ANALISIS

Rekor Kasus Covid, Krisis BOR dan Ancaman Ngeri Macam India

CNN Indonesia | Jumat, 25/06/2021 06:52 WIB
Lonjakan kasus harian Covid-19 menembus rekor yakni 20.000 kasus hari ini. Dibutuhkan kerja ekstra keras pemerintah untuk meminimalisir masalah tersebut. Ilustrasi pemakaman jenazah dengan protap covid-19 di Indonesia. (AP/Achmad Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia mencatat 20.574 kasus baru positif Covid-19 pada Kamis (24/6). Angka tersebut merupakan laporan kasus harian Covid-19 tertinggi yang pernah tercatat di Tanah Air.

Kasus paling tinggi sebelumnya tercatat Rabu (23/6) dengan 15.308 kasus, mengungguli kasus baru yang muncul pada 30 Januari 2021 dengan 14.518 kasus.

Grafik menunjukkan kasus corona meningkat sejak Maret 2020 sampai Februari 2021. Lajunya kemudian melandai di Mei 2021, dan kembali meningkat tajam tidak sampai sebulan.


Sebelum rekor tembus 20.000 pada hari ini, Presiden Jokowi menegaskan pihaknya tetap mengutamakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Mikro (PPKM). Dia menuturkan kebijakan itu diambil karena tak mematikan perekonomian rakyat.

"Kenapa memutuskan PPKM mikro? Pemerintah melihat masih jadi kebijakan paling tepat untuk saat ini karena bisa berjalan tanpa mematikan ekonomi rakyat," ungkap Jokowi dalam keterangannya secara virtual, Rabu (23/6).

Pemerintah, katanya, telah mempelajari berbagai opsi penanganan Covid-19 dengan memperhitungkan kondisi sosial, ekonomi, politik Indonesia dan juga pengalaman negara lain.

"Disimpulkan bahwa PPKM mikro masih menjadi cara penanganan yang paling efektif karena dilakukan hingga tingkat terkecil dan dapat berjalan tanpa mematikan ekonomi rakyat," Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito.

Namun, kasus hari ini mungkin belum jadi pertimbangan Presiden atau Satgas.

Epidemiolog dari Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan lonjakan kasus akan terus meningkat pesat jika pemerintah tidak berupaya tegas memutus mata rantai covid-19.

"Kita akan mengalami kenaikan yang curam ya, kalau kurvanya itu hampir 90 derajat, seperti kenaikan tebing. Itu menunjukkan bahwa kita kalau tidak memperbanyak layanan [kesehatan], kita akan seperti di India," katanya ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (24/6).

Pandu menyebut dengan penularan virus yang begitu masif, Indonesia bisa kewalahan menampung pasien covid-19 di rumah sakit. Terlebih saat ini keterisian tempat tidur (BOR) pun mulai kritis di berbagai daerah.

"Ketika pelayanan [kesehatan] nggak bisa menampung lagi orang (pasien covid-19) yang harus dirawat, suatu saat kita akan mengalami seperti itu jika mengantisipasinya seperti sekarang," tuturnya.

Krisis BOR ini melanda di pelbagai wilayah, macam Jakarta. Di rumah sakit rujukan ibu kota, keterisian tempat tidur sudah mencapai 90 persen sedangkan ICU 86 persen. Sedangkan di Jateng, BOR juga sudah mencapai 90 persen. 

Di sisi lain, ia meyakini kondisi ini bisa terjadi karena adanya mutasi corona B.1.617.2 asal India atau yang juga disebut varian Delta. Seperti yang terjadi di India, Pandu menilai kondisi pandemi saat ini disebabkan mutasi tersebut lebih cepat menular.

Menurut Pandu, laju covid-19 di Indonesia dalam beberapa waktu belakangan mengindikasikan jumlah kasus di gelombang kedua akan lebih besar dibanding pada puncak gelombang pertama.

"Kecepatannya akan lebih dahsyat dari yang pertama, kalau dilihat dari kecepatan penularannya. Ini persis seperti pola kenaikan di negara India, cepat sekali," jelas dia.

Perkuat tracing dan testing

Epidemiolog Hermawan Saputra menambahkan upaya penguatan tracing dan testing juga harus dilakukan pemerintah. Ia mengatakan ini diperlukan untuk mengimbangi kebijakan PPKM yang dinilai belum maksimal.

"Pengalaman yang kita lihat, bahwa di lapangan kendali atas perilaku masyarakat itu sangat sulit. Tapi juga di sisi penegakan atau upaya pengendalian covid-19 juga lemah, terutama testing dan tracing," kata dia kepada CNNIndonesia.com.

Hermawan mengatakan sesungguhnya kebijakan PPKM, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), maupun lockdown bisa berjalan efektif jika dilakukan dengan optimal. Menurut dia yang menjadi masalah karena PPKM tidak mampu membendung mobilitas masyarakat dan tidak disertai dengan pelaksanaan pemeriksaan covid-19 yang maksimal.

"Sekarang kasus kita sudah dua juta lebih, dan lebih dari 150 ribu kasus aktif. Rasa-rasanya kejadian masif yang terasa di Jawa  tidak lagi mampu diikuti dengan testing dan tracing. Memang kita terbukti sangat lemah. Itu sebabnya opsi yang terbaik adalah lockdown," tutur Hermawan.

Di balik Istana Negara, bisa jadi Presiden tetap kekeh menjadikan PPKM sebagai senjata lawan Covid-19. Namun, data-data keras hari ini: lonjakan kasus Covid hingga krisis tempat tidur di rumah sakit mungkin bisa mengubah sikap keras sang kepala negara.

(fey/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK