Lansia di Pegunungan Arfak Papua Barat Belum Satupun Divaksin

CNN Indonesia | Senin, 02/08/2021 13:27 WIB
Dinas Kesehatan Papua Barat mencatat, hingga 1 Agustus 2021, belum ada satupun lansia dan anak usia 12-17 yang disuntik vaksin. Ilustrasi vaksinasi di Papua Barat. (Foto: ANTARA FOTO/ANTARA FOTO)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tingkat vaksinasi di Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf) Papua sangat rendah. Bahkan, data Dinas Kesehatan Papua Barat per 1 Agustus 2021 menunjukkan belum ada satu pun anak usia 12-17 dan lansia yang disuntik vaksin Covid-19.

Tingkat vaksinasi tahap I (nakes), II (pekerja publik dan lansia) dan III (anak usia 12-17) rata rata di bawah 0.2 persen.

Dinas Kesehatan Papua Barat per 1 Agustus 2021, mencatat, di Kabupaten Pegaf, untuk program vaksinasi tahap I Tenaga Kesehatan, dari sasaran 42 orang, hanya 34 Nakes yang menerima suntikan dosis pertama.


Untuk tahap II yang diperuntukkan bagi pekerja pelayanan Publik, dari sasaran 4.490 orang, hanya lima orang saja yang menjalani vaksinasi dosis satu dan dua. Di tahap II Lansia, dari sasaran 707 orang, belum ada satu orang pun yang divaksin.

Sementara pada tahap III masyarakat rentan dan umum, dari sasaran 20.484 orang, hanya 38 orang saja yang menjalani vaksin dosis pertama dan 35 orang di dosis ke dua. Sama halnya dengan kategori lansia, di tahap III remaja 12-17 tahun, dari sasaran 3.620 anak, belum ada satupun anak yang menjalani vaksinasi Covid-19.

Juru Bicara Covid-19 Papua Barat, dr. Arnoldus Tiniap M. Epid mengatakan, tingkat vaksinasi yang masih rendah di Kabupaten Pegaf tidak sepenuhnya karena penolakan. Menurutnya, rendahnya tingkat vaksinasi disebabkan karena minimnya sosialisasi.

Pemerintah Kabupaten Pegaf, Provinsi Papua Barat, kata dia, perlu turun lapangan untuk melakukan sosialisasi secara masif kepada masyarakat soal pentingnya protokol kesehatan dan vaksinasi. Meskipun, kata dia, kondisi geografis Kabupaten Pegaf sulit dijangkau.

Arnoldus mengatakan, masyarakat perlu diedukasi, karena banyak masyarakat yang salah menerima informasi.

"Masyarakat bisa saja menghubungkan suatu hal karena ketidaktahuan lalu menimbulkan respons yang berlebihan dan menarik diri dari suatu hal yang baru," ujarnya.

Apalagi lanjut Arnold, penolakan vaksin juga dilakukan para tokoh setempat termasuk pejabat yang bagi masyarakat awam, mereka adalah panutan. Padahal, penolakan itu berangkat dari ketidaktahuan.

"Saya dulu di pelayanan kesehatan, jarang menemui masyarakat yang menolak disuntik. Bahkan saat mereka sakit, mereka lebih memilih disuntik ketimbang minum obat. Artinya mereka tidak takut disuntik, hanya salah informasi dan itu yang perlu kita luruskan," katanya.

(hen/ugo)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK