Wali Kota Bobby Copot Camat Medan Maimun

CNN Indonesia
Senin, 05 Jul 2021 20:51 WIB
Wali Kota Medan Bobby Nasution. (CNN Indonesia/Farida)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wali Kota Medan, Bobby Nasution mencopot Muhammad Yasir Rizka dari jabatan Camat Medan Maimun, Muhammad Yasir Rizka. Pencopotan dilakukan karena Yasir Rizka diduga menyalahgunakan kewenangan.

"Benar, itu lagi sebentar saja," kata Bobby, Senin (5/7).

Namun Bobby tidak menjelaskan secara rinci alasan pencopotan itu. Dia menyebutkan Yasir Rizka masih diperiksa oleh inspektorat.


"Karena memang lagi ada kebutuhan dari inspektorat untuk melakukan suatu perihal. Jadi kita berhentikan tugasnya sementara, mudah mudahan bisa cepat lah status nya," ucap Bobby.

Setelah menjabat Wali Kota Medan, Bobby sudah mencopot Edwin Effendi dari jabatan Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan. Sebab Edwin dinilai lambat dalam menangani masalah Covid-19 di Medan.

Untuk sementara, jabatan Kepala Dinas Kesehatan Medan diisi oleh Wakil Direktur RSUD Pirngadi Medan, Syamsul Nasution sebagai pelaksana tugas. Kemudian Bobby mencopot Lurah Sidorame Timur, Hermanto dan Kasi Pembangunan Kelurahan Sidorame Timur, Dina Simanjuntak. Keduanya dicopot karena sering melakukan pungutan liar (pungli). Warga yang menjadi korban lantas melaporkannya ke Bobby.

Pasokan Oksigen Medan

Terkait penanganan pandemi Covid-19 BobbyNasution mengklaim stok oksigen untuk keperluan medis di rumah sakit masih aman. Selain itu mantu Presiden Jokowi itu mengaku terus memantau stok tabung gas oksigen di rumah sakit rujukan Covid.

"Ketersediaan aman semua. Tadi sudah kita cek ke rumah sakit swasta dan rumah sakit kita aman semua. Rumah sakit rujukan Covid ada 60, stoknya terus dipantau," kata Bobby Senin (5/7).

Bobby menyebutkan penggunaan oksigen medis selaras dengan pertumbuhan BOR (bed occupancy rate). Saat ini BOR rumah sakit untuk isolasi di angka 36 persen dan ruang ICU berkisar 4,6 persen.

"Penggunaan tabung oksigen selaras dengan pertumbuhan BOR. Kalau BOR nya meningkat atau banyak pasien di rumah sakit, tentunya penggunaan oksigen akan dibutuhkan lebih banyak lagi. Tapi BOR kita masih stabil. Dan fatality rate kita hari ini 3,6 persen dan untuk positivity rate memang agak masih lebih tinggi sekitar 27 persen dalam jangka waktu 2 minggu terakhir," jelasnya.

Bobby juga menyinggung soal harga oksigen di pasaran. Dia terus memantau harga oksigen medis tidak dimainkan di pasaran.

"Stok kita di seluruh rumah sakit masih banyak. Kalau kita ikut memborong tentunya akan menimbulkan gejolak, makanya kita selalu minta hitung seperti contoh di RSUD dr Pirngadi sebelum Covid stoknya 100-an, ketika masa Covid dinaikkan 100 persen jadi jadi 200. Tapi hingga hari ini stok belum pernah habis, jangan sampai. Kemarin kita sempat 75 persen BOR kita, tapi oksigen tidak ada keluhan," paparnya.

Kelangkaan tabung gas medis terjadi di beberapa pasar di wilayah Jakarta. Kelangkaan ini terjadi lantaran tingginya permintaan tabung gas oksigen di masyarakat, tetapi tidak tahu cara pemakaiannya.

(fnr/ugo)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK