Masjid Kampung Airmata, Masjid Tertua di Kupang dengan Simbol Tirosa
CNN Indonesia
Kamis, 04 Apr 2024 06:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pengurus masjid mempersiapkan untuk memukul beduk tanda waktu salat di Masjid Al Baitul Qadim di Jalan Trikora, Kecamatan Alak, Kota Kupang. (CNNIndonesia/Elly)
Dengan berkembangnya waktu dan semakin banyaknya umat islam yang berdatangan untuk melakukan salat di masjid Al Baitul Qadim maka pada tahun 1984 dilakukan renovasi.
"Tahun 1984 dengan berkembangnya umat di sekitar disepakati untuk dilakukan pemugaran dengan dua lantai. Dan tahun 1994 baru selesai (renovasi)," jelas Abdul Syukur.
Pemugaran tersebut kata Abdul Syukur diinisiasi Imam Birando Bin Taher yang juga keturunan dari Sya'ban bin Sanga, Birando melihat kondisi berkembangnya umat islam di Kampung Airmata cukup pesat. Oleh karena itu, dengan persetujuan jemaah yang ada di Kampung Airmata disepakati untuk merenovasi masjid Agung Al Baitul Qadim.
"1984 itu Imam Haji Birando Bin Taher cucu dari Sya'ban bin Sanga ini melihat kondisi berkembangnya umat islam di kampung ini cukup pesat, cukup banyak maka dengan persetujuan jemaah yang ada di Kampung Airmata ini bersepakat untuk merenovasi itu di tahun 1984 dengan dua laintai," jelas Abdul Syukur.
Dari Airmata, Islam pun menyebar hingga wilayah Timor Leste
Abdul menerangkan asal muasal penyebaran agama Islam di Pulau Timor juga berawal dari Desa Airmata bahkan sampai ke Timor Leste.
"Sehingga asal peradaban muslim di Pulau Timor berawal dari Kampung Airmata dan masjid ini adalah simbol pemersatu dari berbagai suku dan etnis yang ada di Pulau Timor," tuturnya
Ditambahkan Abdul Syukur masih ada beberapa barang yang tersisa peninggalan masa lalu usai masjid Al Baitul Qadim direnovasi. Beberapa di antaranya adalah beduk, pemukul beduk, mimbar, tongkat, keranda, mimbar kayu, dan juga mihrab atau tempat untuk imam.
Kampung Airmata dinilai sebagai titik tolak persebaran Islam di Pulau Timor. (CNNIndonesia/Elly)
Dari beberapa peninggalan yang masih tersisa hanya tongkat dan juga beduk dan pemukul beduk yang telah berusia lebih dari 200 tahun yang masih dipakai. Sedangkan Mihrab, keranda dan mimbar sudah tidak bisa pakai lagi karena telah termakan usia.
Dan sebagai pengingat sejarah, ada sebuah foto bangunan asli masjid Al Baitul Qadim berukuran 60 centimeter x 40 centimeter yang masih tergantung di salah satu dinding tembok di dalam masjid.
Usai direnovasi pada tahun 1994, masjid Agung Baitul Qadim Airmata memang tampak lebih megah. Gedung berlantai dua tersebut pun tidak pernah lagi direnovasi. Seluruh umat yang melakukan sembahyang dilakukan di lantai dua masjid yang saat berukuran 400 meter persegi.
Sejauh ini, ketika CNNIndonesia.com berkunjung ke sana, lantai dasar masjid sejauh ini sudah tak digunakan lagi dan hanya menjadi tempat penyimpanan barang. Padahal di lantai satu masjid yang telah berusia dua abad tersebut masih terdapat mihrab dan mimbar yang usianya juga sudah lebih dari 200 tahun.
Mesjid Al Baitul Qadim yang terletak di Jalan Trikora, Desa Airmata, Kecamatan Alak, Kota Kupang adalah yang tertua di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mesjid yang telah berusia lebih dari dua abad itu diklaim sebagai simbol toleransi dan pemersatu masyarakat dari berbagai suku yang mendiami ibu kota provinsi NTT itu sejak awal abad ke-19.
Ketua Yayasan Mesjid Al Baitul Qadim, Abdul Syukur Dapubeang, mengatakan rumah ibadah itu dibangun seorang pendakwah yang berasal dari Timur Tengah bernama Sya'ban bin Sanga. Mesjid tersebut dibangun selama enam tahun pada awal abad ke-19 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dibangun tahun 1806 dan selesai tahun 1812, enam tahun proses pembangunannya," ujar Abdul Syukur saat berbincang dengan CNN Indonesia.com, Jumat (15/3).
Dia menerangkan Abdul Syukur membawa rombongan sekitar 20 orang tiba di Pelabuhan Fatubesi, Kupang sebelum 1800. Tapi, dalam sejarah mesjid tidak disebutkan kapan tepatnya rombongan pendakwah tersebut tiba.
"Awalnya itu para ulama terdahulu mereka melakukan perjalanan dakwah dari Palembang, lalu ke Pulau Solor di Flores Timur dan tiba di Pulau Timor ini sebelum tahun 1800, itu mereka sudah tiba di Pulau Timor," ujarnya.
Setelah tiba di Kupang, Sya'ban bin Sanga sempat membangun surau di Fatubesi. Tetapi beberapa bulan setelah itu, pemerintah Hindia Belanda memerintahkan surau yang menjadi tempat rombongan dakwah tersebut dipindahkan. Alasannya lokasi tersebut akan dibangun tempat tinggal bagi para petinggi Belanda yang saat itu masih berkuasa di Kota Kupang.
Surau lalu dipindah ke kelurahan Fontein, tapi lagi-lagi disuruh pindah oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu dengan dalih yang tak jauh berbeda.
Foto lama Masjid Airmata--masjid tertua di Pulau Timor, NTT. (CNNIndonesia/Elly)
Baru pada 1806, Raja Timor kala itu yakni Amabi Oefeto memberikan lahan seluas dua hektare di Desa Airmata (sekarang Kelurahan Airmata) untuk membangun mesjid.
Maka berdirilah Masjid Al Baitul Qadim Airmata itu, dan bertahan hingga saat saat ini.
"Di sinilah mereka diberikan hibah oleh Raja Timor kepada Sya'ban bin Sanga untuk kepentingan dakwah, membangun sebuah mesjid kemudian membuat peradaban dengan masyarakat setempat dan juga membangun satu hubungan yang baik dengan masyarakat non muslim," tutur Abdul Syukur.
Saat membangun Mesjid Al Baitul Qadim, Syaban bin Sanga menonjolkan sejumlah simbol dalam arsitektur rumah ibadah itu, terutama sebagai sumber pemersatu.
"Pada saat itu dibangun dengan jemaah-jemaah lain dan nonmuslim, nah ini sudah terbangun dari segi toleransinya, dari segi persatuannya, dari segi kesamaan dalam perjuangannya itu dibangun ketika itu sehingga lahirlah sebuah ide membangun sebuah mesjid merupakan sebuah sumber pemersatu sehingga masjid ini ada latar belakangnya, ada simbol-simbol pemersatunya," kata Abdul Syukur.
Salah satu simbol yang ditonjolkan adalah bentuk dari mesjid tersebut karena mesjid harus dibangun dengan simbol persatuan.
"Karena saat itu ada berbagai suku dan etnis yang mendiami di Desa Airmata. Ada unsur Timor, ada dari Sabu, ada dari Rote, dari Jawa, Melayu dan China, beragam," kata Abdul Syukur.
Dari berbagai suku itulah, mesjid Al Baitul Qadim dibangun dengan bentuk atap dan bentuk mesjidnya memiliki tiga susun di atap dengan memiliki makna tersendiri seperti yang tergambar dalam foto. Makna yang dimaksud adalah persatuan dan toleransi.
Tiga susun atap tersebut melambangkan tiga suku besar yang mendiami Kota Kupang saat itu yakni Suku Timor, Suku Rote dan Suku Sabu yang kini dikenal dengan singkatan Tirosa.
"Jadi tirosa itu sejak tahun 1800 sudah terbentuk," kata Abdul Syukur.
Seiring perkembangan zaman, maka masyarakat keturunan Arab pun mulai berdatangan ke Desa Airmata. Sehingga saat ini, kampung Airmata banyak dihuni warga keturunan Arab beragama Islam.
Pengurus masjid mempersiapkan untuk memukul beduk tanda waktu salat di Masjid Al Baitul Qadim di Jalan Trikora, Kecamatan Alak, Kota Kupang. (CNNIndonesia/Elly)
Dengan berkembangnya waktu dan semakin banyaknya umat islam yang berdatangan untuk melakukan salat di masjid Al Baitul Qadim maka pada tahun 1984 dilakukan renovasi.
"Tahun 1984 dengan berkembangnya umat di sekitar disepakati untuk dilakukan pemugaran dengan dua lantai. Dan tahun 1994 baru selesai (renovasi)," jelas Abdul Syukur.
Pemugaran tersebut kata Abdul Syukur diinisiasi Imam Birando Bin Taher yang juga keturunan dari Sya'ban bin Sanga, Birando melihat kondisi berkembangnya umat islam di Kampung Airmata cukup pesat. Oleh karena itu, dengan persetujuan jemaah yang ada di Kampung Airmata disepakati untuk merenovasi masjid Agung Al Baitul Qadim.
"1984 itu Imam Haji Birando Bin Taher cucu dari Sya'ban bin Sanga ini melihat kondisi berkembangnya umat islam di kampung ini cukup pesat, cukup banyak maka dengan persetujuan jemaah yang ada di Kampung Airmata ini bersepakat untuk merenovasi itu di tahun 1984 dengan dua laintai," jelas Abdul Syukur.
Dari Airmata, Islam pun menyebar hingga wilayah Timor Leste
Abdul menerangkan asal muasal penyebaran agama Islam di Pulau Timor juga berawal dari Desa Airmata bahkan sampai ke Timor Leste.
"Sehingga asal peradaban muslim di Pulau Timor berawal dari Kampung Airmata dan masjid ini adalah simbol pemersatu dari berbagai suku dan etnis yang ada di Pulau Timor," tuturnya
Ditambahkan Abdul Syukur masih ada beberapa barang yang tersisa peninggalan masa lalu usai masjid Al Baitul Qadim direnovasi. Beberapa di antaranya adalah beduk, pemukul beduk, mimbar, tongkat, keranda, mimbar kayu, dan juga mihrab atau tempat untuk imam.
Kampung Airmata dinilai sebagai titik tolak persebaran Islam di Pulau Timor. (CNNIndonesia/Elly)
Dari beberapa peninggalan yang masih tersisa hanya tongkat dan juga beduk dan pemukul beduk yang telah berusia lebih dari 200 tahun yang masih dipakai. Sedangkan Mihrab, keranda dan mimbar sudah tidak bisa pakai lagi karena telah termakan usia.
Dan sebagai pengingat sejarah, ada sebuah foto bangunan asli masjid Al Baitul Qadim berukuran 60 centimeter x 40 centimeter yang masih tergantung di salah satu dinding tembok di dalam masjid.
Usai direnovasi pada tahun 1994, masjid Agung Baitul Qadim Airmata memang tampak lebih megah. Gedung berlantai dua tersebut pun tidak pernah lagi direnovasi. Seluruh umat yang melakukan sembahyang dilakukan di lantai dua masjid yang saat berukuran 400 meter persegi.
Sejauh ini, ketika CNNIndonesia.com berkunjung ke sana, lantai dasar masjid sejauh ini sudah tak digunakan lagi dan hanya menjadi tempat penyimpanan barang. Padahal di lantai satu masjid yang telah berusia dua abad tersebut masih terdapat mihrab dan mimbar yang usianya juga sudah lebih dari 200 tahun.