Mimpi Koalisi Permanen dan Panas Bursa Cawapres Prabowo
CNN Indonesia
Kamis, 15 Jun 2023 09:21 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Penentuan sosok cawapres pendamping Prabowo Subianto dinilai bakal alot jika koalisi permanen terbentuk. (CNNIndonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Arifki menyebut perundingan soal sosok cawapres pendamping Prabowo juga akan berjalan alot di antara empat partai yang berencana bergabung dalam koalisi permanen tersebut.
Bahkan, ia menilai perdebatan soal sosok cawapres itu bisa menjadi batu sandungan terbentuknya koalisi permanen. Setidaknya ada empat nama berpotensi jadi cawapres Prabowo.
Mereka antara lain Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Menteri BUMN Erick Thohir, hingga Gubernur Jawa Barat yang kini politikus Golkar Ridwan Kamil
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau saya melihat iya itu perundingan yang cukup alot itu antara Prabowo memilih Airlangga (Golkar) atau Cak Imin (PKB), meski muncul nama Erick Thohir (usulan PAN), tentu Erick Thohir ibaratnya kan pemain nonpartai, tentu dia secara daya tawar akan lebih lemah dibanding Cak Imin dan Airlangga," katanya.
Merujuk pada situasi ini, Arifki berpendapat pembentukan koalisi permanen juga tak perlu dipaksakan jika memang tak ada kesepakatan soal sosok cawapres pendamping Prabowo.
"Saya juga akan berpikir ketika misal enggak perlu juga dipaksakan jadi koalisi besar ketika memang masih alot menentukan cawapres. Misal antara Gerindra dan PKB bisa sendiri atau Gerindra dan Golkar bisa sendiri, jadi enggak harus dipaksakan koalisi besar," ujarnya.
Sementara itu, peneliti Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro mengatakan dengan melihat pada dinamika politik saat ini pilihan yang paling tepat bagi Golkar dan PAN adalah berkoalisi dengan Gerindra dan PKB.
Bawono menuturkan sebenarnya Golkar dan PAN bisa saja maju bersama di Pilpres 2024 dengan mengusung pasangan tersendiri. Namun, jika melihat hasil survei belakangan ini, hasil hitungan elektoral yang ada tak menjanjikan bagi keduanya.
"Jadi memang jauh lebih realistis bagi kedua partai ini (Golkar dan PAN) untuk merapat pada salah satu koalisi capres yang saat ini sudah terbentuk," ujarnya.
Kendati demikian, Bawono mengamini pembahasan soal siapa sosok cawapres yang akan mendampingi Prabowo akan menjadi perdebatan alot di antara keempat partai tersebut jika koalisi permanen jadi terbentuk.
"Jalan menuju ke sana akan sangat alot dan pentuh tarik menarik kepentingan," katanya.
Namun, Bawono memprediksi kesepakatan di antara keempat partai itu akan terbentuk. Sebab, kata dia, tawaran politik kepada partai koalisi itu tak hanya berpaku pada soal jatah cawapres semata.
"Konsesi politik bisa diberikan kepada mitra koalisi kan tidak terbatas pada posisi bakal calon wakil presiden saja, bisa juga dengan posisi ketua tim pemenangan atau posisi strategis kementerian di kabinet nanti," ucap Bawono.
Wacana koalisi besar antara Gerindra, Golkar, PAN, dan PKB masih belum mencapai kata final. Meskipun para petinggi partai dalam beberapa kesempatan tampak yakin koalisi akan terbentuk.
Partai Golkar mendorong pembentukan poros baru koalisi permanen dengan meleburkan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) yang terdiri atas Gerindra dan PKB dengan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang terdiri dari Golkar dan PAN.
Ketua DPP Golkar, Lamhot Sinaga mengatakan gagasan pembentukan koalisi permanen ini guna meneruskan pembangunan era Presiden Joko Widodo. Keempat partai tersebut saat ini juga merupakan partai pendukung pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teranyar, Golkar bahkan menyatakan KIB siap mengalah soal jatah kursi capres demi melebur dengan KKIR. Kubu KIB juga diklaim rela mengalah jadi cawapres dalam peleburan koalisi tersebut.
KKIR telah menentukan bakal capres yang akan diusung adalah Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.
"Kan KKIR sudah mempunyai calon presiden yang pakem, yang tidak mau ditawar, namanya Pak Prabowo Subianto. Supaya ini bisa melebur, kan kita juga harus ada yang mau mengalah. Oke kalau begitu presidennya dari KKIR, tapi wakil presidennya dari KIB," kata Ketua Badan Pemenangan Pemilu Presiden Golkar Nusron Wahid.
Analis Politik dan Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Arifki Chaniago berpandangan rencana pembentukan koalisi permanen oleh empat partai itu berpeluang berhasil. Terlebih, sejak PPP memutuskan untuk bergabung bersama PDIP mengusung Ganjar Pranowo menjadi capres 2024.
Peluang koalisi permanen itu akan terbentuk juga bisa terlihat dari latar belakang keempat partai tersebut yang saat ini merupakan partai pendukung pemerintahan Jokowi.
"Artinya kalau memang Jokowi menyiapkan dua figur yang akan menjadi capres atau yang akan diusung oleh dia sebagai king maker 2024 kan ada Ganjar sama Prabowo, makanya pilihan politik yang akan diambil partai koalisi pendukung Jokowi yaitu ikut Ganjar atau ikut Prabowo makanya kemungkinannya (koalisi permanen terbentuk) ada," kata Arifki saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (14/6).
Arifki menyebut peluang terbentuknya koalisi permanen itu juga tak terlepas dari hitung-hitungan sosok cawapres. Apalagi jika melihat pola pemilihan cawapres oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada pilpres sebelumnya.
Merujuk pada Pilpres yang lalu, kata Arifki, biasanya cawapres yang ditunjuk untuk mendampingi capres pilihan PDIP selalu berdasarkan tiga hal, yakni sosok yang sudah tua, sosok yang berasal dari NU, atau sosok yang berasal dari luar Jawa.
"Kemungkinan-kemungkinan itu juga akan dibaca oleh para cawapres dari PAN, Golkar, maupun PKB, bahwa kemungkinan mereka akan menjadi cawapres Ganjar kecil," katanya.
"Makanya peluang besar yang dilihat oleh Golkar dan PAN itu berkoalisi dengan Prabowo karena PAN dan Golkar enggak mungkin ke Anies, karena mereka partai pendukung Pak Jokowi," sambungnya.
Baca kelanjutan analisis ini ke halaman berikutnya...
Alot Kandidat Cawapres Prabowo
Penentuan sosok cawapres pendamping Prabowo Subianto dinilai bakal alot jika koalisi permanen terbentuk. (CNNIndonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Arifki menyebut perundingan soal sosok cawapres pendamping Prabowo juga akan berjalan alot di antara empat partai yang berencana bergabung dalam koalisi permanen tersebut.
Bahkan, ia menilai perdebatan soal sosok cawapres itu bisa menjadi batu sandungan terbentuknya koalisi permanen. Setidaknya ada empat nama berpotensi jadi cawapres Prabowo.
Mereka antara lain Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Menteri BUMN Erick Thohir, hingga Gubernur Jawa Barat yang kini politikus Golkar Ridwan Kamil
"Kalau saya melihat iya itu perundingan yang cukup alot itu antara Prabowo memilih Airlangga (Golkar) atau Cak Imin (PKB), meski muncul nama Erick Thohir (usulan PAN), tentu Erick Thohir ibaratnya kan pemain nonpartai, tentu dia secara daya tawar akan lebih lemah dibanding Cak Imin dan Airlangga," katanya.
Merujuk pada situasi ini, Arifki berpendapat pembentukan koalisi permanen juga tak perlu dipaksakan jika memang tak ada kesepakatan soal sosok cawapres pendamping Prabowo.
"Saya juga akan berpikir ketika misal enggak perlu juga dipaksakan jadi koalisi besar ketika memang masih alot menentukan cawapres. Misal antara Gerindra dan PKB bisa sendiri atau Gerindra dan Golkar bisa sendiri, jadi enggak harus dipaksakan koalisi besar," ujarnya.
Sementara itu, peneliti Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro mengatakan dengan melihat pada dinamika politik saat ini pilihan yang paling tepat bagi Golkar dan PAN adalah berkoalisi dengan Gerindra dan PKB.
Bawono menuturkan sebenarnya Golkar dan PAN bisa saja maju bersama di Pilpres 2024 dengan mengusung pasangan tersendiri. Namun, jika melihat hasil survei belakangan ini, hasil hitungan elektoral yang ada tak menjanjikan bagi keduanya.
"Jadi memang jauh lebih realistis bagi kedua partai ini (Golkar dan PAN) untuk merapat pada salah satu koalisi capres yang saat ini sudah terbentuk," ujarnya.
Kendati demikian, Bawono mengamini pembahasan soal siapa sosok cawapres yang akan mendampingi Prabowo akan menjadi perdebatan alot di antara keempat partai tersebut jika koalisi permanen jadi terbentuk.
"Jalan menuju ke sana akan sangat alot dan pentuh tarik menarik kepentingan," katanya.
Namun, Bawono memprediksi kesepakatan di antara keempat partai itu akan terbentuk. Sebab, kata dia, tawaran politik kepada partai koalisi itu tak hanya berpaku pada soal jatah cawapres semata.
"Konsesi politik bisa diberikan kepada mitra koalisi kan tidak terbatas pada posisi bakal calon wakil presiden saja, bisa juga dengan posisi ketua tim pemenangan atau posisi strategis kementerian di kabinet nanti," ucap Bawono.