Epidemiolog Minta Pemerintah Batalkan Niat Beli Molnupiravir

CNN Indonesia | Kamis, 14/10/2021 13:17 WIB
Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono meminta pemerintah batalkan rencana pembelian Molnupiravir. Pil Molnupiravir. (REUTERS/MERCK & CO INC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono mendorong agar pemerintah mengurungkan rencana negosiasi dengan perusahaan farmasi Merck yang tengah memproduksi pil Molnupiravir.

Pandu menilai, pemerintah sebaiknya fokus untuk menangani pandemi virus corona (covid-19) di Indonesia melalui vaksinasi yang setidaknya sudah terbukti meminimalisir penularan. Pun sejauh ini menurutnya Molnupiravir belum mengantongi izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA).

"Tidak perlu bernegosiasi ikut negara kaya seperti Australia, Malaysia. Jadi kita fixed dengan ide kita dengan cara vaksinasi, WHO juga tidak menyarankan obat untuk mengatasi pandemi kok," kata Pandu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (14/10).


Pandu mengatakan, sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar berhasil untuk mengobati pasien terinfeksi covid-19 di dunia. Adapun obat-obatan yang digunakan di Indonesia seperti Remdesivir, Favipiravir, dan lain sebagainya merupakan obat terapi saja.

Untuk itu, Pandu mewanti-wanti pemerintah agar tidak mudah terbujuk iming-iming sejumlah produsen obat yang menawarkan klaim hebat seperti salah satunya Molnupiravir. Ia menyebut, dengan keterbatasan anggaran pemerintah maka seharusnya pemerintah fokus pada akselerasi vaksinasi secara tuntas hingga akhir tahun.

"Obat selalu menjadi idaman, padahal kan obat itu sifatnya individual. Jadi jangan lah tergoda dan sebagainya, karena hebatnya farmasi ini mereka sudah melobi negara-negara yang potensial buyer, ya Indonesia termasuk karena kita sangat lengah dalam bagaimana mengambil keputusan," jelasnya.

Lebih lanjut, Pandu juga menjelaskan bahwa konsep kerja pil Molnupiravir diduga membuat kondisi virus error catastrophic. Sebab, Molnupiravir dapat bekerja secara efektif hanya pada fase replikasi yaitu lima hari pertama setelah warga terinfeksi covid-19.

Sementara selama ini penentuan kapan virus mulai inkubasi dan menginfeksi warga masih belum diketahui secara jelas, lantaran mayoritas pemeriksaan warga telat dilakukan.

"Jadi ini waspada rawan skandal ya, sebaiknya kita hati-hati dan cermat dalam bertindak," ujar Pandu.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pada 4 Oktober lalu mengklaim bahwa pihaknya sudah mulai mendekati sejumlah produsen farmasi global yang tengah memproduksi obat untuk pasien virus corona.

Budi menyebut, salah satunya Kementerian Kesehatan telah mencoba menghubungi perusahaan farmasi Merck yang tengah memproduksi pil Molnupiravir. Budi juga mengaku, pihaknya bekerjasama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan rumah sakit vertikal untuk melakukan review obat-obatan baru seperti yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Amerika Serikat, Eli Lilly hingga produsen obat Korea Selatan, Celltrion Inc.

Lihat Juga :
(kha/ugo)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK