Survei: Elektabilitas Demokrat Naik, Diduga Efek Moeldoko

CNN Indonesia | Sabtu, 05/06/2021 15:40 WIB
Survei Parameter Politik Indonesia menunjukkan elektabilitas Partai Demokrat dan PKS naik, diduga berkat KLB Moeldoko dan bela kelompok agama tertentu. Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menikmati peningkatan elektabilitas partainya pasca-KLB. (Antara Foto/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Survei terbaru Parameter Politik Indonesia menunjukkan peningkatan elektabilitas Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat.

Berdasarkan hasil survei terbaru yang dilakukan pada akhir Mei ini, Partai Demokrat berada di posisi keempat dengan elektabilitas 8,4 persen dan PKS di posisi enam dengan 7,5 persen.

Hasil tersebut didapat setelah melakukan survei terhadap 1.200 responden melalui telepolling pada 23-28 Mei lalu dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.


Elektabilitas Demokrat terbilang naik apabila dibandingkan dengan hasil Pemilu 2019 lalu dengan angka 7,77 persen suara nasional.

"Peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada Partai Demokrat dan PKS. Meningkatnya elektabilitas Partai Demokrat disinyalir akibat ingar bingar perseteruan dengan Moeldoko beberapa waktu lalu," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, Sabtu (5/6).

Adi kemudian berkata, "Sementara itu, PKS mendapatkan insentif elektabilitas akibat pembelaan terhadap kelompok Islam yang dinilai dimarjinalkan."

Pada Maret, Partai Demokrat sempat menarik perhatian akibat kisruh internal. Semua bermula ketika Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut ada gerakan pengambilalihan kepemimpinan partai pada Februari.

Ia mengatakan gerakan tersebut dilakukan para elite dan berniat menyelenggarakan Konferensi Luar Biasa (KLB) untuk mengganti pimpinan Partai Demokrat.

Kementerian Hukum dan HAM memilih tak mengesahkan kepengurusan hasil KLB Deliserdang tersebut. AHY pun tetap sah sebagai Ketum.

Selain kedua partai itu, posisi tiga besar berdasarkan survei tersebut ditempati oleh PDIP yang masih memimpin dengan 22,1 persen, disusul Partai Gerindra dengan 11,9 persen, dan Partai Golkar dengan 10,8 persen.

Di posisi kelima ada PKB dengan 8,2 persen, ketujuh ada Nasdem (5 persen), dan diikuti PAN (4,3 persen), PPP (3,5 persen), PSI (1,6 persen), Perindo (1,5 persen), Hanura (0,9 persen), Berkarya (0,5 persen), Gelora (0,4 persen), UMMAT (0,3 persen), PBB (0,1 persen), dan PKPI (0,1) persen.

Adi Prayitno mengatakan faktor ketokohan seperti menyukai Joko Widodo, Prabowo Subianto, dan Susilo Bambang Yudhoyono masih menjadi alasan utama responden memilih partai.

Faktor lainnya adalah citra dan emosional, karena pengaruh keluarga atau lingkungan, faktor sosiologis, dan terakhir faktor rasional.

"Jadi secara sederhana, membangun ketokohan yang kuat dan citra yang baik lebih perlu dilakukan parpol untuk menarik simpati pemilih dibandingkan merumus visi misi dan program yang brilian," kata Adi Prayitno.

Elektabilitas Partai Demokrat sebelumnya juga terlihat meningkat berdasarkan survei Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang dilakukan pada April 2021. Dalam survei, Demokrat berada di posisi kedua, tepat di belakang PDIP, dengan elektabilitas 11,3 persen.

Sebelumnya, sejumlah pengamat menduga kisruh KLB justru akan memberi efek positif bagi elektabilitas Demokrat maupun AHY.

(chri/has/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK