Koalisi Kuat PDIP dan Demokrat Bisa Terjadi Jika Megawati-SBY Move On
CNN Indonesia
Jumat, 08 Sep 2023 09:52 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Wacana Demokrat masuk koalisi PDIP menguat jelang Pilpres 2024. CNN Indonesia/Andry Novelino
Jakarta, CNN Indonesia --
Rencana pertemuan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputridengan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelang Pilpres 2024 menguat.
Wacana ini mencuat usai Demokrat secara resmi mundur dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan serta mencabut dukungan untuk Anies Baswedan sebagai capres. Artinya, Demokrat kini tengah mengkaji opsi untuk mendukung Ganjar Pranowo atau Prabowo Subianto.
Politikus PDIP Deddy Yevry Sitorus mengatakan peluang pertemuan antara Megawati dengan SBY sangat terbuka. Menurutnya, Megawati tak pernah menolak bertemu siapapun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deddy juga mengatakan partainya masih menunggu sikap politik final dari Partai Demokrat terkait rencana koalisi usai resmi meninggalkan koalisi pengusung Anies Baswedan.
Di sisi lain, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Jansen Sitindaon menilai wacana pertemuan SBY dan Megawati jelang Pilpres 2024 sebagai hal yang baik.
Baginya, pertemuan keduanya bukan saja akan berdampak baik bagi politik elektoral menjelang Pilpres 2024, namun lebih jauh bagi masyarakat. Jansen bahkan membayangkan 'tembok berlin' Indonesia runtuh kalau SBY-Megawati bertemu.
SBY berstatus sebagai presiden RI di periode 2004-2014. Sebelum menjadi Presiden, SBY merupakan menteri di kabinet Megawati saat menjadi Presiden ke-5 RI. SBY menduduki jabatan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam).
SBY kemudian mundur beberapa bulan sebelum Pemilu 2004 dan mencalonkan diri menjadi salah satu kandidat.
Sejak saat itu, hubungan Mega dan SBY renggang, bahkan sampai sekarang. Pertemuan keduanya dalam dua dekade terakhir bahkan bisa dihitung dengan jari. SBY dan Mega sempat bertemu saat menghadiri peringatan HUT TNI ke-74 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, 5 Oktober 2019 lalu.
Terbaru, keduanya juga sempat bertemu pada jamuan makan malam pertemuan negara-negara G20 di Bali. Namun, selain SBY dan Mega, ada pula mantan wakil presiden Jusuf Kalla, Hamzah Haz, dan Try Sutrisno yang hadir dalam satu meja.
Selain SBY dan Megawati, putra SBY, Agus Harimurti Megawati dan Edhie Baskoro Yudhoyono sempat bertemu Megawati saat lebaran Idulfitri tahun 2019 lalu di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta.
Jelang Pilpres 2024, elite PDIP dan Demokrat justru lebih intens bertemu. Pada 11 Juni 2023 lalu, Sekjen Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya dan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bertemu dan berbincang-bincang di sebuah rumah makan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
Tujuh hari kemudian, AHY langsung bertemu dengan Ketua DPP PDIP Puan Maharani di Hutan Kota Plataran, Jakarta, 18 Juni lalu. Mereka berdua masing-masing membawa pesan dari Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pertemuan.
Puan mengungkapkan Megawati selaku Ketua Umum PDIP sekaligus ibunya menitipkan pesan agar tidak ada ketegangan dalam pertemuan tersebut.
PDIP kini telah mencalonkan Ganjar Pranowo sebagai capres bersama koalisi PPP, Perindo dan Hanura. Belakangan nama AHY masuk dalam salah satu nama cawapres Ganjar.
Harapan Megawati move on terima SBY
Pengamat politik dari Trias Politika Strategis Agung Baskoro mengatakan koalisi PDIP dan Demokrat dapat terwujud di Pilpres 2024 bila SBY dan Megawati bertemu dan saling legowo satu sama lain dan memaafkan problem yang terjadi di masa lalu.
"Yang jelas ada keinginan bersama dari Pak SBY yang ingin selesaikan problem masa lalu yang belum tuntas. Jadi melihat koalisi PDIP bisa terwujud dengan Demokrat ketika dari sisi PDIP dan Bu Mega legowo dan move on menerima pak SBY dan Demokrat sebagai rekan barunya," kata Agung kepada CNNIndonesia.com, Jumat (8/9).
Agung menilai problem antara Megawati dan SBY di masa lalu selalu menjadi ganjalan kedua partai ini untuk berkoalisi sampai sekarang.
Namun, ia melihat ada sinyal dari SBY untuk menyelesaikan problem tersebut dengan Megawati jelang Pilpres 2024 ini. Hal ini terlihat ketika SBY mencuitkan di akun X soal mimpi terkait rekonsiliasi antarelite jelang pemilu.
"Walaupun di pihak Bu Mega responsnya negatif ya. Ada pepatah 'pucuk dicinta ulam tiba', tapi secara personal ada pepatah lain 'cinta bertepuk sebelah tangan'. Ini narasi institusional dan personal enggak match," kata Agung.
Terlepas dari problem personal SBY dan Mega, Agung mengatakan baik Demokrat dan PDIP sebetulnya sama-sama memiliki kebutuhan satu sama lain. Di satu sisi, PDIP nantinya bisa memiliki tambahan kekuatan pendongkrak Ganjar guna imbangi elektabilitas Prabowo yang belakangan ini dominan.
Baginya, kehadiran Demokrat di koalisi PDIP bisa beri masukan positif agar raihan elektoral Ganjar Pranowo sebagai kandidat Capres bisa optimal.
"Bila berkoalisi hanya dengan parpol seperti PPP mesin politiknya akan terbatas. Demokrat juga punya ceruk pemilih di Jatim dalam konteks Mataraman, banyak membantu PDIP yang secara maksimal memahami Jatim dan Jateng secara utuh. Ini bisa dilapisi lagi," kata dia.
Sementara di sisi Demokrat, Agung mengatakan partai berlogo Bintang Mercy ini butuh 'rumah koalisi' baru setelah keluar Koalisi Perubahan pengusung Anies. Sehingga, opsinya antara bergabung dengan antara PDIP atau Koalisi Indonesia Maju pengusung Prabowo.
"Ketika secara historis bisa diselesaikan secara adat dan politik dengan win win solution, misalnya opsi AHY harus cawapres hilang, sekarang terkait portofolio di kabinet saja. Itu bantu koalisi ini terbentuk dan Demokrat bisa masuk," kata dia.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Arifki Chaniago mengatakan kurang baiknya hubungan Megawati dan SBY membuat PDIP dan Demokrat sulit berkomunikasi.
Meski hubungan AHY dan Puan berlangsung baik, namun ia berpandangan hubungan baik atau tidaknya kedua partai ini tetap berada di tangan SBY dan Megawati.
"Meskipun di sisi lainnya antara Puan dan AHY sudah punya komunikasi yang bagus. Tapi faktor Bu Mega sendiri yang menyulitkan PDIP dan Demokrat bisa bertemu untuk bangun koalisi," kata Arifki.
Sebaliknya, Arifki berpandangan bila Megawati dan SBY berbaikan, maka tak menutup peluang koalisi PDIP dan Demokrat terwujud. Jika Demokrat bergabung PDIP, Arifki meyakini koalisi pengusung Ganjar akan menjadi 'game changer' di Pilpres 2024.
"Jika bersatu, ini juga akan ubah peta permainan. Dan ini kita liat meruntuhkan tembok berlin antara PDIP dan Demokrat, maka kepentingan ini terlihat apakah sudah reda persoalan antara pak SBY dan Bu Mega? Apa ada agenda politis lain untuk melihat masa depan di 2024," kata dia.
Rencana pertemuan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputridengan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelang Pilpres 2024 menguat.
Wacana ini mencuat usai Demokrat secara resmi mundur dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan serta mencabut dukungan untuk Anies Baswedan sebagai capres. Artinya, Demokrat kini tengah mengkaji opsi untuk mendukung Ganjar Pranowo atau Prabowo Subianto.
Politikus PDIP Deddy Yevry Sitorus mengatakan peluang pertemuan antara Megawati dengan SBY sangat terbuka. Menurutnya, Megawati tak pernah menolak bertemu siapapun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Deddy juga mengatakan partainya masih menunggu sikap politik final dari Partai Demokrat terkait rencana koalisi usai resmi meninggalkan koalisi pengusung Anies Baswedan.
Di sisi lain, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat Jansen Sitindaon menilai wacana pertemuan SBY dan Megawati jelang Pilpres 2024 sebagai hal yang baik.
Baginya, pertemuan keduanya bukan saja akan berdampak baik bagi politik elektoral menjelang Pilpres 2024, namun lebih jauh bagi masyarakat. Jansen bahkan membayangkan 'tembok berlin' Indonesia runtuh kalau SBY-Megawati bertemu.
SBY berstatus sebagai presiden RI di periode 2004-2014. Sebelum menjadi Presiden, SBY merupakan menteri di kabinet Megawati saat menjadi Presiden ke-5 RI. SBY menduduki jabatan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menkopolkam).
SBY kemudian mundur beberapa bulan sebelum Pemilu 2004 dan mencalonkan diri menjadi salah satu kandidat.
Sejak saat itu, hubungan Mega dan SBY renggang, bahkan sampai sekarang. Pertemuan keduanya dalam dua dekade terakhir bahkan bisa dihitung dengan jari. SBY dan Mega sempat bertemu saat menghadiri peringatan HUT TNI ke-74 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, 5 Oktober 2019 lalu.
Terbaru, keduanya juga sempat bertemu pada jamuan makan malam pertemuan negara-negara G20 di Bali. Namun, selain SBY dan Mega, ada pula mantan wakil presiden Jusuf Kalla, Hamzah Haz, dan Try Sutrisno yang hadir dalam satu meja.
Selain SBY dan Megawati, putra SBY, Agus Harimurti Megawati dan Edhie Baskoro Yudhoyono sempat bertemu Megawati saat lebaran Idulfitri tahun 2019 lalu di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta.
Jelang Pilpres 2024, elite PDIP dan Demokrat justru lebih intens bertemu. Pada 11 Juni 2023 lalu, Sekjen Partai Demokrat Teuku Riefky Harsya dan Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto bertemu dan berbincang-bincang di sebuah rumah makan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
Tujuh hari kemudian, AHY langsung bertemu dengan Ketua DPP PDIP Puan Maharani di Hutan Kota Plataran, Jakarta, 18 Juni lalu. Mereka berdua masing-masing membawa pesan dari Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pertemuan.
Puan mengungkapkan Megawati selaku Ketua Umum PDIP sekaligus ibunya menitipkan pesan agar tidak ada ketegangan dalam pertemuan tersebut.
PDIP kini telah mencalonkan Ganjar Pranowo sebagai capres bersama koalisi PPP, Perindo dan Hanura. Belakangan nama AHY masuk dalam salah satu nama cawapres Ganjar.
Harapan Megawati move on terima SBY
Pengamat politik dari Trias Politika Strategis Agung Baskoro mengatakan koalisi PDIP dan Demokrat dapat terwujud di Pilpres 2024 bila SBY dan Megawati bertemu dan saling legowo satu sama lain dan memaafkan problem yang terjadi di masa lalu.
"Yang jelas ada keinginan bersama dari Pak SBY yang ingin selesaikan problem masa lalu yang belum tuntas. Jadi melihat koalisi PDIP bisa terwujud dengan Demokrat ketika dari sisi PDIP dan Bu Mega legowo dan move on menerima pak SBY dan Demokrat sebagai rekan barunya," kata Agung kepada CNNIndonesia.com, Jumat (8/9).
Agung menilai problem antara Megawati dan SBY di masa lalu selalu menjadi ganjalan kedua partai ini untuk berkoalisi sampai sekarang.
Namun, ia melihat ada sinyal dari SBY untuk menyelesaikan problem tersebut dengan Megawati jelang Pilpres 2024 ini. Hal ini terlihat ketika SBY mencuitkan di akun X soal mimpi terkait rekonsiliasi antarelite jelang pemilu.
"Walaupun di pihak Bu Mega responsnya negatif ya. Ada pepatah 'pucuk dicinta ulam tiba', tapi secara personal ada pepatah lain 'cinta bertepuk sebelah tangan'. Ini narasi institusional dan personal enggak match," kata Agung.
SBY disebut akan bertemu dengan Megawati jelang Pilpres 2024. Dok. Istimewa
Terlepas dari problem personal SBY dan Mega, Agung mengatakan baik Demokrat dan PDIP sebetulnya sama-sama memiliki kebutuhan satu sama lain. Di satu sisi, PDIP nantinya bisa memiliki tambahan kekuatan pendongkrak Ganjar guna imbangi elektabilitas Prabowo yang belakangan ini dominan.
Baginya, kehadiran Demokrat di koalisi PDIP bisa beri masukan positif agar raihan elektoral Ganjar Pranowo sebagai kandidat Capres bisa optimal.
"Bila berkoalisi hanya dengan parpol seperti PPP mesin politiknya akan terbatas. Demokrat juga punya ceruk pemilih di Jatim dalam konteks Mataraman, banyak membantu PDIP yang secara maksimal memahami Jatim dan Jateng secara utuh. Ini bisa dilapisi lagi," kata dia.
Sementara di sisi Demokrat, Agung mengatakan partai berlogo Bintang Mercy ini butuh 'rumah koalisi' baru setelah keluar Koalisi Perubahan pengusung Anies. Sehingga, opsinya antara bergabung dengan antara PDIP atau Koalisi Indonesia Maju pengusung Prabowo.
"Ketika secara historis bisa diselesaikan secara adat dan politik dengan win win solution, misalnya opsi AHY harus cawapres hilang, sekarang terkait portofolio di kabinet saja. Itu bantu koalisi ini terbentuk dan Demokrat bisa masuk," kata dia.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Arifki Chaniago mengatakan kurang baiknya hubungan Megawati dan SBY membuat PDIP dan Demokrat sulit berkomunikasi.
Meski hubungan AHY dan Puan berlangsung baik, namun ia berpandangan hubungan baik atau tidaknya kedua partai ini tetap berada di tangan SBY dan Megawati.
"Meskipun di sisi lainnya antara Puan dan AHY sudah punya komunikasi yang bagus. Tapi faktor Bu Mega sendiri yang menyulitkan PDIP dan Demokrat bisa bertemu untuk bangun koalisi," kata Arifki.
Sebaliknya, Arifki berpandangan bila Megawati dan SBY berbaikan, maka tak menutup peluang koalisi PDIP dan Demokrat terwujud. Jika Demokrat bergabung PDIP, Arifki meyakini koalisi pengusung Ganjar akan menjadi 'game changer' di Pilpres 2024.
"Jika bersatu, ini juga akan ubah peta permainan. Dan ini kita liat meruntuhkan tembok berlin antara PDIP dan Demokrat, maka kepentingan ini terlihat apakah sudah reda persoalan antara pak SBY dan Bu Mega? Apa ada agenda politis lain untuk melihat masa depan di 2024," kata dia.