Desa Lohia di Maluku Tak Ada Faskes, Nenek Miskin Sakit Ditandu 5 Jam

CNN Indonesia
Kamis, 21 Mei 2026 10:46 WIB
Ilustrasi. Perjuangan warga miskin ditandu 5 jam ke Puskesmas. (CNN Indonesia/Said)
Seram, CNN Indonesia --

Belandina (70), warga Desa Lohia, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku terpaksa ditandu hingga 4 kilometer atau selama 5 jam demi berobat di Puskesmas.

Peristiwa itu terjadi di sebuah desa termiskin di pelosok pulau Seram Barat pada Rabu (20/5) sekitar pukul 09:00 WIT.

Belandina yang merupakan warga miskin itu ditandu sejumlah orang keluar dari desanya dengan berjalan kaki menuju Puskesmas imbas tidak ada jalan yang bisa dilewati ambulans masuk ke kampungnya.

Tak hanya itu, warga menggotong perempuan lanjut usia itu karena di desa mereka juga tidak punya tenaga kesehatan (nakes).

Selama perjalanan, mereka melintasi Medan pegunungan yang curam, melewati jalan bebatuan dan lumpur hingga menyeberangi sungai. Warga yang turut dalam rombongan itu, bergantian menggotong Balandina menggunakan sebatang bambu dan sehelai kain yang dipakai untuk melindungi pasien selama sampai ke puskesmas.

Beberapa kali, rombongan warga itu sempat memutuskan untuk beristirahat di tengah hutan akibat kondisi pasien. Mereka sempat memanfaatkan waktu istirahat untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan menuju puskesmas.

Setibanya di jalan atau perbatasan antara Desa Lohia dan Buria, mereka kembali menumpangi truk pickup yang melintasi jalan tersebut. 

Sakit stroke, tak ada nakes di desa

Nenek Belandina disebut menderita sakit stroke. Ia hanya terbaring selama belasan tahun tanpa sentuhan pelayanan kesehatan. Kondisi Balandina mulai terpuruk satu minggu terakhir. Meski begitu, keluarga sudah berusaha dengan cara tradisional namun pengobatan tak kunjung membaik.

Keluarga pun sempat berjalan kaki sejauh 1 jam ke kampung tetangga untuk mencari mantri keliling. Mereka berharap bisa mendapat bantuan mantri keliling agar bisa mendapatkan obat dengan biaya secukupnya.

"Ibu terkasih sudah sakit selama satu minggu terakhir, kondisi mulai memburuk, keluarga minta bantuan warga untuk menandu ibu terkasih ke puskesmas terdekat,"ujar warga Desa Lohia, Ferdinan, Kamis (21/5).

Ia bilang di desanya tidak punya tenaga kesehatan (nakes). Bila, warga sakit, kata dia, warga terpaksa mencari mantri keliling namun harus mengeluarkan tenaga ekstra.

"Desa kami tidak ada nakes, nakes cuma ada di Desa Buria, karena di sana, ada puskesmas," ucapnya.

Ia berharap pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat segera membangun infrastruktur jalan yang memadai agar warga tidak lagi sengsara terutama mengantar orang sakit.

Kondisi tersebut, diakui Ferdinan sudah berlangsung selama Indonesia merdeka namun pemerintah masih saja abaikan terkait penderitaan warga.

Mereka mengaku sudah berulang kali menyampaikan kondisi jalan aspal yang tak punya di wilayah pegunungan kepada Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat, mulai dari Bupati pertama Yakobus Puttileihalat, M. Yasin Payapo hingga Asri Arman.

Mereka berharap Presiden RI Prabowo Subianto bisa membangun jalan mereka karena sudah berulang kali mengadu ke bupati namun tak kunjung direspons.

(sai/dal)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK