Yogyakarta, CNN Indonesia -- Kasus kejahatan jalanan alias klitih lagi-lagi menjadi sorotan usai viralnya aksi dua pelajar membawa senjata tajam berupa celurit di Mertoyudan, Kota Magelang, Jawa Tengah, Senin (6/3) kemarin.
Dua pelajar SMK yang berboncengan dengan sepeda motor itu pun akhirnya dilumpuhkan oleh seorang warga dengan cara ditabrak menggunakan mobilnya.
Bukan hanya di kota itu saja, sebelumnya kasus klitih--setidaknya sejak 2021 silam--ramai dibicarakan di wilayah Provinsi DI Yogyakarta yang berbatasan dengan Magelang, Jawa Tengah itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus klitih yang membuat riuh publik ini bukan kali ini saja. Berikut sederet kasus klitih yang sempat menyita perhatian masyarakat dirangkum dari catatan redaksi CNNIndonesia.com.
1. Remaja bawa celurit kejar ibu-ibu
Dua anak berstatus bawah umur yang merupakan pelajar SMK di Kota Magelang ditangkap setelah sebelumnya kendaraan sepeda motor yang ditumpangi keduanya ditabrak menggunakan Nissan Xtrail oleh seorang warga, di wilayah Mertoyudan, Senin (6/3) dini hari.
Warga bernama M Kholik Sugiarto (48) yang menumpang Nissan Xtrail sebelumnya melihat kedua anak itu mengacung-acungkan celurit dan menduga hendak mengincar seorang ibu-ibu pemotor.
Nissan Xtrail yang mencoba menghalau malah beberapa kali kena sabetan celurit. Kholik kemudian mengambil alih setir dari kakaknya dan menabrak kedua pelajar tersebut hingga masuk ke kolong truk. Para remaja itu kemudian diamankan jajaran Polsek Mertoyudan. Mereka berdalih membawa senjata tajam untuk membela diri.
2. Penganiayaan di Titik Nol Km Yogyakarta
Sebanyak 6 orang warga Kota Yogyakarta ditangkap jajaran Polresta setempat pada awal Februari 2023 lalu setelah diduga menganiaya seorang mahasiswa asal NTB di Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta memakai sepotong besi hingga celurit.
Berdasarkan pengakuan salah satu pelaku berinisial GN (17), penganiayaan dipicu atraksi motor korban saat melintasi Jalan Malioboro. Niat pelaku yang mencoba mengingatkan berujung aksi saling baku hantam antara GN dan korban beserta.
Pelaku yang tidak terima lantas memanggil kelima rekannya untuk menganiaya korban. Beruntung, korban selamat karena hanya menderita luka ringan.
Video penganiayaan di Nol Kilometer Yogyakarta ini sempat viral sehari setelah kejadian.
3. Pelajar tewas kena sabetan gir
Aksi klitih menewaskan siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Daffa Adzin Albazith (17), di Jalan Gedongkuning, Kotagede, Kota Yogyakarta, terjadi April 2022 lalu. Korban diketahui merupakan putra dari anggota DPRD Kebumen Makhdan Anis.
Lima pelaku berhasil ditangkap dan telah menerima dijatuhi hukuman berbeda-beda oleh PN Yogyakarta November tahun lalu.
Dalam dakwaannya, kelima pelaku sempat terlibat kejar mengejar dengan rombongan korban menggunakan sepeda motor di Kotagede. Hingga akhirnya mereka tiba di Gedongkuning, salah satu pelaku yakni Ryan Nanda Saputra (19) menyabetkan gir sepeda motor dan mengenai bagian kepala korban.
Korban pun meninggal dan tak beberapa hari setelahnya para pelaku ditangkap.
Momen persidangan perkara ini juga menyita atensi publik saat kelima pelaku bersikukuh menjadi korban salah tangkap oleh kepolisian. Mereka melalui kuasa hukum masing-masing pun mengajukan kasasi ke MA usai banding ditolak Januari 2023 kemarin.
4. Jogja darurat klitih
Berikutnya adalah dua peristiwa yang terjadi hampir bersamaan dan kemudian memicu munculnya tagar #SriSultanYogyaDaruratKlitih pada akhir 2021 silam.
Peristiwa pertama terjadi di wilayah Kabupaten Sleman. Kejadiannya, Senin (27/12) dini hari, korbannya adalah seorang remaja berinisial D (16) serta F (16). Korban diduga mengalami pengeroyokan dan pembacokan oleh enam orang.
Keenam orang yang kemudian ditangkap itu ternyata sebagian besar masih berstatus pelajar dan merupakan anggota geng.
Kejadian ini diawali ketika para pelaku merayakan suatu acara di sebuah hotel Jalan Kaliurang, Sleman. Saat perjalanan pulang, keenamnya terlibat keributan dengan pengguna jalan yang tak lain adalah D dan F. Polisi mengklaim ketersinggungan menjadi motif di balik kejadian ini.
Sementara itu, satu peristiwa yang diduga klitih lainnya sempat viral di media sosial dan memakan korban seorang perempuan. Tangannya mengalami luka mirip sayatan usai sempat dipepet sepeda motor yang dikendarai dua orang tak dikenal berboncengan. Kejadiannya di Underpass Kentungan, Depok, Sleman, Senin (27/12) malam.
Baca halaman selanjutnya
Pemda kecewa, bisa coreng citra pariwisata
Ilustrasi tempat kejadian perkara kejahatan klitih. (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Terkait aksi penganiayaan di Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta beberapa waktu lalu, Sekretaris Daerah Provinsi DIY Kadarmanta Baskara Aji mengaku pihaknya khawatir itu bakal mencoreng citra pariwisata wilayahnya.
Menurutnya, jika keamanan tidak terjamin maka pariwisata pun akan kehilangan daya tariknya. Ujung-ujungnya berimbas ke banyak sektor termasuk ekonomi. Oleh karena itu, pihaknya pun mendukung penegak hukum untuk memperberat jeratan bagi pelaku penganiayaan tersebut.
"Itu sebetulnya ada pemberatnya, melakukan kekerasan, usia masih muda dan tempatnya juga di pusat destinasi wisata Yogyakarta. Banyak merugikan masyarakat, jadi kita serahkan saja proses hukum di tangan kepolisian agar segera dapat efek jera. Bukan hanya kepada orang yang bersangkutan tetapi kepada orang lain juga," kata Aji, Jumat (10/2).
Sementara itu jajaran Polresta Yogyakarta pada hari yang sama secara terpisah menyatakan kasus kejahatan jalanan alias klitih di wilayah tersebut nihil tiga bulan belakangan. Pembacokan di Titik Nol Kilometer adalah yang pertama di tahun 2023 ini.
"Kejahatan jalanan yang meresahkan berdasarkan data yang ada Desember (2022) sampai Februari (2023) sudah tidak ada. Terakhir November," kata Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Saiful Anwar, Jumat (10/2).
Dia mengklaim situasi itu adalah hasil cipta kondisi yang dilakukan lintas instansi dan masyarakat untuk menekan angka klitih. Setidaknya situasi itu bertahan sampai kasus pembacokan di Titik Nol Kilometer terjadi Selasa (7/2) dini hari.
Meskipun demikian, kepolisian melihat peristiwa di Titik Nol Kilometer Yogyakarta itu bukan sebagai kejadian kejahatan jalanan, karena pelaku tak memilih korban secara acak di jalanan. Pada kasus di titik nol itu, kata dia, diawali gesekan antardua belah pihak sebagai pemicunya.
"Wilayah Jogja itu sudah relatif kondusif, tiga bulan terakhir sudah tidak ada kasus ini. Kejadian yang kemarin ini di luar motif yang sering terjadi, berbeda kasusnya, berbeda tipikal," terang Saiful.
Di dalam kota Yogyakarta, Pemkot setempat telah memberlakukan jam malam anak untuk mencegah kasus kejahatan jalanan atau 'klitih' sejak tahun lalu.
Jam malam ini berlakukan lewat Peraturan Walikota Nomor 49 Tahun 2022. Anak-anak berusia di bawah 18 tahun dilarang meninggalkan rumah pada pukul 22.00-04.00 WIB setiap hari, kecuali dalam kondisi tertentu.
Pj Wali Kota Yogyakarta Sumadi kala itu menerangkan aturan jam malam ini merupakan salah satu upaya Pemkot dalam menciptakan kota layak anak. Menurut analisis, kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH) di wilayah Kota Yogyakarta seringkali bermuara dari minimnya interaksi keluarga di dalam rumah.
"Kami di Yogyakarta itu ingin membuat kota layak anak. Artinya salah satu item penting kota layak anak itu bagaimana adanya relasi hubungan antara keluarga yang selama ini agak terkikis. Itu anak-anak kalau malam sekarang ya di rumah. Di situ ada relasi hubungan antara orang tua-anak, dengan saudara, simbahnya, biar ada komunikasi," kata Sumadi saat dihubungi, Kamis (23/6/2022).