Peran Rebranding bagi Industri Fintech
Dalam dunia fintech, teknologi bergerak sangat cepat. Dulu, kartu kredit butuh puluhan tahun untuk mencapai adopsi global, sedangkan pembayaran mobile telah mencapai status hampir universal di banyak pasar dalam waktu sekitar satu dekade.
Demikian juga bank konvensional, yang memandang skeptis kripto pada tahun 2017, sebelum pasar kripto meroket dan adopsi luas dimulai sepenuhnya. Sekarang, ketika bank konvensional masih bimbang tentang kripto, bank-bank investasi utama bersemangat menawarkan layanan kripto, beralih dari skeptis ke partisipasi aktif.
Saat ini, kripto telah berubah dari sekadar teknologi pinggiran untuk penggemar teknologi menjadi istilah populer di seluruh dunia dan bagian penting dari fintech dalam waktu kurang dari 15 tahun.
Untuk mengimbangi laju yang sangat cepat ini, perusahaan fintech harus berevolusi dan identitas brand mereka perlu mencerminkan evolusi ini. Artikel ini mengurai beberapa aspek rebranding dan citra brand dalam fintech.
Dari Pandangan ke Nama
Bagi perusahaan fintech, mengadopsi identitas brand baru sering kali menjadi lensa yang membantu mereka fokus pada siapa mereka dan nilai yang mereka berikan.
Rebranding di sektor ini sering kali mengikuti perubahan struktural, baik pemisahan dari organisasi induk ataupun penggabungan dua perusahaan menjadi satu brand.
Alasan umum rebranding di sektor fintech meliputi keinginan perusahaan untuk menyelaraskan langkah baru dalam evolusinya dengan identitas baru, identitas yang memungkinkan perusahaan untuk memasuki peran baru dan memperluas jangkauan pasar.
Terkadang, ambisi untuk mencapai kemandirian juga berperan penting dalam rebranding, yakni membangun kembali identitas adalah cara bagus bagi perusahaan untuk mengukuhkan diri sebagai kekuatan yang berdiri sendiri di pasar. Berpisah berarti bisa bergerak lebih cepat, lebih bebas bereksperimen, dan membangun sesuatu yang benar-benar milik sendiri.
Dalam kasus lain, nama atau citra awal perusahaan dapat menjadi halangan, misalnya mungkin terdengar terlalu regional ketika mereka telah mendunia atau terlalu kecil untuk rencana peningkatan skala. Mengadopsi persona brand baru memungkinkan mereka untuk mewujudkan ambisi.
Tetap Unggul dengan Wajah Baru
Ketika perusahaan yang sudah mapan memutuskan butuh identitas brand baru untuk mendorong pertumbuhan, mereka mempertahankan infrastruktur dan keahlian yang merupakan fondasi dari proposisi nilai mereka, sambil menciptakan wajah baru untuk diperkenalkan kepada dunia.
Mereka mempertahankan platform trading yang sudah biasa digunakan klien, standar layanan pelanggan yang membuat mereka dipercaya, dan langkah-langkah keamanan yang menjaga keamanan akun. Yang berubah adalah kemasan melalui nama, identitas visual, pesan yang menjelaskan siapa dan apa tujuan perusahaan.
Peluncuran broker global baru, Elev8, adalah contohnya. Bukan hanya rebranding biasa, perusahaan yang sebelumnya beroperasi di bawah payung brand Octa ini memperkenalkan brand baru dengan tetap mempertahankan aset lama yang telah teruji, termasuk infrastruktur, keahlian, dan pengalaman klien.
Menurut broker Elev8 yang baru diluncurkan, langkah ini diambil untuk melepaskan diri dari semua batasan yang melekat pada penggunaan gabungan dari nama brand dan atributnya. Contoh ini menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan membangun identitas brand baru untuk mencerminkan arah mereka menuju kemandirian dan peningkatan skala di masa depan.
Identitas dan Komunikasi
Bagi brand apapun, identitas adalah komunikasi, bukan tentang logo atau warna. Citra brand memengaruhi setiap bagian bisnis dan membentuk perkembangannya.
Ketika perusahaan fintech memilih rebranding, mereka biasanya menekankan kontinuitas bisnis dalam komunikasi dan strategi. Perusahaan akan berfokus pada stabilitas, memastikan bahwa dana klien aman, tim tetap efisien, dan teknologi bekerja dengan baik.
Dengan kata lain, jika dilakukan dengan benar, identitas brand baru merupakan tambahan berharga untuk keunggulan kompetitif perusahaan yang telah mapan.
(adv/adv)