Sejarah Kerajaan Banjar dan Jejak Peninggalannya

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 29/07/2021 13:10 WIB
Kerajaan Banjar adalah kerajaan bercorak Islam yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Daha. Berikut sejarah singkat Kerajaan Banjar dan peninggalannya. Kerajaan Banjar adalah kerajaan bercorak Islam yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Daha. Berikut sejarah singkat Kerajaan Banjar dan peninggalannya. (Foto Masjid Sultan Suriansyah: iStockphoto/noegrr)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kerajaan Banjar merupakan kerajaan bercorak Islam sehingga dapat disebut juga sebagai Kesultanan Banjar. Kerajaan Banjar merupakan kelanjutan dari Kerajaan Negara Daha.

Pada waktu itu sebagian besar wilayah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Negara Daha yang menganut Hindu. Kerajaan Daha diyakini di kecamatan Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan.

Secara geografis, Kerajaan Banjar berada di Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas wilayah yang membentang dari Tanjung Sambar hingga Tanjung Aru.


Selama berdirinya Kesultanan Banjar ibu kota atau pusat pemerintahan sempat beberapa kali berpindah.

Ibu kota atau pusat pemerintahan Kesultanan Banjar terakhir berada di Kayu Tangi atau yang disebut Martapura masa kini.


Sejarah Berdirinya Kerajaan Banjar

Umat muslim beribadah di Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (9/5/2019). Masjid Sultan Suriansyah merupakan masjid bersejarah dan salah satu masjid tertua di Kalsel berbahan kayu ulin yang menjadi salah satu tujuan wisata religi di Kalimantan Selatan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/hp.Masjid Sultan Suriansyah menjadi bukti peninggalan berdirinya Kerajaan Banjar pada 1520 hingga 1905 (Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Berdirinya Kesultanan Banjar diawali dengan drama perebutan tanah antara anggota Kerajaan Negara Daha yang saat itu dipimpin oleh Maharaja Sukarama.

Sebelum wafat, Maharaja Sukarama berwasiat agar kelak penggantinya adalah Raden Samudera. Raden Samudera merupakan cucu dari perkawinan putrinya Galuh Intan Sari dan Raden Manteri Jaya.

Menurut Ras Johannes Jacobus dalam Hikayat Banjar (1990), Raden Samudera merupakan Raja Banjarmasin pertama yang memeluk Islam.

Setelah memeluk Islam, Raden Samudera bergelar Sultan Suriansyah. Namun pada saat penunjukan takhta waris oleh Maharaja Sukarama, Raden Samudera masih berusia dini sehingga kedudukan raja diambil oleh para putra Maharaja Sukarama.

Maharaja Sukarama memiliki tiga orang putra yakni Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumenggung, dan Pangeran Bagalung. Naik takhtanya Pangeran Mangkubumi sebagai Raja Negara Daha membuat posisi Raden Samudera terancam.

Bersama pengasuhnya, mereka melarikan diri ke hilir Sungai Barito. Mengetahui Raden Samudera kabur ke sana, Pangeran Mangkubumi pun melakukan pengejaran.

Raden Samudera dan pengikutnya bahkan harus menyamar sebagai nelayan meski penyamarannya terbongkar oleh Patih Masih.

Patih Masih merupakan anggota Kerajaan Bandar Masih. Patih Masih menyarankan Raden Samudera untuk meminta bantuan kepada Kerajaan Demak karena armada perang Kerajaan Bandar Masih tidak begitu kuat.

Raden Samudera bersama pengikutnya lalu pergi ke Kerajaan Demak.

Menurut Slamet Muljana dalam bukunya Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara, kembalinya Raden Samudera ke Kerajaan Bandar Masih membawa puluhan ribu prajurit dan ribuan armada.

Penyerangan Kerajaan Negara Daha saat itu dipimpin oleh Pangeran Tumenggung yang juga Raja Negara Daha menggantikan Pangeran Mangkubumi. Dengan bantuan dari Kesultanan Demak tersebut penyerangan yang dilakukan oleh Kerajaan Negara Daha berhasil diredam.

Dengan bantuan bala tentara yang demikian banyak, Raden Samudera bahkan berhasil mengalahkan Kerajaan Daha Negara yang dipimpin oleh Pangeran Tumenggung.

Kekalahan Kerajaan Negara Daha sekaligus mengakhiri masa kerajaan bercorak Hindu di Kalimantan.

Raden Samudera kemudian memeluk Islam dan menjadi pendiri sekaligus raja pertama di Kerajaan Banjar yang beragama Islam dan bergelar Sultan Suriansyah.

Sebagai pemenang, Sultan Suriansyah kemudian mengambil wilayah bekas kekuasaan Kerajaan Negara Daha.


Puncak Kejayaan dan Penyebab Kemunduran Kerajaan Banjar

Menang perang menguntungkan Kesultanan Banjar. Sebagai kesultanan yang seumur jagung, Kerajaan Banjar banyak mendapatkan upeti dari dari wilayah kekuasaan dan wilayah yang ditaklukannya.

Tidak bisa dimungkiri, berdirinya Kesultanan Banjar berkat supremasi Jawa terhadap Banjarmasin. Terlebih setelah Kesultanan Demak runtuh dan digantikan oleh Kesultanan Pajang, Kesultanan Banjar tidak lagi mengirim upeti ke tanah Jawa.

Hal ini berdampak pada upaya penyerangan Kesultanan dan Kerajaan di Jawa ke Banjarmasin. Sampai akhirnya, kabar soal kemakmuran hasil alam Kesultanan Banjar terdengar oleh Belanda.

Selain supremasi Jawa, kehadiran Belanda di tanah Kalimantan turut menjadi pemicu runtuhnya Kesultanan Banjar.

Usai wafatnya Sultan Suriansyah, kepimpinan Kerajaan Banjar mengalami beberapa kali pergantian pemimpin. Perebutan kekuasaan internal dimanfaatkan Belanda untuk menancapkan dominasinya di tanah Kalimantan.

Pada 11 Juni 1860 Belanda menghapuskan keberadaan Kesultanan Banjar dan menggantinya dengan kerajaan di bawah pengawasan Belanda. Meski demikian, masyarakat Banjar tetap ada dan berakhir pada 24 Januari 1905.

Peninggalan Kesultanan Banjar

Sebagai sebuah Kesultanan besar di Kalimantan, Kerajaan Banjar meninggalkan warisan sejarah yang masih berdiri sampai saat ini, yakni Masjid Sultan Suriansyah dan makam para raja.

(imb/fef)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK