BMKG Cabut Peringatan Potensi Tsunami Maluku Tengah

CNN Indonesia | Kamis, 17/06/2021 13:00 WIB
Warga Desa Tehoru masih mengungsi ke dataran tinggi meski BMKG telah resmi mencabut peringatan potensi tsunami pasca gempa bumi. Warga pesisir pantai Tehoru, Kecamatan Tehoru, Maluku Tengah mengungsi ke gunung, Rabu, (17/6), (CNN Indonesia/Said)
Ambon, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan imbauan atau arahan terkait potensi tsunami di wilayah sepanjang pantai Japutih hingga pantai Atiahu, Maluku Tengah telah berakhir.

Sebelumnya, BKMG memberikan imbauan kepada masyarakat untuk menjauhi pesisir pantai karena ada potensi tsunami akibat longsor ke atau di bawah laut. Peringatan dikeluarkan usai gempa magnitudo 6,1 di perairan Maluku Tengah, kemarin.

"Arahan (untuk menjauhi pantau) sudah selesai," kata Kepala bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono lewat pesan singkat, Kamis (17/6).


Daryono mengatakan imbauan atau arahan untuk masyarakat ini telah berakhir karena gempa susulan yang terjadi di Maluku Tengah terpantau sudah tak terlalu signifikan.

"Karena hasil monitoring gempa susulannya kecil-kecil," ucap Daryono.

Terpisah, Bupati Maluku Tengah Tuasikal Abu memutuskan tanggap darurat penanganan dampak gempa bumi magnitudo 6,1. Namun, bupati tak merinci berapa lama masa tanggap darurat.

"Hari ini Insya Allah kita tetapkan tanggap darurat, BPBD segera melakukan pendataan rumah rusak," kata Tuasikal, disela-sela tinjau lokasi gempa, Kamis, (17/6).

Di lokasi gempa bupati menengok warga di tenda-tenda pengungsian dan memberikan bantuan. Kepada warga, bupati meminta untuk sementara menjauhi bibir pantai.

"Alhamdulillah warga sudah menyadari dan mereka sementara di tempat ketinggian," ucapnya.

BPBD Maluku Tengah merangkum jumlah warga mengungsi sebanyak 7.227. Sementara 143 rumah rusak akibat diterjang gempa.

"Masing-masing 15 rumah di Yaputi, 70 rumah di Saunolu, 40 rumah di Tehoru dan 18 rumah di Haya," ujar Kepala BPBD Maluku Tengah Abdul Latif Key, Kamis, (17/6).

Sementara Sekretaris Desa Tehoru, Subhan Kinlihu mengatakan warga Desa Tehoru yang mengungsi sebanyak 2.358 orang di 17 titik.

"Kebanyakan yang mengungsi balita berusia 0-5 tahun, anak-anak 5-12 tahun dan warga lansia di atas 60-an tahun,"kata Subhan.

(sai/dis/wis)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK