Khofifah Minta Eri Bicara Data Kematian: Iki Ceritane Yo Opo?

CNN Indonesia | Jumat, 30/07/2021 12:48 WIB
Gubernur Jawa Timur mengaku telah meminta Wali Kota Surabaya menjelaskan kepada dirinya soal selisih data kematian Covid daerahnya. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. (CNN Indonesia/ Farid)
Surabaya, CNN Indonesia --

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan beda data kematian Covid-19 dan data pemakaman menggunakan protokol corona di Surabaya.

Data ini, kata Khofifah, berbeda antara yang dirilis Pemprov Jatim dan yang dipublikasikan Pemkot Surabaya. Hal ini sempat menimbulkan pertanyaan di tengah publik.

"Surabaya kemarin di [TPU] Keputih pemakaman sekian-sekian, saya kemudian menyampaikan ke Wali Kota [Eri], iki ceritane yoopo (ini ceritanya bagaimana)?," kata Khofifah secara virtual, di Forum Guru Besar Universitas Airlangga, Jumat (30/7).


Lalu pada kesempatan itu, kata Khofifah, Wali Kota Surabaya menjelaskan bahwa yang dimakamkan di TPU khusus Covid-19 itu, belum tentu memiliki hasil swab PCR.

Khofifah pun meminta Eri untuk menjelaskan bahwa data pemakaman itu berbeda dengan data kematian Covid-19. Hal itu agar Pemprov Jatim tak dicurigai memalsukan data.

"'Bu, yang ini belum swab PCR maupun antigen'. Mbok dijelasno to (tolong dijelaskan), Pak. Nanti dipikir Pemprov Jatim ini yang engineer data," katanya.

Padahal, kata Khofifah, Pemprov Jatim hanya menyajikan data sebagaimana laporan kabupaten/kota dalam sistem New All Record (NAR) milik Kementerian Kesehatan.

"Kalau jenengan (anda) input sekian ke NAR, lalu dari Kemenkes sekian, ya Pemprov atas dasar itu," ucapnya.

Hal yang sama juga dilakukan Khofifah ke Pemkot Malang. Ia meminta Wali Kota setempat untuk meluruskan kesimpangsiuran data kematian Covid-19 dan pemakaman Covid-19.

"Kemarin misalnya di Malang, yang sampai masuk di sebuah majalah, saya juga tanya pak wali ini bagaimana ceritanya, yang input ke NAR itu siapa, narasumber ini siapa, Artinya luruskan kami," ucap dia.

Pemkot Surabaya memang mempublikasikan data pemakaman protokol Covid-19 harian dalam data kematian Covid. Padahal, data itu berbeda dengan catatan kasus meninggal karena Covid-19.

Kedua data tersebut mengalami selisih yang signifikan. Jika data kematian Covid-19 Surabaya per hari hanya berjumlah rata 1-10 kasus, sementara data pemakaman bisa mencapai rata-rata 100 kasus.

Eri menjelaskan bahwa data warga yang pemakamannya tercatat dan dilakukan dengan protokol Covid-19 itu, tak semuanya disertai dengan hasil swab PCR.

Meski demikian ia tetap mempublikasikan. Sebab, menurutnya dengan membuka data pemakaman Covid-19, masyarakat akan lebih waspada terhadap bahaya Covid-19, dan disiplin protokol kesehatan.

"Kalau buat saya gini, semakin saya membuka data, saya semakin tahu bahayanya apa sih di Surabaya. Sehingga saya bisa mengambil kebijakan yang tepat," kata Eri, terpisah.

(frd/wis)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK