Cerita Celana Pendek Gus Dur saat Sapa Pendukung di Istana
CNN Indonesia
Jumat, 23 Jul 2021 18:29 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Gus Dur mengenakan celana pendek saat keluar Istana untuk menyapa pendukung, Senin 23 Juli 2001. (AFP/OKA BUDHI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Wahyu Muryadi masih ingat suatu peristiwa di Istana Merdeka, Jakarta, dua dekade silam, Senin 23 Juli 2001 tepatnya. Kepala Protokoler Istana era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini jadi saksi momen-momen terakhir di Istana.
Salah satu momen yang terus diingat sampai saat ini adalah saat Gus Dur keluar hanya mengenakan celana pendek untuk menyapa pendukungnya. Pada hari itu, Gus Dur baru saja dimakzulkan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari kursi presiden.
Wahyu mengatakan, tidak lama usai Gus Dur dilengserkan, pendukung yang berkumpul di depan Istana makin banyak. Para pendukung berkumpul di depan Istana sejaka beberapa hari sebelum Gus Dur dijatuhkan dari kursi kepresidenan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namanya macam-macam, ada pasukan berani mati, pembela Gus Dur. Mereka bersama-sama memberikan dukungan untuk Gus Dur yang bukan hanya presiden bagi mereka, tapi juga kiai, yang diyakini tidak melakukan tindak kejahatan," kata Wahyu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (23/7).
Wahyu mengatakan, para pendukung yakin proses pemakzulan Gus Dur tidak sesuai dengan konstitusi.
Wahyu bercerita, saat itu, Gus Dur sudah meminta pendukungnya untuk tidak datang ke Istana. Gus Dur mengatakan tempat yang tepat untuk melakukan demonstrasi adalah di Gedung DPR/MPR Senayan.
Namun para pendukung Gus Dur ini diadang sehingga tak bisa berdemo di Kawasan DPR/MPR.
"Secara prinsip kan kita tidak ingin ada pertumpahan darah. Sampai akhirnya mereka lama bercokol di (jalan) depan Istana Merdeka" ujarnya.
Wahyu mengatakan, di luar Istana, para pendukung Gus Dur tidak henti-hentinya meneriakkan dukungan. Di sisi lain, ia juga mengaku mendengar kabar bahwa moncong meriam pasukan TNI diarahkan ke Istana. Belum lagi ada kelompok lain yang justru menentang Gus Dur sehingga berpotensi ada gesekan.
Namun meski suasana tegang, di dalam istana justru masih ada kesan santai.
"Seingat saya kami lagi makan malam, seperti biasa. Gus dur orangnya kan sangat santai, hari-hari itu bukan pake kaos oblong, pake kaos kerah waktu itu, saya masih ingat warnanya, pakai celana pendek," ujarnya.
Ia mengatakan ketika tengah makan malam itu, teriakan dukungan dari luar Istana semakin kencang hingga terdengar ke dalam. Gus Dur, kata dia, lalu berniat untuk menemui dan menyapa para pendukungnya.
"Beliau terus kemudian bergegas mau say hi istilahnya, lalu bilang ke ajudan, ingin mau menemui masyarakat di luar itu," ujarnya.
Wahyu menceritakan, ketika itu, terjadi kesalahan komunikasi antara Gus Dur dengan ajudannya, yakni Kolonel Sukirno. Menurut Wahyu, Gus Dur bermaksud untuk ke kamar terlebih dahulu mengganti pakaiannya.
Namun ajudan menafsirkan lain dan menuntun Gus Dur untuk keluar teras istana.
"Maksud Gus Dur itu ya ke kamar dulu, ganti celana, atau pakai sarung gitu, tapi ajudan saat itu, saya ingat yang bimbing Pak Kirno, dituntun. Pak Kirno mungkin segan bertanya mau kemana, dikiranya mau langsung menyambut, padahal maksud Gus Dur ke kamar," ujarnya.
Ia mengatakan, sebelum keluar, beberapa orang terdekat Gus Dur sebenarnya sempat mengarahkan untuk mengganti pakaian. Namun menurutnya, Gus Dur mengatakan tidak perlu lantaran hanya ingin menyapa pendukungnya.
"Enggak usah, wis kadung. Tidak apa apa cuma say hi aja," kata Wahyu menirukan ucapan Gus Dur waktu itu.
Ia mengatakan tidak ada maksud dari Gus Dur untuk melecehkan siapapun dengan memakai celana pendek dan kaos saat menyapa pendukungnya itu.
"Orang kemudian beranggapan Gus Dur kok melecehkan istana, enggak ada maksud sama sekali untuk itu, beliau mau kepraktisan aja, karena salah komunikasi, dikira ke kamar mau ganti, ternyata keluar, ya wis kadung. Itu aja," ujar Wahyu.
Menurutnya, meski hanya ditemui dan disapa beberapa menit, tindakan Gus Dur itu telah menenangkan hati para pendukungnya. Dengan begitu, peristiwa yang tidak diinginkan tidak terjadi.
"Membuat para pendukung langsung tenang dan senang. Tenang mereka dalam artian tidak buat kerusakan apalagi sampai jadi martir, dan senang karena ketemu tokoh idola mereka," ujarnya.
Salah satu Putri Gus Dur, Alissa Qotrunnada Wahid juga mengatakan hal serupa. Menurutnya, pihak keluarga sempat mengarahkan Gus Dur untuk ke kamar dulu sebelum menyapa pendukungnya.
"Beliau enggak mau. 'Udah begini aja, enggak apa-apa'. Gus Dur itu kan sangat tidak terjebak dengan hal-hal luar, yang sifatnya lahiriah, enggak pernah terjebak oleh hal seperti itu. Ya udah, kami memang melihat sejatinya Gus Dur seperti itu," ujar Alissa kepada CNNIndonesia.com.
Saat itu, menurutnya, bagi Gus Dur yang terpenting adalah mengapresiasi pendukung yang datang untuk mendoakannya.
Ssmentara Putri Gus Dur lainnya, Yenny Wahid, yang saat itu ikut menuntun Gus Dur menceritakan, Gus Dur memang sempat keluar sekali untuk menyapa para pendukungnya.
"Tapi kemudian masuk lagi, ganti baju. Kita mau istirahat. Protokol Kepresidenan Pak Wahyu Muryadi bilang, itu teman wartawan minta lagi karena belum dapat fotonya. Ya sudah ayo," ujar Yenny.
Usai dimakzulkan pada 23 Juli 2001, Gus Dur tak serta merta meninggalkan Istana. Ia sempat tinggal selama dua hari sebelum pada 25 Juli benar-benar keluar Istana untuk berobat ke Amerika.
Sejak saat itu Gus Dur tak kembali ke Istana Kepresidenan setelah posisinya digantikan wakilnya saat itu, Megawati Soekarnoputri, yang juga Ketua Umum PDIP sampai sekarang.
Ada momen lucu saat Gus Dur meninggalkan Istana. Mantan staf pribadi Priyo Sambadha mengatakan, Gus Dur meninggalkan Istana berdasarkan surat perintah yang dikeluarkan Lurah Gambir saat itu.
Gus Dur sendiri yang meminta Lurah Gambir membuat surat pengosongan Istana. Priyo yang diutus Gus Dur untuk menemui sang lurah dan meminta surat tersebut.
"Saya bilang "Pak lurah izin mohon saya ditugaskan sama pak presiden buat minta surat pindah,". Pak lurahnya heran," Ah masa sih?" Lucu sekali waktu itu. Akhirnya dikasih. Saya ingat wajah pak lurah itu terkejut," kata Priyo kepada CNNIndonesia.com.
Mantan juru bicara Gus Dur, Adhie Massardi mengatakan alasan Gus Dur meminta surat dari Lurah Gambir untuk pindah dan mengosongkan Istana karena memegang prinsipnya atas Sidang Istimewa yang tidak sah. Gus Dur, kata Massardi, enggan keluar dari Istana hanya karena hasil Sidang Istimewa.
"Akhirnya mencari jalan lain, caranya dengan minta surat perintah dari Lurah Gambir. Minta untuk keluar dari Istana. Kan, statusnya Gus Dur juga sebagai warga kelurahan. Kita harus nurut kepada RT atau Lurah juga," kata Adhi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Wahyu Muryadi masih ingat suatu peristiwa di Istana Merdeka, Jakarta, dua dekade silam, Senin 23 Juli 2001 tepatnya. Kepala Protokoler Istana era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini jadi saksi momen-momen terakhir di Istana.
Salah satu momen yang terus diingat sampai saat ini adalah saat Gus Dur keluar hanya mengenakan celana pendek untuk menyapa pendukungnya. Pada hari itu, Gus Dur baru saja dimakzulkan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari kursi presiden.
Wahyu mengatakan, tidak lama usai Gus Dur dilengserkan, pendukung yang berkumpul di depan Istana makin banyak. Para pendukung berkumpul di depan Istana sejaka beberapa hari sebelum Gus Dur dijatuhkan dari kursi kepresidenan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namanya macam-macam, ada pasukan berani mati, pembela Gus Dur. Mereka bersama-sama memberikan dukungan untuk Gus Dur yang bukan hanya presiden bagi mereka, tapi juga kiai, yang diyakini tidak melakukan tindak kejahatan," kata Wahyu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (23/7).
Wahyu mengatakan, para pendukung yakin proses pemakzulan Gus Dur tidak sesuai dengan konstitusi.
Wahyu bercerita, saat itu, Gus Dur sudah meminta pendukungnya untuk tidak datang ke Istana. Gus Dur mengatakan tempat yang tepat untuk melakukan demonstrasi adalah di Gedung DPR/MPR Senayan.
Namun para pendukung Gus Dur ini diadang sehingga tak bisa berdemo di Kawasan DPR/MPR.
"Secara prinsip kan kita tidak ingin ada pertumpahan darah. Sampai akhirnya mereka lama bercokol di (jalan) depan Istana Merdeka" ujarnya.
Wahyu mengatakan, di luar Istana, para pendukung Gus Dur tidak henti-hentinya meneriakkan dukungan. Di sisi lain, ia juga mengaku mendengar kabar bahwa moncong meriam pasukan TNI diarahkan ke Istana. Belum lagi ada kelompok lain yang justru menentang Gus Dur sehingga berpotensi ada gesekan.
Namun meski suasana tegang, di dalam istana justru masih ada kesan santai.
"Seingat saya kami lagi makan malam, seperti biasa. Gus dur orangnya kan sangat santai, hari-hari itu bukan pake kaos oblong, pake kaos kerah waktu itu, saya masih ingat warnanya, pakai celana pendek," ujarnya.
Ia mengatakan ketika tengah makan malam itu, teriakan dukungan dari luar Istana semakin kencang hingga terdengar ke dalam. Gus Dur, kata dia, lalu berniat untuk menemui dan menyapa para pendukungnya.
"Beliau terus kemudian bergegas mau say hi istilahnya, lalu bilang ke ajudan, ingin mau menemui masyarakat di luar itu," ujarnya.
Wahyu menceritakan, ketika itu, terjadi kesalahan komunikasi antara Gus Dur dengan ajudannya, yakni Kolonel Sukirno. Menurut Wahyu, Gus Dur bermaksud untuk ke kamar terlebih dahulu mengganti pakaiannya.
Namun ajudan menafsirkan lain dan menuntun Gus Dur untuk keluar teras istana.
"Maksud Gus Dur itu ya ke kamar dulu, ganti celana, atau pakai sarung gitu, tapi ajudan saat itu, saya ingat yang bimbing Pak Kirno, dituntun. Pak Kirno mungkin segan bertanya mau kemana, dikiranya mau langsung menyambut, padahal maksud Gus Dur ke kamar," ujarnya.
Ia mengatakan, sebelum keluar, beberapa orang terdekat Gus Dur sebenarnya sempat mengarahkan untuk mengganti pakaian. Namun menurutnya, Gus Dur mengatakan tidak perlu lantaran hanya ingin menyapa pendukungnya.
"Enggak usah, wis kadung. Tidak apa apa cuma say hi aja," kata Wahyu menirukan ucapan Gus Dur waktu itu.
Ia mengatakan tidak ada maksud dari Gus Dur untuk melecehkan siapapun dengan memakai celana pendek dan kaos saat menyapa pendukungnya itu.
"Orang kemudian beranggapan Gus Dur kok melecehkan istana, enggak ada maksud sama sekali untuk itu, beliau mau kepraktisan aja, karena salah komunikasi, dikira ke kamar mau ganti, ternyata keluar, ya wis kadung. Itu aja," ujar Wahyu.
Menurutnya, meski hanya ditemui dan disapa beberapa menit, tindakan Gus Dur itu telah menenangkan hati para pendukungnya. Dengan begitu, peristiwa yang tidak diinginkan tidak terjadi.
"Membuat para pendukung langsung tenang dan senang. Tenang mereka dalam artian tidak buat kerusakan apalagi sampai jadi martir, dan senang karena ketemu tokoh idola mereka," ujarnya.
Gus Dur Ingin Tampil Apa Adanya
Suasana depan istana setelah Gus Dur dimakzulkan MPR. (AFP/CHOO YOUN-KONG)
Salah satu Putri Gus Dur, Alissa Qotrunnada Wahid juga mengatakan hal serupa. Menurutnya, pihak keluarga sempat mengarahkan Gus Dur untuk ke kamar dulu sebelum menyapa pendukungnya.
"Beliau enggak mau. 'Udah begini aja, enggak apa-apa'. Gus Dur itu kan sangat tidak terjebak dengan hal-hal luar, yang sifatnya lahiriah, enggak pernah terjebak oleh hal seperti itu. Ya udah, kami memang melihat sejatinya Gus Dur seperti itu," ujar Alissa kepada CNNIndonesia.com.
Saat itu, menurutnya, bagi Gus Dur yang terpenting adalah mengapresiasi pendukung yang datang untuk mendoakannya.
Ssmentara Putri Gus Dur lainnya, Yenny Wahid, yang saat itu ikut menuntun Gus Dur menceritakan, Gus Dur memang sempat keluar sekali untuk menyapa para pendukungnya.
"Tapi kemudian masuk lagi, ganti baju. Kita mau istirahat. Protokol Kepresidenan Pak Wahyu Muryadi bilang, itu teman wartawan minta lagi karena belum dapat fotonya. Ya sudah ayo," ujar Yenny.
Usai dimakzulkan pada 23 Juli 2001, Gus Dur tak serta merta meninggalkan Istana. Ia sempat tinggal selama dua hari sebelum pada 25 Juli benar-benar keluar Istana untuk berobat ke Amerika.
Sejak saat itu Gus Dur tak kembali ke Istana Kepresidenan setelah posisinya digantikan wakilnya saat itu, Megawati Soekarnoputri, yang juga Ketua Umum PDIP sampai sekarang.
Ada momen lucu saat Gus Dur meninggalkan Istana. Mantan staf pribadi Priyo Sambadha mengatakan, Gus Dur meninggalkan Istana berdasarkan surat perintah yang dikeluarkan Lurah Gambir saat itu.
Gus Dur sendiri yang meminta Lurah Gambir membuat surat pengosongan Istana. Priyo yang diutus Gus Dur untuk menemui sang lurah dan meminta surat tersebut.
"Saya bilang "Pak lurah izin mohon saya ditugaskan sama pak presiden buat minta surat pindah,". Pak lurahnya heran," Ah masa sih?" Lucu sekali waktu itu. Akhirnya dikasih. Saya ingat wajah pak lurah itu terkejut," kata Priyo kepada CNNIndonesia.com.
Mantan juru bicara Gus Dur, Adhie Massardi mengatakan alasan Gus Dur meminta surat dari Lurah Gambir untuk pindah dan mengosongkan Istana karena memegang prinsipnya atas Sidang Istimewa yang tidak sah. Gus Dur, kata Massardi, enggan keluar dari Istana hanya karena hasil Sidang Istimewa.
"Akhirnya mencari jalan lain, caranya dengan minta surat perintah dari Lurah Gambir. Minta untuk keluar dari Istana. Kan, statusnya Gus Dur juga sebagai warga kelurahan. Kita harus nurut kepada RT atau Lurah juga," kata Adhi.