Pilu Desa Merabu, Dilumpuhkan Covid di Pedalaman Kalimantan

CNN Indonesia | Sabtu, 17/07/2021 09:41 WIB
Puluhan orang di sebuah desa pinggiran Indonesia ngos-ngosan menghadapi serangan Covid-19, sementara rumah sakit terdekat berjarak ratusan kilometer. Ilustrasi isolasi mandiri. (iStockphoto/MrJub)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sudah lima hari Franly Aprilamo Oley mengurung diri di salah satu kamar yang berada di rumahnya yang berada di Desa Merabu, salah satu perkampungan yang ada di Kecamatan Kelay, Berau, Kalimantan Timur.

Franly harus menjalani isolasi mandiri setelah hasil Swab PCR yang dia lakukan Senin (12/7) kemarin menyatakan positif Covid-19. Tak ingin menulari anak dan istri, Franly berinisiatif melakukan isolasi mandiri.

Anak dan istrinya dia ungsikan ke kampung sebelah, persis sama dengan yang dilakukan 46 warga lain yang juga dinyatakan positif Covid-19 dan mesti menjalani isolasi mandiri.


"Saya dinyatakan positif itu Senin kemarin. Rasanya kaget campur aduk. Begitu juga warga lain di sini. Langsung semua melakukan isolasi," kata Franly mengawali pembicaraannya dengan CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (16/7).

Suara burung, percikan air sungai di dekat kediamannya, serta lagu-lagu lawas dari radio tua yang disimpan di pojok ruangan jadi saksi beberapa kali napasnya mengap-mengap akibat kondisi yang sempat naik turun setelah virus masuk ke badannya.

"Ya sesekali sempat engap. Ngos-ngosan. Capek sih rasanya," kata Franly.

Belum cukup terpapar Covid-19, Franly juga harus menerima kenyataan Kepala Desanya, Agustinus Karna, meninggal Jumat (16/7) pukul 03.00 waktu setempat.

Karna yang telah menerima perawatan di Rumah Sakit karena kondisinya yang terus menurun akhirnya menyerah. Kepala Desa itu meninggal setelah berperang dengan virus yang ada di tubuhnya.

"Kaget, campur aduk, rasanya sedih. Kepala Desa kami sudah tidak ada gara-gara Covid-19 ini," kata dia.

Franly menjelaskan, saat ini di desa Merabu total ada 47 orang termasuk dirinya yang tengah menjalani isolasi mandiri. Hanya mereka yang ada di kampung.

Warga yang tak terpapar Covid-19 diungsikan ke pondok-pondok ladang di dekat kampung sebelah. Hal ini dilakukan atas kesepakatan bersama, sebab tak ada jalan lain untuk menghentikan penyebaran selain memindahkan warga yang sehat dari desa yang terpapar.


"Warga di sini ada 300-an orang, 48 kena Covid-19 termasuk saya dan Pak Kades yang meninggal. Sisanya diungsikan. Biar tidak tertular lagi," kata Franly.

Tak bisa beraktivitas, kampungnya pun sudah lumpuh sejak dua pekan terakhir. Warga yang biasa berjualan atau bercocok tanam di ladang tak lagi bisa melakukan aktivitas mereka.

Akibatnya, warga banyak yang tak tercukupi kebutuhannya. Franly yang juga merupakan sekretaris desa di kampung tersebut sangat mengetahui kondisi ini.

Memang kata dia, Satgas Covid-19 kecamatan sempat memberi bantuan berupa 20 paket logistik ke warga. Namun semuanya sudah habis dibagikan.

perjuangan warga Desa Merabu lanjut ke halaman sebelah..

Vaksinasi yang Terhambat

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK