Aqua Laguna dan Desa Cemarajaya Karawang yang Hilang Ditelan Abrasi
"Entar mau bilang sama tukang listriknya, udah jompo lah badan enggak bisa usaha, itu listriknya kesel amat [saya] bayarnya," ujar Mak Kaci bercerita token listriknya yang berdaya 1.300 volt ampere (VA).
Token listrik Mak Kaci tersisa 635. Mak Kaci dan Rini terus menerus mengeluhkan daya listrik rumah itu karena disebut cepat habis. Dia membandingkan jumlah daya listrik rumah mereka dengan rumah-rumah lain di deretan kompleks perumahan Sekong yang masih 900 VA, tapi lebih awet.
Karena alasan itulah, kata Mak Kaci, rumah itu hanya ditempati saat siang. Sementara, saat malam, dia akan kembali ke rumahnya di Dusun Pisangan yang berada di bibir pantai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perumahan Sekong dibangun pemerintah kabupaten khusus untuk warga Desa Cemarajaya yang rumahnya terancam lenyap karena abrasi.
Mak Kaci baru mendapat rumah itu pada 15 Mei lalu. Kunci rumah diserahkan langsung Bupati Karawang Aep Syaepuloh sebagai lanjutan program relokasi bagi warga Desa Cemarajaya yang terancam abrasi.
Mak Kaci bangga menjadi satu-satunya perwakilan warga yang menerima kunci dari Bupati.
"Digandeng-gandeng sama Pak H. Aep, disikep-sikep, sendirian. Orang-orang mah enggak ada, saya yang jadi wakilnya," ujar Mak Kaci.
Di Pisangan, dia tinggal bersama anak keduanya. Sementara, rumah miliknya yang tak jauh dari rumah anaknya sudah tak bisa ditinggali sejak setahun terakhir. Rumah itu tak lagi berpintu, temboknya keropos, plafon jebol, dan kasur yang tak bisa ditiduri karena bekas banjir.
Saat rob, air akan masuk rumah hingga lebih dari 50 sentimeter.
Rumah itu kini hanya digunakan untuk buka warung saat siang bagi para pemancing. Mak Kaci bercerita, sudah beberapa kali bagian rumahnya diperbaiki.
"Sampai baju-baju pada habis. Enggak bisa keluar airnya. Hanyut udah, ya emaknya pergi. Takut lihat ombak," katanya.
Mak Kaci masuk dalam gelombang ketiga penerima rumah relokasi bersama 22 rumah warga lain pada 15 Mei lalu.
Relokasi pertama dan kedua masing-masing dilakukan pada 2018 dan 2022 dengan pemberian 299 rumah oleh Bupati Cellica Nurrachadiana.
Rumah itu diberikan secara cuma-cuma untuk warga yang rumahnya terancam abrasi. Mereka juga masih bisa tinggal di rumah lama mereka.
Namun, warga tak langsung mendapat sertifikat hak milik rumah. Surat-surat tersebut baru akan diberikan setelah 20 tahun karena alasan untuk menghindari rumah yang dijual setelah dimiliki.
Kantor Desa Cemarajaya mencatat, hingga kini total ada 321 rumah yang telah diberikan kepada warga Cemarajaya yang terancam abrasi. Mereka dipindah ke Dusun Sekong, yang dipilih karena relatif paling aman dari ancaman abrasi dan jauh dari garis pantai.
Warga penerima rumah relokasi mayoritas berasal dari Dusun Pisangan dan Mekarjaya karena tingkat abrasinya paling parah dan akses yang terisolir dari dua dusun lain.
Jalan aspal tak sampai di dua dusun tersebut. Di Pisangan, akses yang bisa dilewati hanya jalan tanah berpasir yang di beberapa titik telah ambles, dan saat laut pasang, jalan itu benar-benar tenggelam dan tak bisa dilewati kendaraan.
Di Mekarjaya, satu-satunya akses yang tersisa adalah jalan tambak yang terhubung dengan Dusun Pisangan. Jalan pasir pantai menuju dusun yang bisa lewati kendaraan telah lama lenyap.
Rumah warga yang masih bertahan di tengah proses abrasi yang pelan-pelan melenyapkan Desa Cemarajaya, Karawang, Selasa (2/6/2026). (CNN Indonesia/Febria Adha L) |
Dari Dusun Pisangan, pemandangan Mekarjaya hanya terlihat sisa-sisa bangunan rusak dan keropos, meski beberapa warga konon masih tinggal. Hingga akhir 2026, pemerintah Kabupaten Karawang masih menargetkan relokasi terhadap 51 rumah lain.
"Jadi sisanya mungkin di tahun ini," kata Kepala Pelayanan Desa Cemarajaya, Eli Damanik.
Warga tolak relokasi
Ancaman abrasi dan kehilangan rumah tak benar-benar memberi rasa takut bagi warga Cemarajaya. Tarwi misalnya, hanya khawatir tak lagi bisa berjualan jika suatu saat dia dan suami harus meninggalkan rumah mereka di Pisangan.
"Di sini kesulitannya usaha doang susah," kata dia.
Dia bahkan tak lagi mencemaskan rumahnya yang kini hanya dalam lindungan tanggul batu semi permanen. Padahal, sewaktu-waktu tanggul batu jebol, ombak akan mengempaskan rumah dan warungnya.
Sebagian warga lain mengikuti Tarwi, menolak relokasi dan memilih tetap tinggal di rumah mereka meski setiap hari di bawah bayang-bayang air laut.
Rumsah (43), warga Dusun Pisangan, ingat betul di seberang jalan pasir depan rumahnya dulu masih berdiri rumah orang tua. Namun, abrasi yang terus maju dan mengikis daratan menyebabkan rumah orang tuanya kini tak tersisa.
Dia beruntung, karena orang tuanya ikut menerima rumah relokasi di Sekong.
"Ibu saya alhamdulillah udah dapat," kata Rumsah.
Sejak awal, dia mengaku tak benar-benar menolak tawaran relokasi. Kala itu, kata dia, petugas desa mendatangi rumahnya dan menawari rumah relokasi di Sekong. Namun, jumlah yang tersedia hanya satu rumah, meski dia dan orang tuanya berbeda KK.
"Kata petugas desa, salah satu. Kan ibu saya rumahnya habis, saya di sini. Pas gitu, udah Bu tanda tangan aja satu KK. Siapa tahu, satu KK aja enggak dapat," tiru Rumsah.
Namun, hingga gelombang relokasi ketiga pada 15 Mei lalu, Rumsah tak lagi menerima tawaran untuk pindah.
Sejumlah warga berdiri di hunian baru dari pemerintah setempat untuk menghindari dampak abrasi di pesisir Desa Cemarajaya, Karawang, Selasa (2/6/2026). (CNN Indonesia/Febria Adha L) Foto: CNN Indonesia/Febria Adha L |
Tak jauh dari rumah Rumsah, Warkim menolak karena sempat diberitahu rumah relokasi diberi dengan syarat rumah lama harus diserahkan.
Dia kala itu tegas menolak, karena rumah yang dia tinggali baru saja dibangun dan diperbaiki, sedangkan rumah relokasi jauh lebih kecil.
"Dulu bilangnya tuker guling. Jadi rumah ini dilepas," kata Warkim.
Kantor Desa Cemarajaya membantah informasi tukar guling selama proses relokasi warga. Eli Damanik mengaku ikut mendengar informasi tersebut. Dia menegaskan, rumah relokasi bisa didapat warga tanpa membayar sepeserpun.
Warga juga tetap bisa menempati rumah lama mereka.
"Bukan seperti itu. Bahwasanya dari Pemda ini benar-benar pure dikasih. Tanpa menggusur atau menggantikan rumah yang lama dengan relokasi. Itu hanya asumsi, salah informasi," kata Eli.
Sejak penolakan itu, Warkim mengaku tak pernah menerima kembali pemberitahuan atau tawaran untuk pindah. Sejak awal Warkim punya sikap jelas, bersedia direlokasi asal rumah lamanya tetap bisa ditempati.
Saat ditanya soal masa depan rumahnya karena garis pantai yang kian maju, Warkim, 49 tahun, tak bisa menjawab.
(thr/wis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]



