Eijkman: RI Identifikasi 70 Kasus Varian Covid Diwaspadai WHO

CNN Indonesia | Rabu, 09/06/2021 23:44 WIB
Kepala LBM Eijkman memaparkan hingga Rabu (31/5) telah terdeteksi 70 kasus mutasi virus corona di Indonesia, terdiri atas varian India, Inggris, dan Afsel. Ilustrasi. Jemput bola tes usap risiko paparan virus corona menjadi salah satu cara dalam penanggulangan pandemi Covid-19 di Indonesia. (CNN Indonesia / Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman mengungkapkan sejauh ini sudah ada 70 kasus mutasi virus SARS-CoV-2 yang tergolong 'Variant of Concern (VoC)', yang berhasil teridentifikasi di Indonesia berdasarkan hasil Whole Genome Sequence (WGS) secara berkala.

Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio menyebut temuan itu sudah dilaporkan Indonesia ke lembaga Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). GISAID adalah sebuah lembaga bank data yang saat ini menjadi acuan untuk data genom virus corona SARS-CoV-2.

"Data terakhir VoC ada 34 kasus varian B1617 India, 31 kasus B117 Inggris, dan 5 kasus B1351 varian Afrika Selatan," kata Amin melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Rabu (31/5).


Amin menjelaskan, teknik pencarian strain virus baru WGS dilakukan bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, LBM Eijkman dan beberapa Universitas di Indonesia. Amin menyebut saat ini sudah ada 1912 sampel yang sudah dilakukan WGS di Indonesia.

Kendati demikian, Amin tidak merinci sebaran provinsi Indonesia yang sudah mengidentifikasi varian yang diwaspadai dunia ini. Sementara perihal perkembangan hasil sampel pemeriksaan WGS Bangkalan dan Kudus menurutnya belum keluar seluruhnya.

"Sampai dengan kemarin, sudah 1912 WGS yang di-submit. Hasil Bangkalan dan Kudus mungkin dalam beberapa hari ke depan," kata dia.

Dalam hal ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya sudah menetapkan ada empat varian yang masuk dalam kategori VoC, yaitu B117 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan, B1617 dari India dan P1 dari Brasil. Keempat varian ini merupakan jenis yang diwaspadai tingkat penularannya oleh WHO.

VoC merupakan varian yang memiliki peningkatan penularan atau perubahan yang merugikan dalam epidemiologis, memiliki peningkatan virulensi atau perubahan presentasi penyakit klinis, bahkan mampu menurunkan efektivitas vaksin. Hanya saja masih sedikit bukti sehingga perlu penelitian lebih lanjut.

(khr/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK