Sejumlah pengunjung memadati area Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada hari terakhir libur panjang, Minggu (17/5). (CNN Indonesia/Febria Adha L)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jumat, 22 Mei 2026. Blok M cukup ramai malam itu. Maklum, malam ini malam Sabtu, banyak orang menyebutnya sebagai 'malam Minggu kecil'.
Warga Jakarta tumpah ruah di Blok M. Ada yang menggandeng kekasih, ada juga yang masih menggembol tas laptop sepulang kerja.
Hari ini, Blok M dikenal sebagai pusat skena Jakarta, tempat anak-anak kalcer Ibu kota berkumpul.
Tapi hal itu mungkin tak berlaku bagi Sunardi, baginya Blok M bukanlah pusat skena, tapi tempat penuh pengharapan. Yang terbesit di pikirannya adalah mencari uang untuk menyambung hidup.
Di antara orang-orang yang silih berganti berlalu lalang di hadapannya, Sunardi tetap duduk dengan penuh harap di depan dagangannya.
Sebilah bambu diikatkan dengan tali kuning menjadikannya pikulan sederhana. Kaleng bekas kerupuk dengan beberapa bungkus semprong dan kerupuk bawang tertumpuk di bagian atas.
Bersama pikulannya itu, setiap hari Sunardi menempuh jarak puluhan kilometer dari Cengkareng menuju Blok M untuk menjajakan dagangan.
Biasanya, ia sudah tiba di Blok M bertepatan dengan adzan Zuhur berkumandang atau sekitar Pukul 12 siang.
Ia tetap di situ, menjajakan dagangannya hingga malam tiba. Sekitar Pukul 9 malam, Sunardi berjalan kaki menuju Terminal Blok M menghampiri bus yang akan mengantarkannya pulang ke Cengkareng.
Tidak jelas berapa banyak dagangannya yang laku terjual dalam sehari, pendapatannya tak menentu.
"Hari ini saja baru laku lima," katanya sambil tertawa kecil.
Beberapa meter dari lokasi Pak Sunardi, pengharapan lain merekah dari balik gerobak penjaja minuman kemasan.
Di perempatan jalan tepat di belakang Blok M Square, Yohana menaruh harapannya dengan menjajakan minuman botol kemasan hingga seduhan kopi kemasan, rutinitas yang ia jalani sejak Pandemi Covid-19 berakhir.
Tangan Yohana dengan sigap melayani saat ada yang memesan. Dengan cekatan ia gunting bungkus kopi, menuangkannya ke gelas plastik. Setelahnya ia tuangkan air panas, kopi pun siap diseruput.
Bak harapan yang harus senantiasa mekar, Yohana juga menjual bunga, tapi menu spesial ini hanya tersedia di akhir pekan.
Beberapa buket bunga yang dilapisi dengan bungkus plastik dan koran terjaja rapi. Beberapa di antaranya dihiasi dengan tulisan berbahasa Prancis,'C'est la Vie'yang artinya 'Begitulah hidup'.
Jika dari sekolahnya belok ke kiri untuk mencapai Blok M Square, Raynata justru lebih sering belok kanan, ke arah Taman Langsat dan GOR Bulungan.
Raynata lulus dari SMA 6 pada 2017 silam. Berpindah ke Jatinangor membuatnya tak lagi setiap hari bercengkrama dengan Blok M dan sekitarnya.
Ia menyadari betul perkembangan Blok M yang signifikan, Raynata menerka kalau perkembangan ini tak lepas dari akses transportasi umum di Blok M yang kian mudah.
12 tahun lalu, MRT Jakarta belum ada, begitu pula dengan jalan layang CSW yang menghubungkan Ciledug hingga Tegal Mampang.
Belum lagi dengan transportasi daring yang 12 tahun lalu masih belum cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia.
"Kalau dulu susah, Busway itu juga adanya di Terminal Blok M. Jadi orang kalau mau ke Blok M tuh harus diniatin," ucapnya.
Di belakang SMAN 6, tepatnya persis di samping GOR Bulungan SMAN 70 berdiri. Faza bersekolah di sana selama tiga tahun (2014-2017).
Tak jauh berbeda dengan Tata, Faza jarang menginjakkan kaki di sekitar Blok M Square. Ia justru cenderung menghindar ke sana karena katanya rawan copet. Lagipula, tempat ikonik seperti M Bloc Space dan Taman Literasi Martha Tiahahu juga belum berdiri saat itu.
"Dulu Blok M Square seram banyak copet," kata Faza.
Kalaupun berjalan ke arah sana, Faza biasanya singgah di Blok M Plaza. Saat itu, jika dibandingkan dengan mall lain di Jakarta seperti Pondok Indah Mall ataupun Senayan City, Blok M Plaza masih kalah. Tapi setidaknya masih tetap jadi pilihan.
"Dulu kalau ke Blok M Plaza biasanya nonton [bioskop] sama makan aja," katanya.
12 tahun berselang, Blok M di bayangan Tata dan Faza telah berubah. Jalanan menuju Terminal Blok M, yang kini dikenal Blok M Hub telah bersolek.
Bagian kanan-kirinya dipenuhi restoran viral yang bisa ditemukan di media sosial, jika sedang di jam-jam sibuk, tak disarankan datang dalam keadaan sangat lapar karena daftar tunggu dan antreannya mengular.
Terminal Blok M, kini jadi salah satu pemberhentian utama bus TransJakarta. Terminal itu menghubungkan Jakarta dengan kota penyangganya. Misal, TransJakarta trayek B13 menuju Summarecon Bekasi, trayek P11 menuju Bogor, hingga trayek S61 arah Alam Sutera.
Sebelum itu, jika kembali ke 1980 dan 1990-an, Blok M pernah jadi primadona bagi muda-mudi Jakarta kala itu.
Era 1990-an, Yana berusia sekitar 20 tahun. Blok M, katanya jadi salah satu top of mind destinasi kala itu.
Salah satunya, restoran American Hamburger atau yang lebih dikenal sebagai 'AH' di sekitar Melawai.
Restoran itu dulu jadi salah satu tempat favorit berjanjian dengan teman hingga makan bersama keluarga.
Dari Blok M, cinta juga merekah. Abay (29) salah satunya yang menjadikan Blok M sebagai tempat photoshoot pra-pernikahannya (prewedding).
Bagi Abay, Blok M memiliki makna tersendiri. Suasana yang hidup terasa hangat, hiruk pikuknya justru memberi rasa nyaman.
Blok M tak sekedar jadi tempat estetik, tapi ia seperti 'doa' yang terasa hidup bak hubungan yang hendak dibangun: tenang, kenyang, dan senang.
"Kita pengen foto prewedd yang terasa natural, kayak menggambarkan perjalanan hubungan yang memang maunya dijalani pelan-pelan: jalan bareng, ngobrol bareng, cari makan enak, dan menikmati hal-hal sederhana," ucap Abay.
Fotonya di Blok M tercetak abadi, hal itu juga sekaligus jadi anomali. Abay mengakui selama berpacaran ia dan istrinya justru tidak pernah menyambangi Blok M.
"Jadi bukan tentang mengulang kenangan lama, tapi tentang menciptakan kenangan baru dari sekarang," ujarnya.
Tapi bagi Abay, anomali itu justru jadi simbol dimulainya perjalanan baru bersama. Di mata Abay, Blok M sudah seperti paket lengkap.
Abay dan istri gemar hunting buku dan mainan jadul. Di sana, dengan mudah mereka menemukannya.
Kalau lapar, mereka tinggal naik ke atas dan mungkin bimbang memilih tempat makan apa yang jadi pilihan. Setelah kenyang, Abay juga bebas memilih hendak duduk di kafe kalcer yang mana.
"Jadi, kalau ditanya kenapa Blok M, karena seperti jadi miniatur anak muda tentunya," ucap dia.