Gubernur Bengkulu: Masyarakat Antre, Vaksinnya Enggak Ada

CNN Indonesia | Kamis, 22/07/2021 13:39 WIB
Gubernur Bengkulu Rohidin menyebut antusiasme masyarakat dan para penyelenggara vaksinasi sudah tinggi. Namun, stok vaksin Covid-19 kosong. Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah mengatakan pihaknya kehabisan stok vaksin Covid-19. Ilustrasi (CNN Indonesia/Adi Maulana)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah mengungkap keterbatasan stok vaksin Covid-19 yang dikirim pemerintah pusat. Pasokan vaksin yang ada tak bisa mengimbangi animo masyarakat yang ingin divaksin.

Rohidin mengatakan antusiasme masyarakat Bengkulu untuk mendapat suntikan vaksin tinggi sehingga menimbulkan antrean .

"Animo masyarakat untuk vaksin sudah tinggi sekali sekarang, ngantre, vaksinnya enggak ada. Ini yang jadi masalah," kata Rohidin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (22/7).


Rohidin menyebut, Pemprov saat ini sudah tak punya persediaan vaksin covid-19 karena stok terakhir telah dikirim ke kabupaten/kota.

Meskipun demikian, ia menyebut vaksinasi Covid-19 di Bengkulu masih bisa dilakukan hingga akhir pekan ini. Namun, penyuntikan tidak bisa dilakukan dalam skala besar.

"Paling (stok vaksin habis) minggu-minggu ini, tapi dijanjikan Kemenkes minggu-minggu ini akan didistribusikan lagi, tapi memang jumlahnya terbatas," ujarnya.

Rohidin menyampaikan hingga saat ini sekitar 400 ribu orang penduduk Bengkulu sudah menerima dosis pertama vaksin Covid-19. Sekitar 300 ribu di antaranya telah mendapat dua dosis vaksin.

Pemerintah merencanakan vaksinasi Covid-19 terhadap 208,3 juta orang penduduk. Rencana itu ditargetkan bisa rampung pada akhir tahun ini.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo meminta seluruh pemerintahan mewujudkan vaksinasi 2 juta orang per hari mulai Agustus 2021. Ia juga menargetkan sejumlah daerah, seperti DKI Jakarta, bisa menyelesaikan 70 persen vaksinasi pada Agustus.

Mantan wali kota Solo itu juga meminta percepat vaksinasi di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Menurutnya, vaksinasi Covid-19 di tiga provinsi Pulau Jawa itu masih di bawah 20 persen.

(dhf/fra)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK