Satgas Soroti Rekor Kematian Covid-19: Tak Bisa Ditoleransi

CNN Indonesia | Kamis, 22/07/2021 19:56 WIB
Satgas Covid menyoroti tingginya jumlah kasus kematian selama sepekan terakhir dan tak bisa menoleransi karena bukan sekadar angka. Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menyoroti angka kematian yang tinggi sepekan terakhir. (Foto: Biro Setpres/Rusman)
Jakarta, CNN Indonesia --

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyoroti tingginya jumlah kasus kematian warga harian yang terinfeksi virus corona selama sepekan terakhir.

Bahkan pada hari ini, Kamis (22/7) kasus kematian mencetak rekor baru sebanyak 1.449 kasus, jumlah itu tertinggi selama pandemi covid-19 menjangkiti Indonesia 16 bulan terakhir.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, tingginya jumlah warga yang meninggal sudah seharusnya tidak dapat ditolerir lagi.


Ia pun meminta agar pemerintah daerah fokus menekan angka kematian warga dengan cara memberikan pelayanan kesehatan preventif, agar warga tidak mengalami gejala yang semakin memburuk dan fatal.

"Ini tidak bisa ditoleransi lagi karena ini bukan sekadar angka. Di dalamnya ada keluarga, kerabat, kolega, dan orang-orang tercinta yang pergi meninggalkan kita," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (22/7).

Wiku mengatakan, dalam sepekan terakhir jumlah penambahan kasus kematian fluktuatif cenderung bertambah, dan konsisten di atas 1.000 kasus lebih per harinya. Rinciannya, pada 16 Juli jumlah penambahan kasus warga yang meninggal akibat covid-19 mencapai 1.205 kasus.

Kemudian 17 Juli turun menjadi 1.092 kasus, 18 Juli naik sedikit menjadi 1.093 kasus, dan pada 19 Juli kembali melonjak menjadi 1.338 kasus kematian dalam sehari.

Selanjutnya pada 20 Juli turun menjadi 1.280 kasus, 21 Juli naik kembali menjadi 1.383 kasus, dan hari ini 22 Juli melonjak dan mencetak rekor baru 1.449 kasus.

"Angka kematian yang cenderung mengalami peningkatan selama tujuh hari terakhir ini patut dijadikan refleksi kita bersama," kata dia.

Lebih lanjut, Wiku pun mendorong agar perkembangan kasus kematian covid-19 mengalami pelandaian seperti pada kasus konfirmasi covid-19 dan kenaikan pada kasus kesembuhan.

Infografis Ciri Pasien Covid Harus ke Rumah SakitInfografis Ciri Pasien Covid Harus ke Rumah Sakit. (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)

Wiku menyebut, kasus covid-19 mulai melandai jika dibandingkan pada 15 Juli yang mencetak rekor kasus sebanyak 56.757 orang yang terkonfirmasi positif covid-19 dalam sehari. Pun dengan angka kesembuhan yang menurutnya konsisten mengalami peningkatan.

Namun demikian, jumlah penambahan kasus harian tersebut juga bergantung pada jumlah tes. Pada 15 Juli jumlah warga yang diperiksa mencapai 185.321 orang, kemudian 16 Juli 179.216 orang, dan 17 Juli 188.551 orang.

Selama periode itu, jumlah kasus yang ditemukan juga tinggi, bahkan rekor pada 15 Juli dengan 56.757 kasus konfirmasi positif covid-19 dalam sehari.

Sementara itu, pada 18 Juli jumlah warga yang diperiksa turun menjadi 138.046 orang, selanjutnya 19 Juli 127.461 orang, 20 Juli 114.674 orang, 21 Juli naik meski tidak signifikan, yakni 116.232 orang yang diperiksa dalam sehari. Namun pada hari ini, 22 Juli, jumlah orang yang diperiksa melonjak menjadi 228.702 warga yang diperiksa.

Adapun dengan penurunan jumlah testing sebelumnya itu, jumlah kasus covid-19 harian juga terlihat mengalami penurunan. Pada 18 Juli misalnya, pemerintah mengumumkan jumlah kasus harian turun menjadi 44.721.

Disusul penurunan pada 19 Juli yang turun mencapai 34.257 kasus, pada 20 Juli terjadi kenaikan kasus meski tidak signifikan, yaitu 38.325 kasus. Kemudian pada 21 Juli kasus turun menjadi 33.772, dan pada hari ini meningkat kembali menjadi 49.509 seiring dengan jumlah testing tertinggi yang mencapai 200 ribu orang per hari.

"Kasus positif yang turun dan kesembuhan yang meningkat harus diikuti dengan kematian yang turun pula," pungkasnya.

(khr/psp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK