LIPUTAN KHUSUS

50 Juta Pohon Kratom dan Geliat Petani di Hamparan Ladang Kapuas Hulu

Feri Agus S | CNN Indonesia
Selasa, 09 Jul 2024 10:40 WIB
Nyaris 50 juta pohon kratom saat ini tersebar di 11 ribu hektare lahan garapan warga Kapuas Hulu. Sebanyak 18 ribu petani kini hidup berbudidaya kratom.
Mayoritas warga di Kapuas Hulu kini menggantungkan hidupnya dari budidaya tanaman kratom. CNN Indonesia/Hamka Winovan

Ati dan Ede merupakan satu dari ribuan petani kratom yang ada di Kapuas Hulu. Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kapuas Hulu per November 2022, mencatat total petani kratom mencapai 18.392 orang tersebar di 23 kecamatan.

Luas lahan yang dimanfaatkan sekitar 11.384 hektare dengan jumlah pohon mencapai 49.391.092,64 atau 49,4 juta batang.

Ketua Asosiasi Petani Purik Indonesia (Appuri) Ibrahim mengatakan harga daun kratom kini sedang anjlok di level petani. Menurutnya, harga daun remahan di wilayah Kecamatan Jongkong, Kapuas Hulu, saat ini berkisar Rp15.000 sampai Rp17.000 per kg.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau dulu sebelum bulan Maret (2023) itu masih 35-40 ribu rupiah per kilo," kata Ibrahim.

Ibrahim merupakan petani, sekaligus pengepul daun kratom. Ia memiliki pabrik pengolahan di dekat rumahnya di Desa Jongkong Kiri Hulu. Pabriknya berfungsi untuk penjemuran daun basah, produksi remahan hingga bubuk.

Mesin gilingnya bisa memproduksi sampai satu ton dalam sehari. Ia juga memiliki mesin untuk mengeringkan daun yang beroperasi ketika musim hujan karena sinar matahari minim.

Ibrahim menilai jatuhnya harga remahan daun kratom karena belum ada kejelasan tentang legalitas tanaman tersebut. Selain itu, muncul isu bubuk kratom yang diekspor karena dicampur dengan daun lain atau tepung. Pensiunan PNS itu membantah tudingan produk kratom yang diekspor dicampur dengan daun-daun lain ataupun tepung terigu.

Ia menyebut pohon kratom sangat melimpah di Kapuas Hulu, sehingga tak mungkin barang ekspor itu dicampur. Di sisi lain kratom telah menjadi mata pencarian utama masyarakat Kalimantan Barat. Menurutnya, pemerintah harus turun tangan agar harga bisa stabil dan petani tak merugi.

"Sehingga campur tangan pihak pemerintah untuk ngatur ini belum ada. Jadi hanya sebatas setahunya kita saja, dari sisi pekerjaan, pengolahan, dan sebagainya," katanya.

Di tengah harga yang merosot, kata Ibrahim, muncul keresahan di masyarakat Kapuas Hulu tentang wacana menetapkan kratom masuk dalam narkotika golongan I.

Ibrahim menolak rencana tersebut. Ia meyakini kratom bukan narkotika seperti yang dikampanyekan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam beberapa tahun terakhir. Ibrahim khawatir masyarakat kehilangan mata pencarian jika kratom benar-benar dilarang.

"Karena terus terang sejak ini menjadi bernilai ekonomi, alhamdulillah yang dulunya petani kita tidak mampu menyekolahkan anak, paling-paling sampai tingkat SD, SMP dan sebagainya. Nah dengan ini bernilai ekonomi, petani kita sudah mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi," ujarnya.

Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas bersama sejumlah menteri di Istana Merdeka, Kamis (20/6), telah memfokuskan pembahasan potensi budidaya kratom sebagai langkah untuk meningkatkan nilai ekonomis dan kualitas produksi tanaman yang tengah mengalami penurunan drastis harga jualnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah kini tengah mempertimbangkan untuk mengatur regulasi budidaya kratom di bawah naungan Kementerian Pertanian dengan membentuk korporasi. Melalui korporasi tersebut, diharapkan kualitas dan kontinuitas produksi kratom dapat terpenuhi sebagai syarat utama untuk meningkatkan ekspor dan kesejahteraan petani.

"Kalau ada koperasi yang mengelola ini kita korporasikan sehingga kualitasnya terjamin, kuantitasnya terjamin, karena itu syarat untuk ekspor. Kalau kualitasnya terjamin, pasti otomatis meningkatkan kesejahteraan petani kita," ungkap Amran usai rapat di Istana.

Dalam rapat tersebut, Presiden dan para menteri terkait juga membahas tentang prospek ekspor kratom yang saat ini harga pasar telah menurun cukup drastis menjadi 2 hingga 5 dolar per unit, dari sebelumnya mencapai 30 dolar.

Pemerintah berharap dengan regulasi yang tepat, budidaya kratom dapat diorganisasi lebih baik melalui korporasi sehingga dapat menghasilkan produk berkualitas dan stabil dalam pasokan.

Amran optimistis bahwa dengan harga yang menguntungkan, budidaya kratom dapat menjadi pilihan yang menjanjikan bagi petani di Indonesia.

"Kita tunggu, nanti begitu regulasinya sudah ada, budidayanya insyaallah mudah, kenapa? Karena harganya baik, harganya bagus, pernah mencapai 30 dolar," tutur Amran.

(gil/gil)

HALAMAN:
1 2
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER