Bobby Nasution Kucurkan Anggaran Rp198 M Atasi Stunting di Medan

CNN Indonesia
Rabu, 06 Jul 2022 20:45 WIB
Wali Kota Medan Bobby Afif Nasution menggelontorkan Rp198 miliar untuk mengatasi tingginya angka stunting di Sumatera Utara. Wali Kota Medan Bobby Afif Nasution (CNN Indonesia/Farida)
Medan, CNN Indonesia --

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjuk Kota Medan sebagai tuan rumah penyelenggaraan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29 yang digelar pada Kamis (7/6).

Wali Kota Medan Bobby Afif Nasution mengatakan dengan diselenggarakannya Harganas di Kota Medan menjadi motivasi baginya untuk lebih terpacu menurunkan prevalensi stunting di wilayahnya.

"Penurunan stunting sendiri penting untuk menghindari dampak jangka panjang yang dapat merugikan seperti terhambatnya tumbuh kembang anak dan juga mempengaruhi perkembangan otak, sehingga tingkat kecerdasan anak tidak maksimal," kata Bobby, Rabu (6/8).

Menurut Bobby, jumlah anak stunting yang saat ini tercatat di Kota Medan sebanyak 550 balita, yang 20 persen di antaranya adalah bayi di atas dua tahun. Pemko Medan sendiri telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp198 miliar pada 2022 untuk menurunkan angka stunting di Kota Medan.

"Pemkot Medan telah membuat 15 program dan 16 kegiatan serta 29 sub kegiatan yang dilakukan oleh 10 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menurunkan angka stunting. Besar harapan Harganas ini jadi wadah bagi kita untuk saling belajar dan aplikasikan kegiatan yang tepat guna untuk turunkan angka stunting," jelas Bobby.

Sementara itu, Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan, stunting menjadi ancaman terhadap kualitas generasi muda Indonesia. Oleh karena itu peran serta masyarakat untuk menurunkan angka stunting menjadi sangat penting untuk menciptakan generasi unggul di tahun 2045.

"Dalam rangka mencapai bonus demografi, kita menghadapi generasi yang populasinya cukup besar yaitu generasi muda," urai Hasto.

Hasto merinci, generasi muda Indonesia saat ini sebanyak 24,4% mengalami stunting, 9,8% memiliki mental emotional disorder, lima persen Napza, dan satu persen autisme, serta tiga persen difabel. Dia pun menyayangkan jika Indonesia tidak bisa menikmati bonus demografi lantaran memiliki generasi penerus yang tidak produktif.

"Sehingga hampir 40 persen generasi muda kita kurang optimal. Kalau kita bisa menurunkan angka stunting, kita bisa mengurangi faktor pemberat SDM. SDM ini juga investasi yang penting," bebernya

(fnr/isn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER