Nelayan Natuna Trauma Gara-gara Lihat 5 Kapal Perang Asing

CNN Indonesia
Jumat, 17 Sep 2021 20:51 WIB
Nelayan Natuna mengaku trauma dengan keberadaan kapal perang yang mengawal nelayan asing di ZEEI. Kapal Coast Guard China-5302 terlibat insiden dengan KRI Usman Harun-359, di ZEEI, 2020. Keberadaan kapal asing membuat nelayan lokal trauma. (Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Nelayan Lubuk Lumbang Kelurahan Bandarsyah Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Herman mengungkapkan para nelayan merasa ketakutan dan terancam setelah melihat kapal perang asing pada Senin (13/9) di Laut Natuna Utara.

Ia menerima laporan dari anggotanya yang kembali dari melaut pada Kamis (16/9) setelah melihat lima unit kapal perang asing di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).

"Kami merasa terganggu dan takut, kenapa tiba-tiba ada kapal perang asing lagi?" tutur Herman kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada Jumat (17/9).


Hal serupa pernah terjadi pada akhir 2019 hingga awal 2020 saat dua kapal perang asing terlihat mengawal kapal-kapal nelayan China di Natuna Utara. Hal itu, kata dia, membuat para nelayan merasa trauma setiap melihat kapal perang asing. 

"Dulu kejadiannya cuma dua unit kapal, sekarang tiba-tiba ada lima unit kapal," ujar Herman yang juga salah satu pengurus Aliansi Nelayan Natuna (ANA).

Lima unit armada yang baru mereka lihat itu, kata dia, terdiri dari dua kapal pengawas, dua kapal perang biasa, dan satu kapal induk. Meski kapal-kapal itu tidak terlihat melakukan aktivitas apa pun, Herman mengungkapkan nelayan masih merasa tidak aman.

"Nelayan kami ini orang awam. Sudah turun-temurun mencari ikan di laut NKRI itu," tambahnya.

Herman juga menjelaskan bahwa perasaan tidak aman yang dirasakan para nelayan bisa memengaruhi jumlah tangkapan yang didapatkan.

"Nelayan nanti harus sembunyi-sembunyi mencari ikannya dan bertanya-tanya keberadaan kapal perang asing itu, jadi pasti berpengaruh ke hasil tangkapan," tutup Herman.

Terpisah, Kepala Bagian Humas Badan Keamanan Laut (Bakamla) Kolonel Wisnu Pramandita mengakui sempat ada laporan warga baru-baru ini soal keberadaan kapal perang asing di wilayah Natuna.

Setelah mengecek foto kiriman warga, siluet yang tampak diduga merupakan kapal perang RI.

Terlepas dari itu, ia menyebut keberadaan kapal asing di ZEEI, terutama di kawasan Natuna, memang wajar. Ini tak lepas dari sejumlah faktor.

Silang Sengketa Laut China SelatanSilang Sengketa Laut China Selatan. (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)

Pertama, status kawasan ini yang merupakan jalur lalu lintas besar. Terlebih, ZEE bisa dilalui kapal asing selama tidak mengambil kekayaan di dalamnya.

"Karena Natuna Utara itu wilayah pintu masuk dan pintu keluar dari Selat Malaka dan Selat Sunda, sehingga mau tak mau pasti banyak kapal di sana," ujarnya, saat ditemui, di Jakarta, Jumat (17/9).

Kedua, lanjut Wisnu, perundingan soal klaim ZEE antara Indonesia dan Vietnam yang belum tuntas hingga kini. Akibatnya, masih ada peluang saling klaim di wilayah yang masuk zona yang dirundingkan.

Pihaknya pun hanya bisa mengusir nelayan Vietnam yang tengah melakukan penangkapan ikan di ZEE dengan dikawal aparat mereka.

"Dalam penyelesaian itu setiap pihak boleh melakukan klaim unilateral, artinya saya mau klaim di sini, Vietnam mau klaim sebelah sini," ujar Wisnu.

"Dan di sana saat ini kapal Vietnam banyak. Karena masih wilayah klaim unilateral," lanjutnya.

Terlepas dari itu, Bakamla meminta para nelayan untuk tak takut untuk beraktivitas di Natuna Utara.

"Nelayan tidak perlu takut untuk beraktivitas di sana. Bakamla dan TNI AL akan terus meningkatkan kehadirannya," ujar dia, "Kalau ada hal-hal yang diperolah dari lapangan, bisa diinformasikan ke kantor [Bakamla]."

(cfd/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER