LaporCovid-19: 2.313 Meninggal saat Isoman, Jakarta Terbanyak

CNN Indonesia | Kamis, 22/07/2021 16:45 WIB
LaporCovid-19 mencatat sebanyak 2.313 warga positif Covid-19 meninggal saat isolasi mandiri. Sebanyak 1.161 orang di antaranya berdomisili di Jakarta. LaporCovid-19 mencatat sebanyak 2.313 warga positif Covid-19 meninggal saat isolasi mandiri. Sebanyak 1.161 orang di antaranya berdomisili di Jakarta. Ilustrasi (REUTERS/WILLY KURNIAWAN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Komunitas LaporCovid-19 mencatat sebanyak 2.313 warga terpapar virus corona (Covid-19) meninggal dunia saat melakukan isolasi mandiri (isoman). Dari jumlah itu, sebanyak 1.161 orang di antaranya berdomisili di DKI Jakarta.

Data itu dihimpun dari berita daring, Chatbot laporcovid, Instagram, Twitter dan Informasi personal/lembaga. Periode pengumpulan data yakni dari Juni sampai 21 Juli 2021.

"Angka kematian isoman di luar RS sejauh ini ada 2313. Di mana angka 2313 ini adalah sumbangsih rekap lapor covid-19. Di sini akhirnya provinsi yang terbanyak adalah DKI Jakarta bukan Jawa Barat lagi yaitu sebanyak 1.161," kata Data Analyst LaporCovid-19, Said Fariz Hibban di YouTube Lapor Covid 19, Kamis (22/7).


Said mengatakan untuk rekap data pada hari ini, Kamis (22/7) belum rampung. Namun, data sementara yang ditunjukan oleh Said memperlihatkan ada kenaikan kematian saat isoman di DKI Jakarta menjadi 1.214 kasus.

Artinya, dalam jangka waktu kurang dari 24 jam sudah terjadi penambahan 53 orang yang meninggal saat isoman di Jakarta.

Kemudian per hari ini, total kematian di Jawa Barat tercatat 249 kasus, Jawa tengah 141 kasus, DIY Yogyakarta 179 kasus, Jawa timur 72 kasus, dan Banten 68 kasus.

Kemudian di Riau 5 kasus, Kalimantan timur 4 kasus, Lampung 3 kasus,Kepulauan Riau 2 kasus, Kalimantan barat, Sumatera barat, Kepulauan Bangka, Nusa Tenggara Barat, dan Jambi masing-masing satu kasus.

Dalam data yang dipaparkannya, Said memperlihatkan grafik catatan laporan kematian pasien terkonfirmasi ataupun berstatus suspek Covid-19 berdasarkan waktu. Angka tertinggi terjadi pada 29-30 Juni dan 13-14 Juli.

Pada periode 29 Juni sebanyak 42 orang meninggal, sementara pada 30 Juni sebanyak 50 orang meninggal dunia. Sedangkan pada 13-14 Juli sebanyak 42 orang.

Said meyakini jumlah tersebut tidak menunjukkan data asli saat ini. Sebab tidak semua orang melaporkannya ke LaporCovid-19, media sosial, atau diberitakan media massa.

"Bukan berarti ini angka yang sebenarnya tentu akan ada banyak lagi yang belum kami temukan mungkin di provinsi lain," ujarnya.

"Kami mengkhawatirkan, hal ini merupakan fenomena puncak gunung es dan harus segera diantisipasi untuk mencegah semakin banyaknya korban jiwa di luar fasilitas kesehatan," katanya.

Sebelumnya, Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban meminta pemerintah memperbanyak rumah sakit darurat maupun rumah sakit lapangan untuk merawat pasien Covid-19 dengan gejala ringan hingga tanpa gejala atau OTG.

Langkah ini untuk mengantisipasi warga positif Covid-19 meninggal dunia saat isoman. Zibairi mendorong pembangunan RS darurat atau lapangan ini tak hanya di Jakarta, tetapi di sejumlah daerah lainnya.

(yla/fra)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK