Masjid Sultan Riau yang Ditempel dengan Putih Telur di Pulau Penyengat
CNN Indonesia
Sabtu, 16 Mar 2024 06:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Salah satu sudut di dalam Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. (CNN Indonesia/Arpandi)
Alhafiz mengatakan semua peninggalan sejarah yang ada di dalam masjid tersebut semuanya masih terjaga dan terawat dengan baik. Salah satunya mimbar yang terbuat dari kayu jati dan dipulas dengan cat berwarna keemasan.
Di bawah mimbar tersimpan sepiring pasir yang konon ceritanya berasal dari tanah Mekkah Al-Mukarramah. Pasir ini dibawa Raja Ahmad Engku Haji Tua, bangsawan pertama dari kerajaan yang menunaikan ibadah haji di 1820 masehi.
Pasir tersebut biasa digunakan masyarakat setempat pada upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi anak-anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk bangunan masjid dan benda - benda di dalam masjid, alhamdulillah masih terjaga keasliannya tidak ada yang dirubah," kata Alhafiz.
Di dalam masjid itu ada sebuah Al Quran kuno berukuran besar yang ditulis tangan dan disimpan dalam etalase. Alquran itu ditulis tangan pada 1867 silam oleh AbdurrahmanStambul. Dia adalah pemuda asal Pulau Penyengat yang disekolahkan kerajaan untuk belajar agama Islam di Istanbul, Turki kala itu.
Ada juga benda unik lainnya yang masih terjaga yaitu lampu kristal yang merupakan hadiah dari Kerajaan Prusia (Jerman) pada tahun 1860-an.
Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat ini sudah ditetapkan pemerintah sebagai benda cagar budaya bersama 16 situs sejarah lainnya di sana.
Alquran berukuran besar yang masih terjaga keasliannya sejak ditulis tangan pada 1867 silam masih tersimpan di Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. (CNN Indonesia/Ar Pandi)
Jelang bulan Ramadan, pengurus Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat juga akan menggelar tradisi tahlil jamak kenduri arwah untuk seluruh masyarakat Pulau Penyengat mendoakan mereka yang sudah tiada. Pada Ramadan tahun ini, tradisi itu digelar pada Jumat (8/3) lalu.
Selain itu, apabila sudah masuk bulan puasa juga akan di gelar tradisi buka puasa bersama di halaman masjid.
"Ada tradisi Jelang Ramadan, tahlil jamak kenduri arwah untuk seluruh masyarakat Pulau Penyengat. Kita ajak masyarakat datang ke masjid sama - sama mendoakan para arwah yang sudah meninggal dunia," ujar Alhafiz.
Saat CNNIndonesia.com menyambangi Pulau Penyengat sebelum Ramadan ini, terlihat banyak pengunjung di sana dan Masjid Raya Sultan Riau.
Tidak hanya pengunjung lokal, pengunjung dari luar negeri juga datang kesini seperti Malaysia dan Singapura. Para pengunjung yang datang ke Pulau Penyengat tidak hanya jalan-jalan untuk menikmati wisata religi. Namun, mereka juga melakukan ziarah makam para raja seperti Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji, Raja Hamidah, Raja Ahmad, Raja Abdullah, dan Raja Aisyah.
Pengurus masjid memperlihatkan sepiring pasir dari Mekkah yang disimpan di Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. (CNN Indonesia/Ar Pandi)
Untuk ke masjid bersejarah dan unik di Pulau Penyengat ini, Anda harus menggunakan perahu kayu atau dikenal dengan warga setempat boat pancung.
Jarak Pulau ini terpisah dengan lautan dari Kota Tanjungpinang Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau. Jarak tempuh, untuk tiba ke Pulau ini sekitar 15 menit dengan menyeberang lautan.
Tarif per orang untuk menyeberang ke sana apabila pengunjung dikenai biaya Rp. 9.000,-. Sedangkan untuk warga Pulau Penyengat dikenai biaya Rp. 7.000,- dan untuk anak sekolah dikenai biaya Rp. 5.000,-. Apabila sistem carter sekali jalan Rp. 130.000,- kalau pulang pergi Rp. 250.000,- dengan kapasitas perahu 15 orang.
"Boat pancung yang bawa penumpang ke Pulau Penyengat stand by dan berganti - ganti karena ada belasan perahu dengan sistem gilir untuk mengantar penumpang," kata Fendi salah satu penambang boat kepada CNNIndonesia.com.
Bangunan itu kokoh dengan arsitektur hingga warna kuningnya yang mencolok.
Ketua Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, Raja Alhafiz bercerita di masa lampau---saat era Kesultanan Riau, Lingga, Johor, dan Pahang---pulau itu kosong dan hanya jadi tempat singgah nelayan atau pelaut untuk mengambil bekal air minum. Pulau itu memiliki telaga air tawar untuk di minum dan airnya tidak pernah kering meski kondisi cuaca panas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, pulau itu dijadikan mahar atau mas kawin saat Sultan Mahmud Riayat Syah menikahi anak dari Raja Haji Fisabilillah, Raja Hamidah Engku Putri.
"Jadi banyak mengatakan, bahwa Pulau Penyengat Pulau Mas Kawin, dari Sultan Mahmud Riayat Syah ke Raja Hamidah Engku Putri," kata Alhafiz kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/3).
Masjid yang dibangun pada 1803 itu mulanya kecil menggunakan bahan kayu di pinggir pantai Pulau Penyengat. Namun, dengan berkembangnya peradaban, masjid tersebut kemudian dijadikan tempat pusat pemerintahan kerajaan.
Seiring dengan pesat berkembangnya masa itu, masjid tersebut tidak bisa menampung jumlah masyarakat yang ada sehingga Sultan memerintahkan untuk membangun masjid yang lebih baik, lebih bagus dan lebih besar.
"Maka dijadikan lah masjid di tempat ini, masjid ini didirikan pada tahun 1832 cuman itu tidak ada di jelaskan berapa lama pekerjaannya," kata Ketua Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, Raja Alhafiz.
Dalam pembangunannya menjadi masjid yang tak lagi berdinding kayu, Alhafiz menerangkan dilakukan secara bergotong-royong siang malam oleh warga baik laki-laki maupun perempuan.
Dia mengatakan ketika siang dikerjakan kaum perempuan dan malam hari dikerjakan laki-laki.
Kemudian di samping itu juga, masjid ini dibangun tidak menggunakan besi beton dan susunan batu hingga bata tak disemen.
Alhafiz mengatakan pada zaman tersebut tak ada semen, sehingga masjid itu dibangun menggunakan susunan bata yang pelekatnya adalah pasir, tanah liat, kapur, dan putih telur. Dia bercerita, kala itu warga-warga di pulau sekitar diminta kerajaan untuk mengirim bantuan makanan buat para pekerja dari mulai ikan asin hingga telur.
Khusus telur itu, kuningnya menjadi santapan para pekerja, sementara putihnya dikumpulkan menjadi pelekat campuran membangun masjid.
"Jadi, arsitek yang membangun masjid ini adalah orang India asal Singapura mengatakan bahwa, putih telur itu merupakan perekat sangat bagus, untuk bangunan," ujar Alhafiz.
Seorang pengunjung mengabadikan benda-benda peninggalan sejarah di Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. (CNN Indonesia/Arpandi)
Dia mengatakan masjid tertua di Kepulauan Riau itu arsitekturnya dibangun dengan filosofi Islam. Contohnya, kata dia, 13 anak tangga untuk naik ke atas masjid yang melambangkan 13 rukun salat, lalu 5 buah pintu yang melambangkan rukun Islam, dan 6 buah jendela yang juga melambangkan rukun iman.
Tidak hanya itu kubah masjid sebanyak 13 buah dan 4 menara yang totalnya 17 itu menandai jumlah rakaat salat fardu dalam sehari.
Salah satu ciri lain dari rumah ibadah itu adalah terdapatnya rumah sotoh dan balai tempat musyawarah di bagian kanan dan kiri halaman masjid.
Balai-balai yang bentuknya menyerupai rumah panggung tak berdinding ini dulu digunakan sebagai tempat untuk menunggu waktu salat dan berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Adapun rumah sotoh adalah sebuah bangunan dengan arsitektur Arab yang menjadi tempat mempelajari ilmu agama.
Salah satu pengunjung, Rusdi, mengaku takjub dengan masjid tersebut serta masih terpeliharanya peninggalan sejarah dan bangunannya. Menurut nya Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat ada kesamaan dengan Masjid Raja Ahmed di Istanbul Turki, karena menaranya masjid berbentuk kerucut yang lebih tinggi.
Selain itu, kata dia, ornamennya pun mirip dengan masjid yang ada di Turki. Begitupun dengan lampu hias yang ada di dalam Masjid seperti Masjid Hagia Shopia.
Ada keunikan tersendiri ya, menurut saya Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, seperti Masjid Hagia Shopia di Turki kalau dilihat ornamen nya," kata Rusdi.
Baca halaman selanjutnya
Tradisi Jejak Tanah hingga Tahlil Jamak Kenduri Arwah
Salah satu sudut di dalam Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. (CNN Indonesia/Arpandi)
Alhafiz mengatakan semua peninggalan sejarah yang ada di dalam masjid tersebut semuanya masih terjaga dan terawat dengan baik. Salah satunya mimbar yang terbuat dari kayu jati dan dipulas dengan cat berwarna keemasan.
Di bawah mimbar tersimpan sepiring pasir yang konon ceritanya berasal dari tanah Mekkah Al-Mukarramah. Pasir ini dibawa Raja Ahmad Engku Haji Tua, bangsawan pertama dari kerajaan yang menunaikan ibadah haji di 1820 masehi.
Pasir tersebut biasa digunakan masyarakat setempat pada upacara jejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi anak-anak.
"Untuk bangunan masjid dan benda - benda di dalam masjid, alhamdulillah masih terjaga keasliannya tidak ada yang dirubah," kata Alhafiz.
Di dalam masjid itu ada sebuah Al Quran kuno berukuran besar yang ditulis tangan dan disimpan dalam etalase. Alquran itu ditulis tangan pada 1867 silam oleh AbdurrahmanStambul. Dia adalah pemuda asal Pulau Penyengat yang disekolahkan kerajaan untuk belajar agama Islam di Istanbul, Turki kala itu.
Ada juga benda unik lainnya yang masih terjaga yaitu lampu kristal yang merupakan hadiah dari Kerajaan Prusia (Jerman) pada tahun 1860-an.
Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat ini sudah ditetapkan pemerintah sebagai benda cagar budaya bersama 16 situs sejarah lainnya di sana.
Alquran berukuran besar yang masih terjaga keasliannya sejak ditulis tangan pada 1867 silam masih tersimpan di Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. (CNN Indonesia/Ar Pandi)
Jelang bulan Ramadan, pengurus Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat juga akan menggelar tradisi tahlil jamak kenduri arwah untuk seluruh masyarakat Pulau Penyengat mendoakan mereka yang sudah tiada. Pada Ramadan tahun ini, tradisi itu digelar pada Jumat (8/3) lalu.
Selain itu, apabila sudah masuk bulan puasa juga akan di gelar tradisi buka puasa bersama di halaman masjid.
"Ada tradisi Jelang Ramadan, tahlil jamak kenduri arwah untuk seluruh masyarakat Pulau Penyengat. Kita ajak masyarakat datang ke masjid sama - sama mendoakan para arwah yang sudah meninggal dunia," ujar Alhafiz.
Saat CNNIndonesia.com menyambangi Pulau Penyengat sebelum Ramadan ini, terlihat banyak pengunjung di sana dan Masjid Raya Sultan Riau.
Tidak hanya pengunjung lokal, pengunjung dari luar negeri juga datang kesini seperti Malaysia dan Singapura. Para pengunjung yang datang ke Pulau Penyengat tidak hanya jalan-jalan untuk menikmati wisata religi. Namun, mereka juga melakukan ziarah makam para raja seperti Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji, Raja Hamidah, Raja Ahmad, Raja Abdullah, dan Raja Aisyah.
Pengurus masjid memperlihatkan sepiring pasir dari Mekkah yang disimpan di Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. (CNN Indonesia/Ar Pandi)
Untuk ke masjid bersejarah dan unik di Pulau Penyengat ini, Anda harus menggunakan perahu kayu atau dikenal dengan warga setempat boat pancung.
Jarak Pulau ini terpisah dengan lautan dari Kota Tanjungpinang Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau. Jarak tempuh, untuk tiba ke Pulau ini sekitar 15 menit dengan menyeberang lautan.
Tarif per orang untuk menyeberang ke sana apabila pengunjung dikenai biaya Rp. 9.000,-. Sedangkan untuk warga Pulau Penyengat dikenai biaya Rp. 7.000,- dan untuk anak sekolah dikenai biaya Rp. 5.000,-. Apabila sistem carter sekali jalan Rp. 130.000,- kalau pulang pergi Rp. 250.000,- dengan kapasitas perahu 15 orang.
"Boat pancung yang bawa penumpang ke Pulau Penyengat stand by dan berganti - ganti karena ada belasan perahu dengan sistem gilir untuk mengantar penumpang," kata Fendi salah satu penambang boat kepada CNNIndonesia.com.