Dosen Kehutanan UGM Sebut Deforestasi Pemicu Banjir di Indonesia

CNN Indonesia
Selasa, 09 Nov 2021 14:17 WIB
Dosen Fakultas Kehutanan UGM menyebut deforestasi berkontribusi cukup besar dalam setiap bencana banjir dan longsor, meski terdapat faktor alam. Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Hatma Suryatmojo mengatakan deforestasi sebagai salah satu pemicu banjir di Indonesia. Ilustrasi (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Hatma Suryatmojo mengatakan deforestasi sebagai salah satu pemicu banjir di Indonesia. Hatma menyebut aktivitas pembukaan lahan mempercepat bencana banjir selain faktor intensitas hujan tinggi.

"Seperti pembukaan lahan hutan, perubahan fungsi lahan, deforestasi, perkembangan urbanisasi dan penyempitan tubuh air (sungai) akibat kebutuhan pemukiman," kata Hatma dalam keterangan resmi UGM, yang diterima Selasa (9/11).

Hatma berpendapat deforestasi berkontribusi cukup besar dalam setiap bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor. Meski terdapat faktor alami yang bisa menjadi pemicu, seperti faktor topografi dengan kemiringan lereng yang tinggi dan curah hujan ekstrem.

Menilik data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas deforestasi Indonesia tahun 2019-2020 adalah sebesar 115,5 ribu hektare. Menurun 75 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 462,5 ribu hektare.

Sementara pada periode 2017-2018, tingkat deforestasi mencapai 439,4 ribu hektare. Kemudian 2016-2017 tercatat 480 ribu hektare. Deforestasi tertinggi dalam enam tahun terakhir terjadi 2015-2016, yakni sebesar 629,2 ribu hektare.

"Artinya, secara total dalam kurun waktu enam tahun angka deforestasi mencapai 2,1 juta hektare. Meski begitu cukup wajar juga bila ada pernyataan laju deforestasi mengalami penurunan, namun kejadian bencana hidrometeorologi masih tinggi," ujarnya.

"Hal ini mengindikasikan banjir dan tanah longsor bisa dipengaruhi oleh faktor lain. Terutama pada perubahan pola penutupan dan pemanfaatan lahan yang mengganggu atau merubah fungsi dari kawasan tersebut," kata Hatma menambahkan.

Lebih lanjut, pengamat hidrologi hutan tersebut meminta pemerintah memberi atensi khusus terhadap perubahan daerah hulu sungai. Kawasan hulu harus menjadi fungsi lindung yang dibantu peran hidrologi dari kawasan bervegetasi.

Menurutnya, daerah aliran sungai kini banyak beralih menjadi kawasan produksi, seperti pemukiman warga, budi daya intensif, dan lain sebagainya yang berdampak pada degradasi fungsi dari kawasan hulu.

"Memang sangat perlu mengedukasi seluruh lapisan masyarakat tentang peran penting DAS sebagai sistem penyangga kehidupan yang akan mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan menjadi hal penting yang perlu dikuatkan dalam seluruh lini pendidikan," ujarnya.

Banjir Kota Batu dan Sintang Kalbar

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER