ANALISIS

Misi Sulit Puan Maharani Kerek Elektabilitas Lewat Baliho

CNN Indonesia | Jumat, 06/08/2021 09:52 WIB
Baliho Puan Maharani ibarat menyasar ruang kosong. Petinggi PDIP itu perlu melakukan gebrakan untuk mendongkrak elektabilitas jika ingin serius bertarung 2024. Petinggi PDIP Puan Maharani dinilai perlu kerja keras untuk meningkatkan elektabilitas ketimbang mengandalkan baliho di berbagai wilayah (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua DPR yang juga petinggi PDIP Puan Maharani dinilai tetap sulit meraih elektabilitas tinggi meski balihonya banyak terpasang di berbagai daerah. Puan dianggap sulit mendongkrak tingkat keterpilihan atau elektabilitas sebagai capres atau cawapres di Pilpres 2024.

Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menganggap misi pemasangan baliho Puan di berbagai lokasi hanya memberikan efek yang kecil terhadap elektabilitas. Bahkan mungkin tidak terasa.

"Kayaknya baliho itu hanya menyasar ruang kosong," tutur Adi ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (5/8).


Adi mengatakan posisi Puan tak akan bergerak banyak jika tidak ada gebrakan yang dilakukan menuju 2024. Alih-alih memasang baliho, ia menilai putri Megawati Soekarnoputri itu seharusnya memanfaatkan kursi ketua DPR untuk mengdongkrak elektabilitas.

"Misalnya [Puan] meminta [anggota] DPR mendonasikan 80 persen gajinya kepada mereka yang terdampak [pandemi covid-19]. Wah itu akan meningkatkan elektabilitas," tuturnya memberikan contoh.

Dalam hal kekuasaan di internal PDIP, Adi memahami posisi Puan sebagai puteri Megawati tergolong kuat. Namun, faktor trah Soekarno tak bakal banyak membantu Puan di panggung pilpres.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat lebih tertarik dengan sosok yang dianggap menarik secara karakter dan prestasinya untuk dipilih sebagai pemimpin negara. Hal ini menurut Adi tak dimiliki Puan.

"Waktu jadi menko PMK nyaris kita tidak pernah dengar yang dilakukan Puan. Padahal itu posisi strategis dan bersentuhan langsung dengan rakyat. Saat ini posisi Puan sebagai Ketua DPR kita belum pernah lihat gebrakan," ucap Adi.

Adi menilai banyak pekerjaan rumah yang perlu dikerjakan Puan untuk mengejar elektabilitas yang tertinggal jauh dibanding lawan-lawannya seperti Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, atau Ridwan Kamil.

Hal ini bisa dilihat dari sejumlah hasil survei elektabilitas yang dilakukan beberapa lembaga survei. Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting pada April mencatat elektabilitas Puan hanya 1,7 persen.

Sementara Prabowo berada di posisi teratas dengan 20,8 persen. Disusul Anies Baswedan dengan 13,1 persen dan Ganjar dengan 12 persen.

Kemudian lembaga Voxpol Center pada Juli menyatakan Ganjar menempati elektabilitas tertinggi dengan 19,2 persen. Disusul Prabowo 18,9 persen dan Anies 14,1 persen. Elektabilitas Puan hanya 1,3 persen di posisi ke-10.

Pada Juni, Arus Survei Indonesia (ASI) menyatakan elektabilitas Prabowo yang paling tinggi dengan 12,5 persen. Lalu Ganjar 11,3 persen dan Anies 9,3 persen. Puan lagi-lagi di posisi ke-10 dengan 2,3 persen.

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin berpendapat senada. Ia menilai kursi ketua DPR yang dipegang Puan sebenarnya merupakan senjata kuat untuk menyasar posisi calon presiden atau wakil presiden.

Bahkan melebihi posisi menteri dan gubernur yang disandang lawan lainnya. Namun hal ini hanya berlaku jika Puan pandai mengkapitalisasi posisinya untuk mendapat perhatian masyarakat.

"Persoalannya kemarin-kemarin tidak berdampak jabatannya itu untuk keuntungan publik. Itu yang membuat rendah elektabilitasnya. Karena selama ini menjadi ketua DPR, itu selalu manut pemerintah," kata Ujang kepada CNNIndonesia.com.

Terlalu Manut Pemerintah

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK