Banjir Rob Rendam Pesisir Surabaya, Sekolah Terdampak

CNN Indonesia
Rabu, 15 Jul 2026 17:18 WIB
Banjir rob merendam pesisir Surabaya, termasuk SD Yayasan Karya Putra. Proses belajar terganggu. (CNN Indonesia/Farid Rahman)
Surabaya, CNN Indonesia --

Banjir rob dilaporkan merendam pesisir Surabaya, Rabu (15/7). Salah satunya kawasan Kalianak, Kecamatan Krembangan. Sebuah sekolah di kawasan itu bahkan terdampak sehingga mengganggu proses belajar mengajar.

Salah satu sekolah yang terdampak adalah SD Yayasan Karya Putra. Setiap kali air laut meluap dan menggenangi area sekolah, suasana belajar mengajar di sekolah tersebut berubah drastis dibanding hari biasa.

Saat berangkat menuju sekolah, ketinggian banjir yang dilalui mereka bisa mencapai 30-40 cm. Sementara di dalam kelas air yang menggenang bisa setinggi 10-15 cm. Mereka pun terpaksa melepas sepatu agar tak basah.

Yuli (44), seorang guru di SD Yayasan Karya Putra, mengatakan pihak sekolah selalu menyesuaikan metode belajar mengajar dengan kondisi lingkungan yang terendam banjir.

"Dua kelas mengalami dampak terparah dengan genangan setinggi mata kaki, namun kami tidak meliburkan siswa karena pembelajaran ini wajib dan bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)," ujar Yuli, Rabu (15/7).

Yuli menyebut banjir rob ini sudah rutin terjadi dua hingga tiga kali dalam sebulan sejak sekolah berdiri pada 1998. Meski sekolah telah berupaya melakukan perbaikan infrastruktur seadanya, kendala biaya membuat penanganan banjir belum maksimal.

"Saat rob datang, para siswa terbiasa memakai sendal, serta harus berangkat dan pulang sekolah dengan digendong oleh orang tua mereka," tambah Yuli.

Guru lain, Nanda (60), mengamati ketinggian air rob justru semakin meningkat setelah adanya proyek normalisasi Sungai Kalianak yang lokasinya hanya berjarak beberapa meter dari belakang sekolah.

"Kami khawatir karena merasa genangan air yang masuk ke sekolah semakin dalam setelah proyek normalisasi dikerjakan, sehingga kami sangat berharap ada pihak yang peduli dan membantu mengatasi kondisi ini," papar Nanda.

Sementara itu, warga Kalianak Timur, Hendro, membenarkan banjir rob telah mendera wilayah mereka selama 63 tahun terakhir, dengan ketinggian air yang bisa mencapai lebih dari 50 sentimeter.

"Warga kini hanya bisa pasrah memantau informasi pasang surut demi mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, baik itu terhadap aktivitas ekonomi dan pendidikan anak-anak kami," ujarnya.

Sementara itu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya menyebutkan, sejumlah wilayah pesisir Surabaya dilaporkan terendam banjir rob sejak 12 Juli dan diprediksi berlangsung hingga 17 Juli 2026.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Perak Surabaya, Sutarno, mengonfirmasi ketinggian air di Jalan Kalimas dan Kalianak telah menyentuh angka 15-29 sentimeter.

Akses jalan protokol hingga permukiman warga tergenang, termasuk Jalan Kalimas dan kawasan Kalianak, sehingga memicu kemacetan lalu lintas karena pengendara harus ekstra hati-hati melintasi genangan.

"Yang terdampak banjir rob kawasan Kalianak dan Jalan Kalimas Surabaya," kata Sutarno.

Sutarno mengatakan berdasarkan prediksi BMKG Maritim, banjir rob yang melanda wilayah pesisir Surabaya termasuk kawasan Jawa Timur lainnya akan berlangsung selama enam hari berturut-turut.

Ancaman banjir rob ini dipicu oleh siklus astronomi bulanan yang ekstrem, di mana posisi bumi, bulan, dan matahari berada dalam kondisi yang memicu pasang air laut maksimum.

"Pasang air laut maksimum yang terjadi saat ini merupakan siklus bulanan posisi bulan di mana saat ini fase bulan baru atau new moon," ucapnya.

BMKG mengimbau masyarakat di sepanjang garis pantai untuk meningkatkan kewaspadaan penuh terhadap kenaikan volume air laut, yang diprediksi bisa mencapai 120-160 sentimeter di atas permukaan laut (DPL).

"Kondisi ini berpotensi menyebabkan banjir rob di area pesisir dengan ketinggian 120 hingga 160 sentimeter dari rata-rata permukaan air laut atau DPL," ucapnya.

Sutarno memperkirakan puncak kenaikan air laut akan terjadi setiap harinya pada jendela waktu pagi hingga siang hari, tepatnya pukul 09.00 sampai 12.00 WIB.

Dampak banjir ini diprediksi mengganggu stabilitas aktivitas ekonomi dan mobilitas harian warga, terutama sektor transportasi maritim, aktivitas logistik, bongkar muat di pelabuhan, pariwisata, hingga pekerjaan nelayan tambak.

"Fenomena ini berdampak dengan munculnya genangan air setinggi 10 hingga 40 sentimeter di daratan yang dapat mengganggu transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, aktivitas petani garam dan perikanan, serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan," papar Sutarno.

Sutarno menambahkan, banjir rob ini juga bisa menimbulkan kerusakan fisik dan infrastruktur karena air asin merendam bangunan rumah, kendaraan, dan jalanan.

"Komponen logam pada kendaraan dan bangunan mengalami korosi akibat kandungan garam pada air laut," ucapnya.

Selain itu, genangan air kotor dari banjir rob berpotensi menimbulkan penyakit kulit, gatal-gatal, batuk, dan diare. Air bersih pun menjadi langka, dan dampaknya juga buruk bagi ekosistem lingkungan.

"Banjir rob mencemari sumber air tawar, mengakibatkan warga kesulitan mendapatkan air bersih. Abrasi yang semakin parah mengikis lahan pesisir dan dapat merusak ekosistem hutan mangrove," kata dia.

Menurut Sutarno, wilayah pesisir Surabaya dan sekitarnya menjadi titik perhatian serius karena cakupan dampaknya yang luas. BMKG memetakan sejumlah titik krusial di Surabaya yang masuk dalam zona merah kerentanan genangan banjir rob ini.

"Wilayah pesisir yang berpotensi terdampak meliputi pelabuhan, termasuk Surabaya Utara dan Benowo. Kemudian Surabaya Timur, termasuk wilayah Kenjeran dan Sukolilo. Selain itu, wilayah Surabaya Barat, termasuk daerah penyangga seperti Gresik, Lamongan, dan Tuban juga harus waspada," urai Sutarno.

Tidak hanya kawasan Surabaya, banjir rob ini juga diproyeksikan meluas ke berbagai daerah pesisir Jawa Timur lainnya. Berdasarkan perkiraan BMKG, wilayah terdampak mencakup pesisir selatan hingga wilayah Madura yang berbatasan langsung dengan Selat Madura.

"Potensi dampak ini juga meluas ke Banyuwangi, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo, Jember, Bangkalan Selatan, Kuanyar, Sampang, Sepanjang Selat Madura, hingga wilayah Kreseh yang berada di bagian barat Sampang," kata dia.

Untuk mengatasi dampak banjir rob berkepanjangan, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah penanganan kepada pemerintah.

"Untuk upaya penanganan yang pertama pembangunan tanggul, menyiapkan pompa air, melakukan perbaikan drainase dan yang terakhir adalah pelestarian mangrove," pungkasnya.

(frd/isn)


Saksikan Video di Bawah Ini:

VIDEO: Kena Rob, Uang Rp 1,5 M Rusak

KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK