Cerita Para Pengais Rezeki di Blok M

CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 10:40 WIB
Cerita Para Pengais Rezeki di Blok M
Sejumlah pengunjung memadati area Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada hari terakhir libur panjang, Minggu (17/5/2026). (CNN Indonesia/Febria Adha L)

SMAN 6 dan SMAN 70 terletak sangat dekat dengan Blok M, hanya butuh menyebrangi jalan, maka sampai lah di Blok M.

Dua sekolah ini bak primadona di cakrawala sekolahan di Jakarta. Siswa-siswi di kedua sekolah itu kerap dicap sebagai anak gaul.

Ingatan Raynata pun kembali ke 12 tahun lalu, saat ia masih mengenakan seragam putih abu-abu dan menimba ilmu di SMAN 6 Jakarta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam ingatan Raynata, Blok M 12 tahun lalu sangatlah berbeda dengan Blok M yang kita kenal hari ini.

Blok M Square dan sekitarnya, masih jauh akan bayangan coffeeshop kalcer hingga makanan-makanan viral yang kini bertebaran.

Raynata ingat betul ia hanya mendekat ke arah Blok M Square jika ingin menyantap makanan otentik Jepang.

Dalam ingatannya, Blok M Hub yang kini dipenuhi banyak restoran dulu murni sebagai jalan menuju Terminal.

"Dulu jarang banget ke sekitar Blok M Square karena itu terminal aja," kata Raynata.

Jika dari sekolahnya belok ke kiri untuk mencapai Blok M Square, Raynata justru lebih sering belok kanan, ke arah Taman Langsat dan GOR Bulungan.

Raynata lulus dari SMA 6 pada 2017 silam. Berpindah ke Jatinangor membuatnya tak lagi setiap hari bercengkrama dengan Blok M dan sekitarnya.

Ia menyadari betul perkembangan Blok M yang signifikan, Raynata menerka kalau perkembangan ini tak lepas dari akses transportasi umum di Blok M yang kian mudah.

12 tahun lalu, MRT Jakarta belum ada, begitu pula dengan jalan layang CSW yang menghubungkan Ciledug hingga Tegal Mampang.

Belum lagi dengan transportasi daring yang 12 tahun lalu masih belum cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia.

"Kalau dulu susah, Busway itu juga adanya di Terminal Blok M. Jadi orang kalau mau ke Blok M tuh harus diniatin," ucapnya.

Di belakang SMAN 6, tepatnya persis di samping GOR Bulungan SMAN 70 berdiri. Faza bersekolah di sana selama tiga tahun (2014-2017).

Tak jauh berbeda dengan Tata, Faza jarang menginjakkan kaki di sekitar Blok M Square. Ia justru cenderung menghindar ke sana karena katanya rawan copet. Lagipula, tempat ikonik seperti M Bloc Space dan Taman Literasi Martha Tiahahu juga belum berdiri saat itu.

"Dulu Blok M Square seram banyak copet," kata Faza.

Kalaupun berjalan ke arah sana, Faza biasanya singgah di Blok M Plaza. Saat itu, jika dibandingkan dengan mall lain di Jakarta seperti Pondok Indah Mall ataupun Senayan City, Blok M Plaza masih kalah. Tapi setidaknya masih tetap jadi pilihan.

"Dulu kalau ke Blok M Plaza biasanya nonton [bioskop] sama makan aja," katanya.

12 tahun berselang, Blok M di bayangan Tata dan Faza telah berubah. Jalanan menuju Terminal Blok M, yang kini dikenal Blok M Hub telah bersolek.

Bagian kanan-kirinya dipenuhi restoran viral yang bisa ditemukan di media sosial, jika sedang di jam-jam sibuk, tak disarankan datang dalam keadaan sangat lapar karena daftar tunggu dan antreannya mengular.

Terminal Blok M, kini jadi salah satu pemberhentian utama bus TransJakarta. Terminal itu menghubungkan Jakarta dengan kota penyangganya. Misal, TransJakarta trayek B13 menuju Summarecon Bekasi, trayek P11 menuju Bogor, hingga trayek S61 arah Alam Sutera.

Sebelum itu, jika kembali ke 1980 dan 1990-an, Blok M pernah jadi primadona bagi muda-mudi Jakarta kala itu.

Era 1990-an, Yana berusia sekitar 20 tahun. Blok M, katanya jadi salah satu top of mind destinasi kala itu.

Salah satunya, restoran American Hamburger atau yang lebih dikenal sebagai 'AH' di sekitar Melawai.

Restoran itu dulu jadi salah satu tempat favorit berjanjian dengan teman hingga makan bersama keluarga.

Dari Blok M, cinta juga merekah. Abay (29) salah satunya yang menjadikan Blok M sebagai tempat photoshoot pra-pernikahannya (prewedding).

Bagi Abay, Blok M memiliki makna tersendiri. Suasana yang hidup terasa hangat, hiruk pikuknya justru memberi rasa nyaman.

Blok M tak sekedar jadi tempat estetik, tapi ia seperti 'doa' yang terasa hidup bak hubungan yang hendak dibangun: tenang, kenyang, dan senang.

"Kita pengen foto prewedd yang terasa natural, kayak menggambarkan perjalanan hubungan yang memang maunya dijalani pelan-pelan: jalan bareng, ngobrol bareng, cari makan enak, dan menikmati hal-hal sederhana," ucap Abay.

Fotonya di Blok M tercetak abadi, hal itu juga sekaligus jadi anomali. Abay mengakui selama berpacaran ia dan istrinya justru tidak pernah menyambangi Blok M.

"Jadi bukan tentang mengulang kenangan lama, tapi tentang menciptakan kenangan baru dari sekarang," ujarnya.

Tapi bagi Abay, anomali itu justru jadi simbol dimulainya perjalanan baru bersama. Di mata Abay, Blok M sudah seperti paket lengkap.

Abay dan istri gemar hunting buku dan mainan jadul. Di sana, dengan mudah mereka menemukannya.

Kalau lapar, mereka tinggal naik ke atas dan mungkin bimbang memilih tempat makan apa yang jadi pilihan. Setelah kenyang, Abay juga bebas memilih hendak duduk di kafe kalcer yang mana.

"Jadi, kalau ditanya kenapa Blok M, karena seperti jadi miniatur anak muda tentunya," ucap dia.

(mnf/ugo) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2