Aksi Massa Bali Kritik Kebijakan Tak Prorakyat, Teatrikal-Pukul Kulkul

CNN Indonesia
Senin, 06 Jul 2026 22:55 WIB
Massa aksi di Bali menggelar unjuk rasa kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tak prorakyat. Mereka memukul-pukul kulkul. (CNN Indonesia/Kadafi)
Denpasar, CNN Indonesia --

Sejumlah massa aksi menggelar demo atau unjuk rasa untuk mengkritik kebijakan pemerintah, yang digelar di depan Monumen Bajra Sandhi, Renon, Kota Denpasar, Bali, Senin (6/7) siang.

Para massa ini terdiri dari gabungan organisasi dan kelompok sipil seperti Kekal Bali, Frontier Bali, hingga Walhi Bali. Mereka melakukan aksi simbolik dengan tema,"Grubug Agung Pulihkan Bali & Indonesia," yang artinya terjadinya kekacauan besar dan pulihkan Bali dan Indonesia.

Dalam aksi itu, mereka membawa spanduk dan poster protes atas kebijakan pemerintah, yang salah satunya bertuliskan 'Cintaku Pada Lingkungan Terhalang Alih Fungsi Lahan'.

Mereka juga membawa kulkul bulus atau kentongan dan tampah yang berisi sayur-mayur dan lain-lainnya.

Selain itu, mereka juga melakukan teatrikal yang menceritakan seorang pelanggan yang mengeluhkan tentang harga bahan pokok yang melambung tinggi kepada pedagang.

Sedangkan, pedagang juga mengeluh terpaksa menaikkan harga bahan pokok yang dijual, akibat rupiah yang melemah dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sedang naik.

Akibat situasi itu, akhirnya rakyat kecil ingin menyuarakan aspirasinya kepada pemerintah. Tetapi, karena situasi demokrasi yang amburadul seperti saat ini maka orang-orang seperti pejuang HAM dan pejuang lingkungan mendapatkan tindakan represif dari aparat dan mendapatkan penyiraman air keras.

Aksi teatrikal itu, ditutup dengan pemukulan kulkul bulus oleh massa aksi dan lalu mereka membacakan pernyataan sikapnya.

Sekjen Frontier Bali, I Wayan Sathya Tirtayasa yang mewakili massa aksi mengatakan, pemukulan kulkul bulus sebagai simbolik, bahwa keadaan demokrasi hari ini itu sifatnya amburadul dan demokrasi tidak baik-baik saja.

"Maka simboliknya dengan kulkul bulus, seperti bagaimana budaya Bali hari ini (memukul) kulkul bulus dengan
kencang dan simboliknya adanya kekacauan di negeri ini," kata Tirtayasa.

Ia juga menerangkan, terkait Grubug Agung yang diangkat dalam aksi saat ini ialah melihat situasi yang terjadi di negara ini dan juga di Pulau Dewata yang sedang tidak baik-baik saja.

"Adanya kekacauan besar, adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang sampai hari ini tidak pro kepada rakyat dan lingkungan. Itu yang menjadi simbolik dari kata grubug agung," ungkapnya.

"Kita bisa lihat, bagaimana rakyat-rakyat sendiri mendapat kesulitan di tengah situasi ekonomi hari ini. Ditambah kebijakan-kebijakan lingkungan, hari ini pemerintah tidak tegas kepada (oknum-oknum) yang merusak lingkungan," lanjut Wayan Sathya.

Pihaknya menegaskan, selama ada ketidakadilan kepada rakyat dan tidak langsung ditindak oleh para pemerintah tentunya pihaknya akan terus melawan dan terus bersuara.

"Kalau seandainya sampai hari ini, kondisi hari ini tidak kunjung baik-baik saja, dan tuntunan kami tidak kunjung dipenuhi. (Kami akan menggelar aksi kembali), kita menunggu apakah pemerintah mendengarkan aksi dari kita hari ini," ujarnya.

Dalam aksi hari ini, mereka menyatakan tiga pernyataan sikap:

1. Mendesak Gubernur Bali dan DPRD Bali Segera melakukan moratorium pariwisata di Bali untuk menghentikan krisis lahan dan krisis air bersih di Bali.

2. Mendesak Presiden RI dan DPR RI untuk menghentikan segala bentuk kriminalisasi dan aksi kekerasan terhadap pejuang HAM dan pejuang lingkungan (eco defender).

3. Mendesak Presiden RI dan DPR RI menjaga stabilitas ekonomi dan segera menstabilkan nilai rupiah dan menurunkan harga BBM nonsubsidi agar tidak memberikan dampak buruk terhadap ekonomi rakyat.

(kdf/kid)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK