Ahli Prediksi DKI Catat Covid Terbanyak pada Gelombang 3

CNN Indonesia
Jumat, 22 Oct 2021 15:36 WIB
Hingga saat ini DKI Jakarta masih tercatat menjadi pusat penularan pandemi Covid-19 di Indonesia. PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mulai memberlakukan kapasitas angkut pelanggan sebesar 100 persen. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tri Yunis Miko menilai DKI Jakarta berpotensi menjadi provinsi dengan penambahan kasus konfirmasi positif Covid-19 terbanyak, apabila gelombang ketiga benar-benar terjadi.

Miko menyebut sampai saat ini DKI masih tercatat menjadi pusat penularan pandemi Covid-19 di Indonesia. Adapun meski DKI Jakarta dinilai telah mencapai target herd immunity alias kekebalan komunal warga pada Juli 2021 lalu, tapi menurutnya hal itu tidak lantas menjadikan warga Ibu Kota bebas sepenuhnya dari penularan baru.

"Jakarta kan sebagai episentrum, biasanya sebagai episentrum ya akan menjadi kasus tertinggi. Maka dari itu harus benar-benar hati-hati, karena peluang jadi tertinggi akan bisa terjadi karena episentrum wabah Covid-19 masih di Jakarta dan belum berubah," kata Miko saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (22/10).


Miko melanjutkan, definisi herd immunity yang diklaim sejumlah epidemiolog sudah terjadi di DKI Jakarta dipengaruhi dua faktor. Pertama, studi zero surveillance test mencatat bahwa separuh warga DKI sudah terinfeksi Covid-19.

Ia menjelaskan herd immunity dapat terjadi melalui dua faktor, yakni infeksi alami dan vaksinasi. Ia menambahkan, cakupan vaksinasi Covid-19 yang tinggi di Jakarta juga mendorong herd immunity cepat terjadi di Ibu Kota.

"Mungkin penduduk DKI pada bulan Juli itu terinfeksi mungkin sudah 70 persen, kemudian vaksinasi dosis dua sudah 90 persen lebih. Jadi kemungkinan, menurut saya semua orang sudah punya antibodi, sehingga mungkin kecil sekali yang tidak punya antibodi," kata dia.

Berangkat dari itu, maka Miko menilai kendati DKI Jakarta menjadi episentrum Covid-19 pada ancaman gelombang tiga di Indonesia. Namun bisa diproyeksi bahwa kasus-kasus yang ditemukan kemungkinan lebih banyak pada pasien tanpa gejala (OTG) atau gejala ringan lantaran sudah memiliki antibodi.

Dengan begitu, maka lonjakan Covid-19 mendatang kemungkinan tidak sampai menyebabkan tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di sejumlah fasilitas kesehatan Ibu Kota kolaps.

"Gelombang ketiga di Indonesia tidak akan lebih besar dari gelombang satu ada dua, karena orang-orang sudah terinfeksi dan sudah tervaksinasi," jelasnya.

Kendati demikian, Miko tetap meminta pemerintah waspada dan tetap menyiapkan skema terburuk mengantisipasi sektor hilir yang kebanjiran pasien. Ia juga mendesak agar penanganan Covid-19 di sektor hulu seperti strategi testing dan tracing, serta program vaksinasi tetap digenjot secara masif dan agresif.

Miko juga khawatir, mutasi virus SARS-CoV-2 akan memberikan kontribusi besar pada kenaikan kasus Covid-19 di DKI Jakarta maupun daerah lain di seluruh Indonesia. Ia juga mengaku waspada apabila mulai muncul varian lokal yang ditakutkan memiliki dampak penularan yang lebih besar serta infeksius dari pada varian terdahulu.

"Yang saya takutkan kalau program penanggulangan Covid-19 juga lemah di Indonesia sehingga kemudian akan terjadi gelombang ketiga. Saya pikir, saya juga sudah mengingatkan pemerintah untuk hati-hati dalam membuka sekolah, membuka ruang publik itu jangan 100 persen," ujar Miko.

DKI Jakarta dalam beberapa pekan terakhir kembali tercatat sebagai provinsi yang masuk kategori lima besar sebagai provinsi dengan penambahan kasus Covid-19 terbanyak di Indonesia. Terbukti, dalam sepekan terakhir atau pada periode 15-21 Oktober, DKI unggul dibandingkan 33 provinsi lainnya dengan kumulatif 814 kasus dalam sepekan.

Sementara untuk capaian vaksinasi, pada pemberian dosis vaksin satu di DKI Jakarta, secara kumulatif hingga 22 Oktober pukul 12.00 WIB, tercatat sebanyak 11.010.505 orang di DKI sudah menerima suntikan dosis pertama vaksin Covid-19.

Sementara untuk capaian dosis kedua, secara kumulatif DKI Jakarta sudah melakukan vaksinasi terhadap 8.401.242 orang. DKI Jakarta memiliki target sasaran sebanyak 8.941.211 orang.

Bila menghitung dari total sasaran vaksinasi di DKI, itu artinya 131,1 persen masyarakat DKI rampung mendapat suntikan dosis pertama, dan baru 100,07 persen dari target sasaran vaksinasi yang mendapat dosis vaksin secara lengkap.

(khr/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER