Samarinda, CNN Indonesia -- Program vaksinasi Covid-19 secara nasional menargetkan penduduk-penduduk yang berada di lokasi terisolasi di pedalaman Kalimantan dan pulau terpencil di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Salah satunya sebanyak 125 warga terisolasi di pedalaman Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur yang mengikuti vaksinasi massal setelah menempuh jarak jauh tanpa akses darat. Jarak yang jauh dan tidak ada akses darat, bukan halangan ratusan warga mengikuti vaksin di kawasan terpencil. Bahkan, ada warga yang rela hingga menginap di perjalanan demi mendapatkan vaksin dosis pertama.
Tenaga kesehatan Puskesmas Pembantu (Pusban) Muara Enggelam, Ramsyah, mengatakan ratusan itu datang dari dua desa yakni, Desa Muara Enggelam dan desa Enggelam. Kedua desa berada di daerah terpencil yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada 144 orang yang mendaftar, mereka datang dari dua desa. Jaraknya jauh sekali di pedalaman, tapi mereka antusias mengikuti vaksin ini," kata Ramsyah, Jumat (3/9).
Dari 144 warga, hanya 125 orang yang berhasil disuntikkan vaksin dosis pertama AztraZeneca.Vaksinasi massal dimulai sejak pukul 10.30 hingga 16.00 Wita. Vaksinasi berlangsung di gedung pasar RT 003, Desa Muara Enggelam, Kamis (2/9).
"19 orang warga yang harus tertunda mendapatkan vaksin, karena mengalami hipertensi di angka 180/100 mmHg. Mereka diminta beristirahat dulu," sebutnya.
Ramsyah menerangkan vaksinasi yang digelar di kawasan terpencil itu merupakan kegiatan jemput bola, di mana dirinya satu-satunya tenaga kesehatan di Desa Muara Enggelam (Mueng) mengupayakan pengambilan vaksin dari kecamatan dan dibawa ke Mueng.
Ramsyah bahkan harus meminta bantuan Tenaga Kesehatan dari Kecamatan Muara Wis untuk penyuntikan vaksin warga.
Jarak pengambilan vaksin dan bantuan Nakes dari Kecamatan cukup jauh, di mana mereka harus menempuh ratusan kilo meter menggunakan perahu, karena tidak ada akses darat yang bisa ditempuh.
"Di sini banyak warga yang ingin divaksin. Namun kami sangat terpencil, jadi kalau tidak ada inisiatif ya kami tidak bisa divaksin. Dari Kecamatan Muara Wis ke Mueng, harus pakai perahu. Warga Enggelam juga ke Mueng pakai perahu. Jadi Mueng adalah daerah tengah-tengah," kata Ramsyah.
Sasaran vaksinasi massal ini mulai dari usia 18 tahun ke atas. Ramsyah menyebut semua warga antusias, dan sabar menunggu semua proses dengan tetap menjaga jarak dan protokol kesehatan ketat.
"Dengan bantuan Nakes dari Kecamatan, kami sangat terbantu. Tim vaksin Covid-19 Puskesmas Muara Wis akan didatangkan lagi pada jadwal vaksinasi ke dua, dengan memfasilitasi transportasi dan makan minum melalui dana desa 8 persen," pungkasnya.
Halaman selanjutnya, menembus lautan untuk vaksinasi di pulau terpencil.
Vaksin Terapung di Kabupaten Alor NTT
Ilustrasi vaksinasi Covid-19. Program vaksinasi covid nasional pun menargetkan penduduk-penduduk yang berada di lokasi terisolasi di pedalaman Kalimantan dan pulau terpencil di NTT. (CNN Indonesia/Adi Maulana)
Sementara itu di kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT), Polres Alor menggelar vaksin terapung bagi masyarakat di pulau terpencil salah satu kabupaten provinsi tersebut, Kamis (2/9).
Gerai Vaksin Presisi Terapung tersebut menyasar para nelayan dan warga pesisir diantara Pulau Kangge dan Pulau Pantar, Kabupaten Alor, NTT.
Di antara kedua pulau tersebut terdapat warga dari tiga desa yang berada di pesisir pantai.
"Mereka memiliki mata pencarian sebagai nelayan," kata Kapolres Alor, AKBP Agustinus Christmas kepada CNNIndonesia.com, Kamis malam.
Agustinus menerangkan tiga desa yang berada di pesisir tersebut adalah Desa Marisa, di Pulau Kangge dan dua desa lainnya yakni Kayang dan Desa Peyangonong di Pulau Pantar. Dan semuanya masuk Kecamatan Pantar Barat Laut.
Agustinus menerangkan Pulau Kangge adalah pulau terjauh dari Kota Kalabahi yang terletak di Pulau Alor. Dan Pulau Kangge adalah pulau yang berbatasan dengan Kabupaten Lembata. "Pulau Kangge waktu tempuhnya bisa mencapai lima jam perjalanan laut dari (Kota) Kalabahi", jelas Agustinus.
Oleh karena itu, sambungnya, akses ke pulau Kangge hanya bisa dilalui melalui jalur laut, di mana waktu tempuh dari kota Kalabahi sekitar empat hingga lima jam.
Jumlah dosis yang dibawa saat vaksin terapung tersebut sebanyak 200 dosis. Dan, yang terpakai sebanyak 110 dosis buat perndudk pesisir dari tiga desa tersebut.
"Sistemnya ada yang kami jemput masyarakat ke pesisir lalu dibawa ke kapal untuk divaksin dan ada nelayan yang kebetulan lewat langsung singgah di kapal Gerai Presisi Vaksin terapung. Dan ada tiga armada yang kita gunakan untuk vaksin terapung ini," kata Agustinus.
Agustinus menerangkan sebelum proses vaksinasi pihaknya melakukan sosialisasi tentang manfaat vaksin bagi masyarakat. Dan, sambungnya, itu menjadi tantangan tersendiri untuk bisa meyakinkan warga pesisir untuk mau divaksin.
Untuk tenaga medis dan vaksinator kata Agustinus, ada lima orang dari RSUD Kalabahi, sembilan orang dari Puskesmas Kayang dan lima orang dari klinik Polres Alor. Ada juga seorang dokter dari RSUD Kalabahi sebagai Ketua Tim Vaksinator.
"Sehingga kita tidak bekerja sendiri tapi tetap diawasi oleh dokter dan tenaga medis,"tutur Agustinus.