PKS Minta Deklarasi Capres 2024 Jangan di Menit Akhir Seperti 2019

CNN Indonesia
Senin, 06 Dec 2021 23:45 WIB
PKS usul deklarasi koaliasi partai politik mengusung capres 2024 sejak dini, tidak seperti pilpres 2019 yang dilakukan di menit akhir jelang keputusan KPU. PKS usul koalisi partai pengusung capres 2024 sejak dini. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera menyerukan agar partai politik mulai membangun koalisi dan segera mendeklarasikan calon presiden (capres) untuk pilpres 2024 secepatnya.

Dia berharap, parpol tak mendeklarasikan pasangan capres dan cawapres yang hendak diusung di waktu-waktu akhir jelang penutupan pendaftaran seperti yang terjadi pada tiap pemilu selama ini.

Mardani mengatakan, hal ini bisa membuat masyarakat lebih memahami para calon pemimpinnya. Termasuk soal koalisi yang harusnya dilakukan sejak jauh hari.


"Saya setuju parpol melakukan koalisi dan penjajakan jauh-jauh hari. Sehingga tidak membeli kucing dalam karung," kata Mardani kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/12).

Mardani meyakini, Pilpres 2024 akan melahirkan kejutan. Menurutnya, sosok capres yang maju pada Pemilu 2024 tidak akan sesuai dengan prediksi survei terkini seperti Menhan Prabowo Subianto, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Terlebih, kata Mardani, tiket pencalonan saat ini masih belum ada yang pasti didapat dari capres dengan memiliki tingkat elektabilitas tinggi versi survei.

"Waktu masih panjang dan tiket belum ada kepastian. Saat koalisi parpol sudah terjadi dan tiket sudah jelas alokasinya, maka panggung akan berubah," kata Mardani.

Dia juga meyakini, nama-nama populer di survei akan pudar seiring berjalannya waktu. Salah satu penyebabnya, menurutnya, kondisi pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini.

"Kondisi ke depan dengan pemilu rasa pandemi, rasa resesi dan rasa suksesi sangat volatile [turun naik], dan jadi ujian ketokohan," imbuhnya.

Kuncinya, menurut Mardani, ada pada ketokohan seorang pemimpin. Menurutnya, pemimpin akan tetap bersinar menghadapi segala situasi dan kondisi ke depan, termasuk masa jabatan pemimpin yang habis jelang Pemilu 2024, dia yakin, tokoh tersebut tetap memiliki magnet kuat di masyarakat.

"Jika leader akan tetap bersinar. Jika bukan leader akan hilang ditelan kebisingan tokoh lain," ungkap dia.

Untuk diketahui, koalisi parpol dan deklarasi pasangan capres-cawapres di Pemilu 2019, baik Prabowo Subianto-Sandiaga Uno maupun Jokowi-Ma'ruf Amin, baru dilakukan di menit-menit akhir jelang penutupan waktu pendaftaran di KPU.

Sebelumnya, pendiri lembaga survei dan konsultan politik Cyrus Network, Hasan Nasbi mengatakan masa jabatan Anies dan Ganjar yang habis pada 2022 serta 2023 mendatang bisa membuat peta politik Pilpres 2024 berubah.

Selain itu, menurutnya, faktor lain yang bisa mengubah peta politik Pilpres 2024 ialah koalisi lebih awal antarparpol dan penentuan calon lebih awal.

Sementara itu, politikus Partai Gerindra Arief Poyuono yakin Ganjar dan Anies tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden 2024.

Ia menyebut faktor jabatan publik dan sorotan media massa akan menentukan kandidat Pilpres 2024, sementara Anies dan Ganjar habis masa jabatannya sebagai gubernur sebelum 2024 sehingga akan kehilangan popularitas.

"Dua tokoh ini baterainya habis di 2022. Baterainya habis Ganjar dan Anies. Mau tidak mau, percaya tidak percaya, Jokowi adalah hasil power of the media," kata Arief dalam diskusi yang digelar Total Politik di Jakarta, Minggu (5/12).

Dia menyebut Ganjar akan kehilangan panggung untuk meningkatkan popularitas setelah lengser dari Gubernur Jawa Tengah. Begitu pun dengan Anies yang akan selesai menjabat Gubernur DKI Jakarta pada Oktober 2022.

(mts/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER