Yogyakarta, CNN Indonesia -- Merebaknya penyakit antraks di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta selama beberapa tahun terakhir disebut tak lepas dari penyebarannya di beberapa wilayah tetangga.
Selain itu tidak kalah penting yakni perilaku mengonsumsi daging ternak mati karena sakit oleh masyarakat setempat.
Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) DIY Aniq Syihabuddin menjelaskan status Gunungkidul sebagai lokasi endemi antraks sejatinya tak terjadi secara tiba-tiba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, penyakit ini sudah terlebih dahulu masuk ke DIY sebelumnya seperti di Sleman pada 2003, Kulon Progo dan Bantul 2017. Kemudian pada 2019 muncul di Karangmojo, Gunungkidul.
"Jadi sejarahnya DIY tidak terlepas dari daerah sekitarnya juga, dulu juga pernah di Boyolali, Wonogiri, itu juga sudah," kata Aniq saat dihubungi, Jumat (7/7).
Lalu lintas hewan ternak ditengarai menjadi pemicu sampainya antraks ke Gunungkidul. Sementara, sifat spora yang dihasilkan dari bakteri pemicu antraks menjadi sumber infeksi ke hewan dan manusia.
Dia menerangkan antraks bersifat zoonosis atau mampu menular dari hewan ke manusia, namun tidak untuk antarmanusia. Penularan dari hewan ini umumnya melalui kontak langsung seperti bersentuhan dengan tubuh yang luka. Seseorang juga bisa terpapar jika menghirup spora antraks.
Sebagai informasi, di Gunungkidul, menyembelih dan mengonsumsi ternak mati bak sudah jadi kebiasaan masyarakat setempat atau diporak. Proses penyembelihan inilah yang kemudian diduga menjadi pintu masuk kemunculan spora.
Saat proses penyembelihan, darah ternak yang mengandung bakteri antraks mengucur ke tanah lalu menjadi spora kala terpapar udara.
Spora sebagai sumber infeksi ini sangat resisten terhadap kondisi lingkungan dan bahan kimia tertentu serta mampu bertahan selama puluhan tahun di dalam atau permukaan tanah.
Spora yang tahan di tanah ini ketika masuk ke dalam tubuh ternak melalui makanan atau minuman, akan menyebabkan infeksi. Masyarakat yang mengonsumsi ternak mati karena antraks ini berpotensi terkontaminasi juga.
"Kalau di daerah lain, mungkin kalau hewan mati ya sudah, dikubur. Tapi kalau di Gunungkidul ya diporak itu tadi, mengonsumsi bangkai yang sudah terinfeksi antraks," papar Aniq.
Langkah pemerintah daerah persempit risiko antraks
Aniq menyebut pemerintah daerah setempat plus provinsi juga sudah tak kurang-kurang dalam menangani penyebaran antraks.
Oleh karena itu, kata Aniq, ke depan pihaknya menyarankan agar jangkauan vaksinasi hewan ternak semestinya diperluas demi antisipasi penyebaran antraks terjadi lagi.
Selain itu disinfeksi kandang atau lingkungan sekitar ternak secara rutin merata ke seluruh wilayah, termasuk sosialisasi kepada masyarakat agar tak mengonsumsi hewan mati karena sakit.
Masyarakat harus patuh larangan mengonsumsi tadi guna memutus mata rantai penyebaran antraks ini. Aniq turut menyarankan para peternak mengganti model beternak yang lebih higienis. Salah satunya dengan beralih ke kandang tipe beton.
Aniq menuturkan, kandang ternak berlantai tanah berisiko menjadi sarana penularan antraks sebab spora yang mampu bertahan bahkan sampai 80 tahun di tanah. Selain mudah dibersihkan dan tidak lembab, cairan disinfeksi yang disemprotkan pada kandang berlantai semen bisa lebih maksimal dan merata.
"Standar kandang di masyarakat kan kita tahu seperti apa, istilahnya biosecurity-nya tidak mendukung. Tidak harus beton, walaupun itu lebih mudah dibersihkan dan memiliki sanitasi yang baik. Semen itu lebih mudah dibersihkan ketimbang tanah," katanya.
Setelah semua upaya penanggulangan itu, masih perlu dibarengi sederet tindakan lain macam pengetatan pengawasan lalu lintas ternak, hingga penyelidikan epidemiologi pada hewan secara menyeluruh saat muncul kasus.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), kasus antraks ini sudah kesekian kalinya merebak di Gunungkidul. Catatan mereka mengungkap, antraks pernah muncul pada Mei dan Desember 2019, Januari 2020, Januari 2022, dan terakhir Juni 2023 ini.
Baca halaman selanjutnya
Karateristik Gunungkidul dan Kasus Antraks Berulang
TRC BPBD Gunungkidul melakukan penyemportan dekontaminsi bakteri antraks untuk mencegah meluasnya penyakit itu. (Antara Foto/Hendra Nurdiyansyah)
Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DPKP) DIY Sugeng Purwanto mengatakan, Gunungkidul memiliki karakteristik tersendiri hingga membuat kasusnya berlarut-larut atau tak cukup satu kali kejadian seperti di Sleman atau Kulon Progo.
Faktor pertama, yakni kontur wilayah plus model beternak di Gunungkidul kemungkinan membuat pemerintah setempat atau instansi terkait kesulitan mengantisipasi penyebaran antraks.
"Perbedaan kita dengan mungkin di daerah lain ya kalau di sini kepemilikan ternaknya itu kan sedikit-sedikit dan terpencar di masyarakat bisa. Beda di daerah provinsi lain misalnya itu dalam bentuk kelompok besar, sehingga penanganannya itu menjadi lebih cepat karena tersentral," kata Sugeng di kantornya, Kamis (6/7) lalu.
Faktor lain yang perlu diingat, kata Sugeng adalah Gunungkidul sebagai pusat populasi hewan ternak tertinggi di DIY.
"Jadi kalau yang kecil (populasinya), penanganannya lebih sederhana, lebih mudah," sambungnya.
[Gambas:Photo CNN]
DPKP juga menyadari masih perlunya upaya persuasif, mengedukasi masyarakat agar tak menyembelih dan mengonsumsi hewan ternak yang mati karena sakit. Mengingat itu adalah salah satu sarana penularan antraks dari hewan ke manusia.
Kasus penyakit antraks dilaporkan merebak di Dusun Jati, Candirejo, Semanu, Gunungkidul. Pemerintah kabupaten setempat menyebut ada 87 pasien positif terpapar berdasarkan tes serologi dan satu warga meninggal usai terjangkit antraks.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul belum mengumumkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk antraks karena mengklaim bisa melokalisasi penyakit ini di Dusun Jati.
Padahal, mengacu ke Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 1501 tahun 2010, status KLB antraks di sana semestinya sudah diterapkan sejak pertama merebak di Gunungkidul 2019 lalu.