KP2C, Komunitas Korban Banjir Bekasi yang Jadi Pahlawan
Dewi Safitri | CNN Indonesia
Jumat, 25 Mar 2022 13:57 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pertemuan ketua RT/RW/Komunitas bahas desakan percepatan penanganan banjir diinisiasi KP2C, 6 Maret 2022. (Dok. KP2C)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jika beberapa orang suka menyanyi, main catur atau memasak, Puarman justru menghabiskan waktu dengan menyusuri sungai di sekitar rumahnya di perbatasan Bekasi-Bogor. Ia mencermati kualitas air, kerapatan vegetasi sepanjang aliran sungai kanan dan kiri, kemudian dugaan pencemaran akibat limbah buangan pabrik di sekitarnya.
Pemilik usaha jual-beli buku ini suka sungai dan lingkungan sekitarnya.
Tidak pernah diduga, hobi ini akan mengubah hidupnya dan puluhan ribu orang yang juga tinggal dekat aliran sungai di Kali Bekasi, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semua dimulai tahun 2004, saat Puarman memboyong keluarga pindah rumah ke Vila Nusa Indah (VNI) II, sebuah perumahan kelas menengah di Desa Bojong Kulur, ujung terluar Kabupaten Bogor yang berbatasan dengan Kota Bekasi.
"Masuk rumah bulan Oktober, tiga bulan kemudian langsung kebanjiran. Tidak ada angin, tidak ada hujan, panas terik. Eh banjir begitu saja, air tiba-tiba masuk rumah," katanya dengan nada kecut dari ujung telepon saat dihubungi CNN Indonesia.
Keluarga pun syok, barang-barang rusak, kehilangan harta benda bahkan dokumen penting. Empat hari sejak kebanjiran pertama itu, Puarman mulai menyusur sungai mengurut asal-muasal arus air yang merisak rumah dan lingkungannya.
Perjalanan ini mempertemukannya dengan Iyan, orang yang dikenal sebagai 'penjaga air' di Tlajung Udik, salah satu titik yang dilewati aliran Kali Cileungsi sebelum sampai Kali Bekasi.
Dari Iyan ia tahu, banjir adalah 'kiriman' dari Bogor, tempat Kali Cileungsi bersumber.
Jika Bogor dilanda hujan deras, debit akan menguat dan arus mengganas menyerbu masuk Bekasi. Air pun bisa tumpah ruah ke berbagai pemukiman sekitar sungai.
Penyusuran ini juga menunjukkan debit air kiriman bisa sangat besar karena Bogor adalah sumber dari berbagai sungai. Yang paling dekat dekat dengan pemukimannya adalah Cileungsi dan Cikeas, dua sungai yang bertemu di Kali Bekasi. Titik pertemuan ini lazim disebut P2C.
"Saya enggak habis pikir. Kok pemerintah bisa-bisanya enggak ngasih peringatan atau apa kek. Ini kan air kiriman, bukan hujan lokal. Jadi sebenarnya bisa dihitung, diperkirakan kalau hujan di hilir jam sekian, jam berapa dia akan sampai di P2C. Kenapa itu tidak dilakukan?" tanya Puarman jengkel.
Kepada Iyan, Puarman berpesan agar jika nanti hujan datang lagi, tolong kabari kalau tinggi muka air (TMA) kali kembali naik.
"Saya minta tolong dipantau, dikabari. Setiap bulan saya kasih pulsa telepon, sesekali kasih sembako. Gitu aja terus selama beberapa tahun."
Berikutnya dia melakukan hal yang sama di ruas Kali Cikeas. Mencari orang yang sanggup dititipi tanggung jawab memantau TMA dan memberi tahu via SMS atau telepon jika ada kenaikan terutama saat Bogor dilanda hujan.
Anggota Membengkak
Mula-mula informasinya hanya dipakai sendiri, kemudian disebarkan pada keluarga, tetangga dan kenalan. Lewat SMS, Friendster, Blackberry dan grup email (mailing list) jangkauan penerima informasi makin luas. Derasnya penyebaran informasi jadi makin tinggi setelah muncul aplikasi Facebook, Twitter, Whatsapp, atau Instagram, dan orang mulai membentuk berbagai grup.
"Lama-lama kerepotan juga. Tiap hujan megang telepon terus-menerus saking banyaknya yang cari info. Kadang-kadang sampai heran sendiri, info dari saya tahu-tahu sudah sampai mana-mana. Rupanya disebarkan lagi dari orang-ke-orang. Karena memang banyak sekali yang membutuhkan," kata Puarman.
Tinggi muka air kali makin jadi isu krusial seiring berjalannya waktu karena populasi di sepanjang aliran sungai Kali Bekasi makin padat akibat tambahan perumahan baru, sementara kiriman air dari Bogor juga makin besar.
Akibatnya banjir yang semulai cuma setahun sekali bisa terjadi sampai tiga bahkan lima kali.
Lebih dari 10 tahun sejak pertama membagi info TMA Kali, Puarman sudah menjangkau 3000 pemakai. Mulailah terpikir untuk membentuk komunitas agar bisa membagi kerja. Bersama beberapa teman ngopi, empat orang setuju bergabung dengan Puarman membentuk organisasi Komunitas Peduli Cileungsi-Cikeas (KP2C). Tahun 2016 pembentukan KP2C diresmikan lengkap dengan pengurusnya.
Sebagian pengurus adalah pengurus Rukun Warga dan Rukun Tetangga yang setiap saat jadi tumpuan warga karena banjir. Semuanya bekerja dengan prinsip relawan: tidak menerima imbalan apapun.
"Relawan untuk pribadi saya adalah senang bisa manfaat untuk orang banyak. Memberikan peringatan dini ini kan salah satu yang bermanfaat bagi masyarakat banyak, termasuk warga kami," kata Saikhu Muhammad, Ketua RW 08 di Pondok Gede Permai, salah satu perumahan yang paling sering menerima luapan banjir.
"Targetnya adalah minimalisir kerugian. Sebelum ada grup WA dan lain-lain, kami menggunakan radio HT. Jika situasi genting diumumkan melalui pengeras suara masjid maupun musholla. Sekarang sih sudah lebih mudah diumumkan melalui grup WA ya. Alhamdulillah setelah info disebar kendaraan aman di tempat yang lebih tinggi. Terus barang di rumah juga naik ke lantai 2, kalau nggak ada lantai 2 ya bisa numpang di tetangga yang ada lantai duanya," kata Saikhu.
Tanpa dipromosikan, informasi TMA dari KP2C makin diminati masyarakat Bogor-Bekasi dan sekitarnya. Dukungan publik mulai membesar, ditandai dengan donasi sukarela anggota perorangan yang dipakai sebagai modal mendanai kegiatan.
KP2C masih menyediakan anggaran pulsa untuk pemantau TMA, tetapi tugas pemantauan kini diserahkan pada telemetri dan CCTV - yang dipasang di berbagai titik pantau strategis.
Telemetri memungkinkan dilakukan pengukuran jarak jauh dan pelaporan informasinya kepada operator sistem. Sementara CCTV dipakai untuk memantau alat ukur ketinggian air (peilscale) yang bentuknya mirip penggaris raksasa dengan cat warna-warni untuk memudahkan sistem peringatan dan dipasang berdiri persis di pintu air atau tanggul kali.
Sampai 2021 KP2C sudah punya 3 telemetri dan peilscale lengkap dengan CCTV di tujuh titik. Dalam sehari laporan TMA diberikan minimal tiga kali melalui 20 grup WA, 1 kanal Telegram, 1 akun Instagram, Facebook dan Twitter.
Jumlah seluruh anggota diperkirakan mencapai lebih dari 22 ribu orang. Jika satu anggota mewakili satu keluarga dengan rata-rata 4 orang, bisa diperkirakan jumlah penerima manfaat KP2C mencapai lebih dari 80 ribu orang.
Jika semua alat berjalan normal, semua data yang dihasilkan akurat dan real time. Begitu akuratnya, selain diandalkan warga data KP2C kini jadi rujukan petugas Bendung Kali Bekasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemkot Bekasi dan Pemkab Bogor, aparat militer dan polisi, hingga pemerintah pusat melalui Balai Besar Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC).
Iyan yang sejak 2005 sudah bekerja membantu KP2C di Tlajung Udik, kini diserahi tanggung jawab memantau dengan telemetri.
"Tugas saya adalah menginformasikan TMA kepada dua pihak: KP2C dan BBWSCC. Kalau situasi TMA normal, saya kirim data dua kali pagi dan sore. Tapi kalau sedang tinggi, saya update setiap 15 menit sekali selama 24 jam," kata Iyan.
Telemetri dipasang sekitar 600 meter dari rumah Iyan. Alat akan mengirim sinyal ke ponselnya saat debit air naik dengan TMA di atas normal. Data itulah yang kemudian diteruskan kepada KP2C dan BBWSCC.
Banjir 1 Januari 2020 di Vila Nusa Indah, Bojongkulur, Kab Bogor. (Foto: Dok. KP2C)
Tantangan ke Depan
Dengan pengakuan yang makin luas, posisi KP2C makin diperhitungkan. KP2C bermitra dengan lebih dari 25 lembaga termasuk korporasi dan partai politik yang ingin memberi bantuan korban banjir.
Organisasi ini juga kerap bertemu pejabat daerah dan pusat untuk mengajukan usulan solusi.
Dalam salah satu audiensi dengan pemerintah, Kepala BMKG Profesor Dwikorita Karnawati diberitakan terkesan dengan cara kerja KP2C dan menyebutnya sebagai model sistem peringatan dini yang bisa dipraktikkan di tiap titik banjir. Tetapi tugas makin berat juga dihadapi pengurus yang kini berjumlah 18 orang yang rata-rata berusia di atas 50 tahun.
"Sebagian dari kita memang sudah pensiun. Tapi juga masih ada yang harus bekerja cari penghasilan. Itu berarti harus pintar ngatur waktu supaya tetap bisa bantu organisasi. Sebenarnya kita sudah ngajak-ngajak juga, ayo yang muda-muda ikut. Tapi sampai sekarang entah kenapa kok belum berhasil," kata Irna Sriwijayanti, Bendahara KP2C.
Situasi bisa sangat menantang ketika situasi banjir terjadi sehingga permintaan informasi sangat tinggi, sementara para pengurus sendiri jadi korban banjir.
"Itu rasanya ya Allah, gimana ya... Biasanya sih kita saling pengertian aja, langsung lapor "saya mundur dulu ya" gitu. Supaya bisa digantikan yang lain. Tapi kadang ada juga member yang tetap berkeras menghubungi sementara situasi kita juga lagi darurat," kata Sri Pujiastuti, pengurus Divisi Komunikasi.
Puji, pengurus yang juga warga RT01 PGP, menceritakan pengalaman banjir besar 2020 yang merendam rumahnya sampai lantai 2 sementara pada saat yang sama menerima panggilan telepon warga yang minta bantuan evakuasi.
Sedikitnya 763 permintaan evakuasi dicatat KP2C pada hari itu.
"Saat ini memang KP2C bisa memberi kontribusi pada warga. Tapi ini kan sesungguhnya tugas pemerintah ya... Mohon bapak-bapak yang punya wewenang segera program normalisasi sungai dilaksanakan. Supaya kita semua bebas dari rasa takut kebanjiran tiap saat. Mau sampai kapan kita diberi janji-janji terus," pinta Irna.
Proyek normalisasi Kali Bekasi bagian pertama sudah dimulai meski sempat molor hampir setahun dari rencana awal. Proyek lain untuk normalisasi Kali Cikeas dan Ciluengsi yang juga direncanakan mulai tahun ini sampai kini belum berjalan karena isu pembebasan lahan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Jika beberapa orang suka menyanyi, main catur atau memasak, Puarman justru menghabiskan waktu dengan menyusuri sungai di sekitar rumahnya di perbatasan Bekasi-Bogor. Ia mencermati kualitas air, kerapatan vegetasi sepanjang aliran sungai kanan dan kiri, kemudian dugaan pencemaran akibat limbah buangan pabrik di sekitarnya.
Pemilik usaha jual-beli buku ini suka sungai dan lingkungan sekitarnya.
Tidak pernah diduga, hobi ini akan mengubah hidupnya dan puluhan ribu orang yang juga tinggal dekat aliran sungai di Kali Bekasi, Jawa Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semua dimulai tahun 2004, saat Puarman memboyong keluarga pindah rumah ke Vila Nusa Indah (VNI) II, sebuah perumahan kelas menengah di Desa Bojong Kulur, ujung terluar Kabupaten Bogor yang berbatasan dengan Kota Bekasi.
"Masuk rumah bulan Oktober, tiga bulan kemudian langsung kebanjiran. Tidak ada angin, tidak ada hujan, panas terik. Eh banjir begitu saja, air tiba-tiba masuk rumah," katanya dengan nada kecut dari ujung telepon saat dihubungi CNN Indonesia.
Keluarga pun syok, barang-barang rusak, kehilangan harta benda bahkan dokumen penting. Empat hari sejak kebanjiran pertama itu, Puarman mulai menyusur sungai mengurut asal-muasal arus air yang merisak rumah dan lingkungannya.
Perjalanan ini mempertemukannya dengan Iyan, orang yang dikenal sebagai 'penjaga air' di Tlajung Udik, salah satu titik yang dilewati aliran Kali Cileungsi sebelum sampai Kali Bekasi.
Dari Iyan ia tahu, banjir adalah 'kiriman' dari Bogor, tempat Kali Cileungsi bersumber.
Jika Bogor dilanda hujan deras, debit akan menguat dan arus mengganas menyerbu masuk Bekasi. Air pun bisa tumpah ruah ke berbagai pemukiman sekitar sungai.
Penyusuran ini juga menunjukkan debit air kiriman bisa sangat besar karena Bogor adalah sumber dari berbagai sungai. Yang paling dekat dekat dengan pemukimannya adalah Cileungsi dan Cikeas, dua sungai yang bertemu di Kali Bekasi. Titik pertemuan ini lazim disebut P2C.
"Saya enggak habis pikir. Kok pemerintah bisa-bisanya enggak ngasih peringatan atau apa kek. Ini kan air kiriman, bukan hujan lokal. Jadi sebenarnya bisa dihitung, diperkirakan kalau hujan di hilir jam sekian, jam berapa dia akan sampai di P2C. Kenapa itu tidak dilakukan?" tanya Puarman jengkel.
Kepada Iyan, Puarman berpesan agar jika nanti hujan datang lagi, tolong kabari kalau tinggi muka air (TMA) kali kembali naik.
"Saya minta tolong dipantau, dikabari. Setiap bulan saya kasih pulsa telepon, sesekali kasih sembako. Gitu aja terus selama beberapa tahun."
Berikutnya dia melakukan hal yang sama di ruas Kali Cikeas. Mencari orang yang sanggup dititipi tanggung jawab memantau TMA dan memberi tahu via SMS atau telepon jika ada kenaikan terutama saat Bogor dilanda hujan.
Anggota Membengkak
Mula-mula informasinya hanya dipakai sendiri, kemudian disebarkan pada keluarga, tetangga dan kenalan. Lewat SMS, Friendster, Blackberry dan grup email (mailing list) jangkauan penerima informasi makin luas. Derasnya penyebaran informasi jadi makin tinggi setelah muncul aplikasi Facebook, Twitter, Whatsapp, atau Instagram, dan orang mulai membentuk berbagai grup.
"Lama-lama kerepotan juga. Tiap hujan megang telepon terus-menerus saking banyaknya yang cari info. Kadang-kadang sampai heran sendiri, info dari saya tahu-tahu sudah sampai mana-mana. Rupanya disebarkan lagi dari orang-ke-orang. Karena memang banyak sekali yang membutuhkan," kata Puarman.
Tinggi muka air kali makin jadi isu krusial seiring berjalannya waktu karena populasi di sepanjang aliran sungai Kali Bekasi makin padat akibat tambahan perumahan baru, sementara kiriman air dari Bogor juga makin besar.
Akibatnya banjir yang semulai cuma setahun sekali bisa terjadi sampai tiga bahkan lima kali.
Lebih dari 10 tahun sejak pertama membagi info TMA Kali, Puarman sudah menjangkau 3000 pemakai. Mulailah terpikir untuk membentuk komunitas agar bisa membagi kerja. Bersama beberapa teman ngopi, empat orang setuju bergabung dengan Puarman membentuk organisasi Komunitas Peduli Cileungsi-Cikeas (KP2C). Tahun 2016 pembentukan KP2C diresmikan lengkap dengan pengurusnya.
Sebagian pengurus adalah pengurus Rukun Warga dan Rukun Tetangga yang setiap saat jadi tumpuan warga karena banjir. Semuanya bekerja dengan prinsip relawan: tidak menerima imbalan apapun.
"Relawan untuk pribadi saya adalah senang bisa manfaat untuk orang banyak. Memberikan peringatan dini ini kan salah satu yang bermanfaat bagi masyarakat banyak, termasuk warga kami," kata Saikhu Muhammad, Ketua RW 08 di Pondok Gede Permai, salah satu perumahan yang paling sering menerima luapan banjir.
"Targetnya adalah minimalisir kerugian. Sebelum ada grup WA dan lain-lain, kami menggunakan radio HT. Jika situasi genting diumumkan melalui pengeras suara masjid maupun musholla. Sekarang sih sudah lebih mudah diumumkan melalui grup WA ya. Alhamdulillah setelah info disebar kendaraan aman di tempat yang lebih tinggi. Terus barang di rumah juga naik ke lantai 2, kalau nggak ada lantai 2 ya bisa numpang di tetangga yang ada lantai duanya," kata Saikhu.
Teknologi Real Time
Perumahan PGP, Kota Bekasi, ketika mengalami banjir parah pada 2021 silam. (Dok. KP2C)
Tanpa dipromosikan, informasi TMA dari KP2C makin diminati masyarakat Bogor-Bekasi dan sekitarnya. Dukungan publik mulai membesar, ditandai dengan donasi sukarela anggota perorangan yang dipakai sebagai modal mendanai kegiatan.
KP2C masih menyediakan anggaran pulsa untuk pemantau TMA, tetapi tugas pemantauan kini diserahkan pada telemetri dan CCTV - yang dipasang di berbagai titik pantau strategis.
Telemetri memungkinkan dilakukan pengukuran jarak jauh dan pelaporan informasinya kepada operator sistem. Sementara CCTV dipakai untuk memantau alat ukur ketinggian air (peilscale) yang bentuknya mirip penggaris raksasa dengan cat warna-warni untuk memudahkan sistem peringatan dan dipasang berdiri persis di pintu air atau tanggul kali.
Sampai 2021 KP2C sudah punya 3 telemetri dan peilscale lengkap dengan CCTV di tujuh titik. Dalam sehari laporan TMA diberikan minimal tiga kali melalui 20 grup WA, 1 kanal Telegram, 1 akun Instagram, Facebook dan Twitter.
Jumlah seluruh anggota diperkirakan mencapai lebih dari 22 ribu orang. Jika satu anggota mewakili satu keluarga dengan rata-rata 4 orang, bisa diperkirakan jumlah penerima manfaat KP2C mencapai lebih dari 80 ribu orang.
Jika semua alat berjalan normal, semua data yang dihasilkan akurat dan real time. Begitu akuratnya, selain diandalkan warga data KP2C kini jadi rujukan petugas Bendung Kali Bekasi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemkot Bekasi dan Pemkab Bogor, aparat militer dan polisi, hingga pemerintah pusat melalui Balai Besar Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC).
Iyan yang sejak 2005 sudah bekerja membantu KP2C di Tlajung Udik, kini diserahi tanggung jawab memantau dengan telemetri.
"Tugas saya adalah menginformasikan TMA kepada dua pihak: KP2C dan BBWSCC. Kalau situasi TMA normal, saya kirim data dua kali pagi dan sore. Tapi kalau sedang tinggi, saya update setiap 15 menit sekali selama 24 jam," kata Iyan.
Telemetri dipasang sekitar 600 meter dari rumah Iyan. Alat akan mengirim sinyal ke ponselnya saat debit air naik dengan TMA di atas normal. Data itulah yang kemudian diteruskan kepada KP2C dan BBWSCC.
Banjir 1 Januari 2020 di Vila Nusa Indah, Bojongkulur, Kab Bogor. (Foto: Dok. KP2C)
Tantangan ke Depan
Dengan pengakuan yang makin luas, posisi KP2C makin diperhitungkan. KP2C bermitra dengan lebih dari 25 lembaga termasuk korporasi dan partai politik yang ingin memberi bantuan korban banjir.
Organisasi ini juga kerap bertemu pejabat daerah dan pusat untuk mengajukan usulan solusi.
Dalam salah satu audiensi dengan pemerintah, Kepala BMKG Profesor Dwikorita Karnawati diberitakan terkesan dengan cara kerja KP2C dan menyebutnya sebagai model sistem peringatan dini yang bisa dipraktikkan di tiap titik banjir. Tetapi tugas makin berat juga dihadapi pengurus yang kini berjumlah 18 orang yang rata-rata berusia di atas 50 tahun.
"Sebagian dari kita memang sudah pensiun. Tapi juga masih ada yang harus bekerja cari penghasilan. Itu berarti harus pintar ngatur waktu supaya tetap bisa bantu organisasi. Sebenarnya kita sudah ngajak-ngajak juga, ayo yang muda-muda ikut. Tapi sampai sekarang entah kenapa kok belum berhasil," kata Irna Sriwijayanti, Bendahara KP2C.
Situasi bisa sangat menantang ketika situasi banjir terjadi sehingga permintaan informasi sangat tinggi, sementara para pengurus sendiri jadi korban banjir.
"Itu rasanya ya Allah, gimana ya... Biasanya sih kita saling pengertian aja, langsung lapor "saya mundur dulu ya" gitu. Supaya bisa digantikan yang lain. Tapi kadang ada juga member yang tetap berkeras menghubungi sementara situasi kita juga lagi darurat," kata Sri Pujiastuti, pengurus Divisi Komunikasi.
Puji, pengurus yang juga warga RT01 PGP, menceritakan pengalaman banjir besar 2020 yang merendam rumahnya sampai lantai 2 sementara pada saat yang sama menerima panggilan telepon warga yang minta bantuan evakuasi.
Sedikitnya 763 permintaan evakuasi dicatat KP2C pada hari itu.
"Saat ini memang KP2C bisa memberi kontribusi pada warga. Tapi ini kan sesungguhnya tugas pemerintah ya... Mohon bapak-bapak yang punya wewenang segera program normalisasi sungai dilaksanakan. Supaya kita semua bebas dari rasa takut kebanjiran tiap saat. Mau sampai kapan kita diberi janji-janji terus," pinta Irna.
Proyek normalisasi Kali Bekasi bagian pertama sudah dimulai meski sempat molor hampir setahun dari rencana awal. Proyek lain untuk normalisasi Kali Cikeas dan Ciluengsi yang juga direncanakan mulai tahun ini sampai kini belum berjalan karena isu pembebasan lahan.