Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mencatat terdapat sembilan provinsi di Indonesia yang mengalami kenaikan kasus virus corona pada sepekan terakhir.
Dari sembilan provinsi itu, Jawa Barat (Jabar) menjadi daerah dengan kumulatif penambahan kasus Covid-19 dan kasus aktif tertinggi dalam kurun waktu tujuh hari.
Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menyatakan kenaikan kasus penularan virus corona itu perlu menjadi perhatian seluruh pemerintah daerah, mengingat kasus covid-19 secara nasional sudah mengalami penurunan secara signifikan dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hendaknya hal ini menjadi pembelajaran bagi seluruh unsur dalam sistem kesehatan, baik pemerintah pusat, daerah provinsi, maupun kabupaten/kota agar tidak menunda proses vaksinasi," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Kamis (4/11).
Wiku merinci, selain Jabar, delapan provinsi lainnya yang mengalami tren kenaikan kasus positif Covid-19 dalam sepekan terakhir adalah Lampung, Jawa Timur, Banten, Bali, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua.
Wiku menyebut tren kenaikan kasus Covid-19 ini tidak terlalu signifikan sehingga menurutnya masih dalam kategori aman dan masih terkendali. Namun demikian, Wiku meminta agar seluruh pemerintah daerah di Indonesia menjadikan tren kenaikan kasus Covid-19 ini sebagai alarm.
"Pergerakan ini harus terus dipantau untuk dilakukan mitigasi terhadap potensi kenaikan kasus di masa libur panjang," kata dia yang juga dikenal sebagai guru besar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tersebut.
Lebih lanjut, dari sembilan provinsi itu Wiku kembali merinci secara detail. Provinsi dengan penambahan kasus Covid-19 terbanyak dalam sepekan terakhir adalah Jabar dengan 741 kasus. Kasus aktif di Jabar yang berjumlah 1.424 kasus juga menjadikannya provinsi dengan jumlah kasus aktif terbanyak dalam sepekan.
Kemudian, provinsi dengan persentase kasus kesembuhan terendah adalah Lampung dengan 90,63 persen. Kemudian, provinsi dengan penambahan kasus kematian warga yang terinfeksi covid-19 tertinggi dalam sepekan terjadi di Jawa Timur dengan 39 kasus.
Wiku juga menambahkan, provinsi dengan tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) isolasi rujukan pasien Covid-19 tertinggi adalah Papua dengan keterisian 11,41 persen. Terakhir, Wiku mencatat provinsi dengan capaian vaksinasi dosis lengkap paling rendah yakni Maluku Utara dengan persentase capaian 17,5 persen.
Target Awal Kemenkes Vaksinasi Lansia Harusnya Selesai Sebelum Juli 2021
Ilustrasi vaksinasi Covid-19. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui capaian program vaksinasi virus corona (covid-19) yang menyasar warga lanjut usia (lansia) di Indonesia gagal tercapai dari target awal pemerintah.
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyebut, awalnya pihaknya menargetkan vaksinasi lansia yang dimulai sejak pertengahan Februari lalu itu bisa rampung sebelum Juli 2021.
"Jumlahnya belum sesuai target kita. Harusnya kita bisa menyelesaikan sebelum bulan Juli, tapi ternyata lansia ini baru 41 persen yang dapat dosis pertama, dan baru 25 persen yang dapat dosis kedua," kata Nadia dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Lawan Covid19 ID, Kamis (1/7).
Lebih jelasnya, per 4 November Pukul 12.00 WIB baru 8.860.588 orang lansia yang telah menerima suntikan dosis pertama vaksin virus corona. Sementara itu, 5.480.870 orang lansia yang telah rampung menerima dua dosis suntikan vaksin covid-19 di Indonesia.
Dengan demikian, target vaksinasi pemerintah dari total sasaran 21.553.118 orang baru menyentuh 41,11 persen dari sasaran vaksinasi yang menerima suntikan dosis pertama. Sedangkan suntikan dosis kedua baru berada di angka 25,43 persen.
Selain rendahnya capaian vaksinasi pada lansia, Nadia juga menyoroti capaian vaksinasi pada remaja usia 12-17 tahun yang tidak terlalu mengalami percepatan signifikan dalam capaiannya. Ia menyebut dari target remaja 26,7 juta baru 18,85 persen yang mendapat dosis pertama dan 14,03 persen untuk dosis kedua.
Untuk itu, Nadia meminta agar para orang tua tidak melarang anak mereka untuk mendapat akses vaksinasi virus corona di Indonesia. Ia mewanti-wanti bahwa vaksinasi merupakan salah satu upaya penting dalam memberikan perlindungan pada anak.
"Tentunya kepada orang tua ya, karena kita ingin segera bisa diselesaikan vaksinasinya. Karena ternyata pengalaman pada vaksinasi remaja 12-17 tahun, masih banyak orang tua yang masih ragu-ragu untuk divaksin anaknya," ujarnya.