Pengamat Respons Jokowi: Paham Radikal Tak Perlu Tunggu 5G

CNN Indonesia | Rabu, 02/06/2021 06:40 WIB
Ismail mencontohkan salah satu ideologi transnasional yang berkembang saat ini adalah penyebaran paham ISIS yang nyatanya tak perlu menunggu teknologi 5G. Ilustrasi ISIS. (Laudy Gracivia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menyatakan bahwa penyebaran ideologi transnasional tidak menunggu teknologi 5G.

Pernyataan Ismail itu merespons pidato Presiden Joko Widodo dalam upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, Selasa (1/6). Dalam pidatonya, Jokowi menyatakan bahwa ideologi transnasional dapat berkembang pesat melalui bantuan teknologi 5G.

"Ideologi transnasional sudah (menyebar) lama, enggak perlu nunggu 5G, sekarang pun sudah (menyebar) kan," kata Ismail saat dihubungi, Selasa (1/6).


Ismail mencontohkan, salah satu ideologi transnasional yang berkembang pesat saat ini adalah penyebaran paham ISIS. Menurut Ismail, ISIS tak perlu menunggu teknologi 5G untuk menyebarkan paham mereka.

Sejak lama, ISIS sudah menyebarkan paham mereka melalui media sosial. Padahal, saat itu teknologi 5G belum ada.

"Transnasional itu kan seperti ISIS ya, ideologi-ideologi seperti itu mereka kadang rekrutmen menggunakan video, website, banyak menggunakan medsos seperti Telegram, grup-grup tertentu yang tertutup, untuk baiat, rekrutmen," jelas Ismail.

"Yang dibutuhkan sebetulnya enggak perlu 5G, tapi ada saja. 4G sekarang aja udah cukup buat mereka," imbuhnya.

Menurut Ismail, pemerintah tidak perlu mengkhawatirkan perkembangan teknologi 5G digunakan untuk menyebarkan paham radikal. Justru sebaliknya, pemerintah dapat menggunakan teknologi 5G untuk menangkal penyebaran paham-paham ideologi transnasional atau radikalisme.

Salah satunya dengan cara membuat konten-konten edukatif untuk disebarkan kepada masyarakat. Ia meyakini, dengan masifnya konten edukatif, penyebaran paham maupun ideologi transnasional dapat terbentuk.

"Konten-konten edukatif, pembelajaran, segala macam sehingga mudah menyebar. Daripada konten radikal yang nyebar kan, (lebih baik) konten produktif dibanyakin, mengalahkan konten-konten radikal tadi," ujarnya.

Presiden Jokowi sebelumnya mengungkapkan pesatnya perkembangan ideologi transnasional radikal di tengah perkembangan teknologi. Bahkan, melalui bantuan teknologi 5G, ideologi transnasional radikal bisa menjangkau pelosok Indonesia.

"Ketika konektivitas 5G melanda dunia maka interaksi antar dunia juga akan semakin mudah dan cepat. Kemudahan ini bisa digunakan oleh ideologi-ideologi transnasional radikal untuk merambah ke seluruh pelosok Indonesia, ke seluruh kalangan, dan ke seluruh usia tidak mengenal lokasi dan waktu," ujarnya melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (1/6).

(dmi/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK