias debt collector pinjaman online (pinjol) yang membuat seorang guru Taman Kanak-kanak (TK) bernama Melati di Malang, Jawa Timur, hampir bunuh diri.

Menurutnya, peristiwa itu memperlihatkan bahwa perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan, khususnya soal nasib guru honorer masih minim.

"Kasus ini harus ditangkap sebagai potret buram pendidikan di Tanah Air, terutama bagaimana masih minimnya perhatian pemerintah kepada nasib guru honorer," ujar Huda dalam keterangannya, Rabu (19/5).


Ia juga menilai peristiwa itu menjadi cerminan betapa nasib guru honorer dalam memenuhi kebutuhan hidup sangat rentan.

Menurutnya, kasus itu menjadi cerminan nasib guru honorer di Indonesia yang miris karena harus berjibaku untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari hingga peningkatan kapasitas diri dengan nominal gaji yang kecil.

Berangkat dari itu, Huda berjanji akan memperjuangkan kemungkinan pemberian beasiswa agar Melati bisa menyelesaikan pendidikan di jenjang Strata 1.

Selain itu, Huda juga berjanji mencarikan skema terbaik untuk membantu proses penyelesaian belitan hutang Melati di pinjol.

"Kami juga mendapatkan informasi jika penyedia pinjol bagi guru honorer tersebut sebagian besar illegal. OJK dan aparat kepolisian pun telah turun tangan menyelidiki kasus ini. Kami berharap segera ditemukan skema terbaik agar beban hutang dari guru bisa terselesaikan secepat mungkin," katanya.

Lebih jauh, politikus PKB itu berharap pemerintah segera merealisasikan pengangkatan sejuta guru honorer menjadi ASN. Menurut dia, program pengangkatan satu juta guru honorer menjadi ASN masih dalam tahap pendaftaran di Badan Kepegawaian Negara (BKN), sementara proses seleksi akan dilakukan dalam tiga tahap yakni Agustus 2021, Oktober 2021 dan Desember 2021.

"Kami berharap proses tersebut segera dilaksanakan secara fair dan terbuka sehingga memberikan harapan bagi percepatan kesejahteraan para guru honorer," katanya.

Program pengangkatan sejuta guru honorer menjadi ASN, menurutnya, harus diselesaikan tahun ini juga. Namun, ia mengingatkan, program tersebut belum optimal karena formasi guru honorer yang diajukan untuk mengikuti seleksi oleh pemerintah daerah masih berjumlah 530 ribu dari 1 juta slot lowongan yang tersedia.

"Pemerintah harus jamin gaji dan tunjangan mereka full dari APBN sehingga Pemda berani mengurulkan formasi sesuai kebutuhan guru di wilayah masing-masing," katanya.

Sebelumnya, Melati yang berprofesi sebagai Guru TK di Malang mengaku sampai ingin bunuh diri lantaran diteror penagih utang dari pinjaman online.

Pasalnya, debt collector menerornya melalui SMS, WhatsApp, media sosial, hingga menghubungi para teman hingga rekan kerja. Melati pun sampai diberhentikan dari pekerjaan karena dianggap membuat malu TK tempatnya bekerja.

"Kenyataan pahit ini membuat mental saya jatuh dan penderitaan hidup saya semakin berat. Saking beratnya, saya sampai berfikir untuk mengakhiri hidup saya," tutur Melati.

Melati mengaku mulanya pinjaman hanya Rp2,5 juta untuk menutup biaya kuliah S1-nya sebagai syarat mengajar di TK. Awalnya, ia meminjam di satu pinjol, tapi hanya mendapat pinjaman Rp1,8 juta.

Akhirnya, ia mencoba aplikasi pinjol lain, tapi bunga yang besar dan tenor yang pendek membuatnya harus gali lubang, tutup lubang dalam menutup utang-utangnya di beberapa pinjol. Saat ini, ia tengah menempuh upaya penyelesaian hukum dan melapor ke Satgas Investigasi, OJK, hingga Mabes Polri.

(mts/bmw/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK